Tulisan Terbaru
TIGA PILAR PROFESI GURU (catatan pada hari guru)
Oleh Zulkarnaini Diran Ada tiga pilar penopang profesi guru. Ketiga pilar itu adalah yuridis, teoretis, dan empiris. Profesi guru berada di atas pilar-pilar itu. Jika salah satu dari ketiga pilar itu absen, berakibat fatal kepada guru dan profesinya. Pilar yurids adalah payung hukum menjamin hak dan kewajiban seorang guru. Pilar….
Lanjutkan Membaca...RESIKO MENJADI GURU KREATIF (catatan pada hari guru)
Oleh Zulkarnaini Diran Guru kreatif berada di zona tidak aman, guru apatis bersinggasana di zona aman. Tulisan ini bukan untuk mempertentangkan anatara dua kutub perilaku guru, bukan sama sekali. Ini hanya deskripsi tentang hal-hal ril yang dihadapi guru kreatif. Tulisan dilengkapi dengan pengalaman nyata seorang guru. Guru itu adalah saya….
Lanjutkan Membaca...GURU KREATIF DAN GURU ZONA AMAN
Oleh Zulkarnaini Diran Banyak tipe guru yang dapat diamati. Apatah lagi kalau diamati dan didekati secara ilmiah. Tentu, identifikasi itu akan melahirkan banyak wajah, banyak gambaran, dan banyak versi guru yang dapat diaktualisasikan. Saya melihat guru dalam dua wilayah atau kutub. Ada ”guru kreatif’ dan ada guru apatis atau ”guru….
Lanjutkan Membaca...TAHAPAN TERKABULNYA DOA
Oleh Zulkarnaini Diran Menurut para ulama ada tiga tahapan dalam berdoa. Tiga tahap itu adalah doa naik ke langit, doa sampai kepada Allah, dan doa direspon (dikabulkan, ditunda, atau ditolak oleh Allah di dunia, dibalas di akhirat). Allah SWT memberikan janji yang pasti kepada hamba-Nya. Setiap doa akan didengar dan….
Lanjutkan Membaca...RESIKO MENAFSIRKAN
Oleh: Zulkarnaini Diran Kita adalah penafsir. Kita memiliki potensi dan otoritas untuk itu. Berinteraksi dengan subjek, kita merespon. Respon kita tidak langsung memutuskan pendapat tentang itu, tetapi menafsirkannya terlebih dahulu. Hasil penafsiran itu bermuara kepada pengambilan keputusan atau eksekusi. Keputusannya dapat berbentuk ujaran atau tulisan dan dapat pula berupa tindakan…..
Lanjutkan Membaca...BANGGA MENJADI ORANG MAHAT, ”SAYUR DARI PASA IBUAH”
Oleh Zulkarnaini Diran Delapan tahun yang lalu saya dan istri agak lama di kampung kelahiran. Kami dan anak-anak sepakat untuk membuat pondok di bekas perumahan orang tua saya. Kakak, kemenakan, dan cucu di kampung menyetujui hal itu. Anak-anak pun menyepakati. Pondok itu dimaksudkan untuk tempat berlibur sesekali. Ketika membenahi pondok….
Lanjutkan Membaca...BANGGA MENJADI ORANG MAHAT, KOLABORASI RANTAU DAN KAMPUNG “BERBUAH MANIS”
Oleh Zulkarnaini Diran “Sayang jo kampuang ditingga-tinggakan (Sayang dengan kampung ditiggal-tinggalkan)” itu ungkapan kelasik yang pernah saya dengar. Begitulah yang saya lakukan (dengan terpaksa?). Tamat kelas enam SR/SD saya merantau ke Kototinggi (sekarang ibukota Kecamatan Gunuang Omeh) untuk masuk ke SMP. Rantaunya dekat, lebih kurang 25 km dari kampung. Tamat….
Lanjutkan Membaca...MENGATAKAN, TIDAK MELAKUKAN
Oleh Zulkarnaini Diran Seorang mubalig atau penceramah memikul amanah yang sangat besar. Dia menyampaikan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya. Seorang da’i hanya pandai berkata-kata di mimbar tanpa mengaplikasikannya dalam kehidupan pribadi, dia bukan hanya gagal dalam menjalankan kewajibannya, tetapi juga menempatkan dirinya dalam bahaya besar. Resiko yang paling fatal adalah….
Lanjutkan Membaca...LANGKAH MENUJU KEMULIAAN
Oleh Zulkarnaini Diran Ada empat Langkah menuju kemuliaan yang dijanjikan di dalam Islam. Keempat Langkah itu adalah melangkah ke Masjid, melangkah menengok saudara yang sakit, melangkah ke majelis ilmu, dan melangkah ke majelis zikir. Langkah-langkah itu bukan hanya dianjurkan oleh Islam, tetapi dijanjikan balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT…..
Lanjutkan Membaca...