UKHUWAH

Oleh Zulkarnaini Diran

Ada tiga bentuk ukhuwah atau persaudaraan dalam kehidupan manusia. Ketiga bentuk itu adalah ukhuwah islamiyah, ukhuwah watoniyah, dan ukhuwah insaniyah. Tuisan sederhana ini berbicara tentang ketiga bentuk ukhuwah atau persaudaraan itu. Pembahasannya dilakukan dalam perpesktif Islam. Tentu saja pembahasannya dilengkapi dengan dalil yang sahiah bersumber dari Al-Quran dan Sunnah.

Ukhuwah Islamiyah adalah ikatan persaudaraan yang tumbuh berdasarkan kesamaan keyakinan dan akidah. Ini adalah level persaudaraan yang sangat kuat karena diikat oleh tali spiritual yang melampaui batas-batas fisik. Ukhuwah ini merambah dan melampaui batas-batas suku, ras, kwbangsaan, warna kulit, dan sebagainya. Ikatannya adalah akhidah, iman yang dimiliki para pengikutnya.

Secara Teologis (Al-Qur’an & Hadis), landasan utamanya adalah Surah Al-Hujurat ayat 10: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu…” Rasulullah SAW juga mempertegas dalam sebuah hadis bahwa hubungan antar mukmin itu ibarat satu bangunan yang saling menguatkan, atau satu tubuh; jika satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya.

Ditinjau dari sisi Psikologi, ukhuwah islamiyah memberikan rasa aman (sense of security) dan perasaan memiliki (sense of belonging). Manusia secara alami mencari kelompok yang memiliki nilai moral yang sama. Ketika seseorang merasa menjadi bagian dari umat yang besar, tingkat kecemasan sosialnya cenderung menurun karena ia merasa didukung oleh sistem dukungan sosial yang tulus (ikhlas).

Secara Sosiologi, ukhuwah ini menciptakan integrasi sosial yang solid. Dalam sosiologi agama, ikatan ini disebut sebagai “lem sosial” yang mampu menyatukan orang-orang dari berbagai latar belakang ekonomi dan pendidikan untuk bekerja sama demi tujuan yang suci.

Ukhuwah Watoniyah adalah persaudaraan yang tumbuh karena rasa cinta tanah air dan komitmen sebagai warga negara yang tinggal di wilayah yang sama. Ini adalah semangat untuk hidup rukun meskipun memiliki perbedaan suku, agama, dan budaya dalam satu bingkai negara.

Landasan Al-Qur’an yang sering dikaitkan dengan hal ini adalah penggalan Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang penciptaan manusia yang berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal (li ta’arafu). Secara Hadis, kecintaan Rasulullah SAW terhadap tanah kelahirannya, Makkah, dan dedikasi beliau membangun Madinah melalui “Piagam Madinah” menunjukkan betapa pentingnya menjaga harmoni antarwarga negara.

Secara Psikologi, ukhuwah watoniyah berkaitan dengan identitas sosial. Individu yang memiliki kebanggaan terhadap negaranya cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih stabil karena merasa memiliki akar sejarah yang jelas. Ini menciptakan “kolektif ego” yang positif untuk menjaga kedaulatan bersama.

Dalam perspektif Sosiologi, ini disebut sebagai solidaritas organik atau kontrak sosial. Sosiologi menekankan bahwa stabilitas sebuah negara sangat bergantung pada kemampuan warganya untuk bertoleransi dan bekerja sama dalam ruang publik demi kepentingan umum (common good), tanpa memandang perbedaan primordial.

Ukhuwah Insaniyah (sering disebut juga ukhuwah basyariyah) adalah persaudaraan yang bersifat universal. Ini adalah kesadaran bahwa kita semua adalah keturunan dari akar yang sama, yakni Nabi Adam AS, dan berbagi rumah yang sama, yaitu planet Bumi.

Landasan Al-Qur’an untuk hal ini sangat kuat dalam Surah Al-Isra ayat 70: “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam…” Ayat ini menunjukkan bahwa kemuliaan diberikan Allah SWT kepada seluruh manusia tanpa kecuali. Secara Hadis, Rasulullah mengajarkan bahwa “sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” bukan hanya bagi kelompoknya sendiri.

Dari sudut pandang Psikologi, ukhuwah ini memupuk empati universal. Psikologi humanistik menekankan pentingnya melihat manusia sebagai individu yang utuh dengan hak-hak dasar yang sama. Ketika kita mampu merasakan penderitaan orang lain di belahan dunia lain, itu adalah bukti kematangan emosional dan aktualisasi diri.

Secara Sosiologi, ukhuwah insaniyah adalah dasar dari hak asasi manusia dan perdamaian global. Dalam dunia yang semakin terhubung (globalisasi), sosiologi memandang persaudaraan ini sebagai kunci untuk mengatasi konflik internasional, rasisme, dan xenofobia (kenencian terhadap orang asing yang berbeda budaya) demi keberlangsungan peradaban manusia di masa depan.

Ketiga bentuk ukhuwah ini tidaklah saling bertentangan, melainkan berlapis. Seseorang bisa menjadi Muslim yang taat (Islamiyah), sekaligus warga negara yang patriotik (Watoniyah), dan pada saat yang sama menjadi pelindung bagi hak-hak kemanusiaan secara global (Insaniyah). Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Padang, 4 April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *