Oleh Zulkarnaini Diran

شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ فَمَنۡ شَهِدَ مِنۡكُمُ الشَّهۡرَ فَلۡيَـصُمۡهُ
Artinya: Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. …. (QS Al-Baqarah, 2:185)
======================
Bulan Ramadan hanya ada sekali setahun. Bulan ini sangat bermakna bagi umat Islam. Kebermaknaan itu bukan karena dibuat-dibuat atau diada-adakan. Akan tetapi, hal itu didukung oleh dalil-dalil sahiah dari Alquran dan Hadis. Salah satu dari kebermaknaan bulan Ramadan itu adalah memiliki ”keutamaan”. Artinya, ada hal-hal khusus yang dimiliki oleh Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lain, sehingga dia memiliki keutamaan.
Sungguh banyak keutamaan yang dimiliki bulan Ramdan. Tentu hal itu akan ditemukan jika diindetifikasi dan diinventarisasi secara teliti. Di antaranya ada sebelas keutamaan bulan suci ini yaitu: (1) bulan diturunkan Al-Quran; (2) bulan yang diwajibkan puasa; (3) bulan yang penuh berkah; (4) bulan yang saat itu pintu surga dibuka; (5) bulan yang saat itu pintu neraka ditutup; (7) bulan yang saat itu syetan dibelenggu; (6) bulan yang di dalamnya terdapat lailatul Qadar; (8) bulan untuk penghapus dosa; (9) bulan penghapus dosa masa lalu; (10) bulan yang doa-doa mustajab; dan (11) bulan yang merupakan pembebasan dari api neraka.
Untuk pembahasan ini, diambil keutamaan pertama, yakni bulan diturunkan Al-Quran. Pada bulan ini ayat Al-Quran yang pertama diturunkan. Itulah awal kenabian Muhammad SAW. Beliau menerima wahyu pertama dari Allah SWT melalui Jibril di Gua Hira’. Ayat pertama itu sangat dikenal oleh umat Islam, yakni perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk ”membaca”, termaktub di dalam QS Al-Alaq, 1 – 5. Menurut al-Mubarakfuri, 2001:79, saat menerima wahyu pertama itu Muhammad SAW berusia 40 tahun, 6 bulan, 12 hari menurut kalender Hijriyah dan sekitar 39 tahun, 3 bulan, 20 hari menurut kalender Masehi. Menurut kitab Ar-Rahiq al-Makhtum karya Syaikh Shafiyyurrahman, 2001, peristiwa itu terjadi pada Senin, 21 Ramdhan, pada malam hari bertepatan dengan 10 Agustus 610 Masehi.
Menurut Syaikh Manna’ Al-Qatthan dalam Kitab Mabahits fi ulumil Qur’an, ”Al-Qur’an adalah Kalam Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW dan membacanya merupakan bentuk ibadah”. Kalam Allah ini diterima oleh Nabi Muhammad SAW melalui jibril. Al-Qur’an itu adalah petunjuk bagi manusia. Jika demikian, Al-Qur’an bagi manusia, bagi umat muslim, bagi mukmin adalah ”ladang ibadah” dan ”pedoman” dalam menjalani kehidupan. Bisa jadi, karena Al-qur’an diturunkan pada bulan Ramdhan, itulah sebabnya bulan ini lebih baik dari seribu bulan dan menjadi bulan yang mulia dibandingkan dengan bulan-bulan lain.
Momen kehadiran bulan Ramdhan tahun ini seyogyanya dijadikan motivasi untuk memanfaatkan ”keutamaan” Ramadhan. Terutama keutamaan bahwa bulan ini diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Artinya, kita berupaya menyediakan waktu untuk beribadah dengan membaca Al-Qur’an dan mendapatkan petunjuk darinya. Untuk itu ada tiga hal pokok yang mungkin dapat dilakukan. Ketiga hal itu adalah membaca Al-Quran dan artinya, membaca dan memahami tafsirnya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Mengamalkan dalam kehidupan sehari-hari dapat dilatihkan selama bulan Ramdan, sehingga pada bulan-bulan berikutnya akan menjadi kebiasaan.
Allah SWT berfirman,
وَمَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَالۡاِنۡسَ اِلَّا لِيَعۡبُدُوۡنِ
Artinya: ”Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Az-Zariyat, 51: 56) Ayat ini amat luas dan dalam maknanya. Ini menyangkut dengan “alasan” Allah menciptakan jin dan manusia. Ya, alasan Allah menciptakan kita manusia. Hanya ada satu alasan, yakni untuk ”beribadah” kepada-Nya. Hanya untuk beribadah kepada Allah, hanya untuk itulah kita ada dan kita berada di bumi Allah ini. Ini petunjuk dan panduan jelas, terang-benderang, dan tercantum di dalam Al-Quran.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “Ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.” Menurut istilah, ibadah adalah segala perbuatan atau tindakan yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah menurut para ulama dapat dibedakan atas dua bagian. Kedua bagian itu adalah ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah. Ibadah mahdah ialah ibadah yang segala ketentuannya telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya secara khusus. Ibadah itu meliputi salat, puasa, zakat, dan haji. Ibadah ini ditentukan dengan syarat, rukun, wajib, dan sunnahnya. Segala ketentuannya ditetapkan di dalam kitab fiqih ibadah yang berlandaskan kepada Al-Qur’an dan Hadis.
Sementara itu, ibadah ghairu mahdhah diartikan sebagai segala perbuatan yang mendatangkan kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain dan tidak bertentangan dengan petujnjuk Allah dan Rasul-Nya, serta dilaksanakan dengan niat ikhlas karena Allah SWT. Ibadah ini menyangkut dengan segala perbuatan kita sehari-hari. Apa saja yang dilakukan yang mendatangkan kebaikan kepada diri sendiri dan orang lain dan diniatkan karena Allah semata, semua menjadi ibadah ghairu mahdah. Kata kuncinya adalah perbuatan baik, bermanfaat, tidak menyalahi Allah dan Rasul, dilaksanakan semata-mata karena Allah. Jika kita aplikasi keempat kata kunci itu, semua perbuatan kita adalah ibadah ghairu mahdah.
Jika direnungkan lebih dalam, akan muncul kesadaran kita. Al-Qur’an memberikan petunjuk, panduan, bimbingan kepada kita. Jika petunjuk itu diikuti, insya-Allah kita akan selamat hidup di dunia dan selamat sampai ke akhirat. Untuk mendapatkan petunjuk itu, upayanya adalah membaca bahasa Arabnya, membaca artinya, membaca dan memahami tafsirnya, serta mengamalkannya. Hal itu sangat tepat dilakukan pada bulan suci ini, pada bulan Ramadan ini. Artinnya kita sediakan waktu lebih banyak untuk memahami Al-Qur’an dan berlatih mengamalkannya secara bertahap pada bulan yang penuh berkah ini. Insya-Allah pada bulan-bulan sesudah Ramadan tahun ini, perilaku itu menjadi kebiasaan kita. Dengan demikian momen Ramadan tahun ini menjadi ajang bagi kita untuk ”menikmati keutamaan bulan Ramadhan”, yaitu turunnya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Insya-Allah.
Semoga tulisan dan ceramah ini bermanfaat!
Zulkarnini Diran HP 0811665077, blog:https//:zulkarnaini.my.id; facebook: Zulkarnaini Mamak
Padang, 27 Februari 2025