MEBMUDAYAKAN SALAM

Oleh Zulkarnaini Diran

oplus_3

Saya duduk sambil membaca Al-Quran di lantai dua Masjidil Haram. Saat saya jedah sesaat duduk di samping saya seseorang berjenggot lebat dan berhidung mancung. Saya duga orang ini adalah berkebangsaan Arab dan sekitarnya. Saya mengulurkan tangan kepadanya untuk bersalaman. Dia tidak bergeming, malah ada kecendrungan uluran tangan saya ditepisnya. Uluran tangan itu kemudian saya iringi dengan ucapan Assalamaulaikum. Barulah dia mengulurkan tangan dan membalas salam saya dengan akrab. Kami terlibat dalam pembicaraan berdasarkan “ukhuwah islamiah”.

Pengalaman itu saya catat dan saya renungkan. Simpulan saya sementara, uluran tangan untuk bersalaman tanpa diiringi ucapan salam, di kalangan tertentu ternyata tidak berterima. Pesannya,  setiap kita ingin menyalami saudara seiman, iringilah dengan ucapan yang ditentukan oleh ajaran Islam. Pengalaman saya tahun 2016 itu saya jadikan pelajaran, kemudian saya biasakan dalam keseharian. Sampai kini, setiap berjumpa dan bersalaman dengan saudara seiman selalu saya ucapkan salam “Assalamulaikum.”

Dari Abdullah bi Amr bin Ash, ada seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bagaimanakah Islam yang baik itu?” Beliau menjawab, “Yaitu kamu memberi makanan, serta mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan orang yang belum kamu kenal.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadi ini menegaskan tentang indikator “Islam yang baik”, satu di antaranya adalah mengucapkan salam kepada orang yang dinkenal dan tidak dikenal. Tentu, untuk menjadi “penganut” Islam yang baik, ucapan salam haruslah kita biasakan dan dibudayakan di kalangan muslim.

Dari Ubadah Al-Barra’ bin Azib ra, ia berkata, “Rasulullah SAW menyuruh kami untuk mengerjakan tujuh perbuatan, yaitu menjenguk orang sakit, mengiringkan jenazah, mendoakan orang yang bersin, menolong orang yang lemah, membantu orang yang teraniaya, menyebarluaskan salam, dan menepati sumpah.” (HR Bukhari dan Muslim). Hadis ini merupakan perintah dari Rasulullah SAW kepada umatnya, “menyebarluaskan salam”. Itu bisa jadi menggandung makna bahwa salam hendaklah menjadi “kebiasaan dan budaya melekat” pada setiap umat Muhammad SAW.

Konsep salam dalam Islam berakar dari salah satu Asmaul Husna (nama Allah yang baik), yaitu As-Salam, yang berarti Maha Sejahtera atau Maha Memberi Keselamatan. Ketika seorang Muslim mengucapkan salam, ia sebenarnya sedang menghubungkan dirinya dan orang lain dengan sifat Allah tersebut. Salam merupakan doa sekaligus janji untuk saling menjaga keamanan dan kehormatan sesama manusia.

Dalam Islam, salam dipandang sebagai instrumen utama untuk menyebarkan kasih sayang. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, memberi makan dan menyebarkan salam adalah dua pilar utama untuk membangun masyarakat yang harmonis. Secara konseptual, salam menghilangkan sekat-sekat sosial karena diperintahkan untuk diucapkan baik kepada orang yang kita kenal maupun yang asing bagi kita.

Secara bahasa, Assalamu’alaikum berarti “semoga keselamatan/kesejahteraan tercurah atasmu.” Namun, maknanya lebih luas dari sekadar selamat fisik. Kata Salam mencakup keselamatan dari segala mara bahaya, kedamaian hati, dan perlindungan dari segala kekurangan. Dengan mengucapkan salam, seseorang secara implisit berkata, “Kamu aman dariku; tangan dan lisanku tidak akan menyakitimu.”

Secara teologis, salam adalah doa yang mengandung tiga elemen penting: Keselamatan (Salam), Rahmat Allah (Rahmatullah), dan Keberkahan (Barakatuh). Ini adalah bentuk komunikasi tingkat tinggi yang tidak hanya mengejar kepuasan duniawi, tetapi juga mengharapkan rida Ilahi bagi lawan bicara. Hal ini selaras dengan firman Allah SWT, “Apabila kamu dihormati dengan suatu salam penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa…” (QS. An-Nisa: 86)

Hukum mengucapkan salam pada asalnya adalah Sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Rasulullah SAW tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyapa umatnya. Namun, jika dalam sebuah kelompok sudah ada satu orang yang mengucapkan salam, maka kewajiban sunnah tersebut sudah terpenuhi bagi seluruh kelompok (Sunnah Kifayah).

Sebaliknya, hukum menjawab salam adalah Wajib (Fardu Ain) jika seseorang diberi salam secara individu. Jika salam diberikan kepada orang banyak, maka hukumnya menjadi Fardu Kifayah, yang berarti jika salah satu sudah menjawab, maka gugurlah kewajiban bagi yang lain. Mengabaikan salam tanpa alasan yang syar’i dianggap sebagai tindakan yang kurang terpuji dan memutus tali silaturahmi.

Untuk menjadikan salam sebagai budaya yang melekat sebagaimana yang disinggung dalam hadis Al-Barra’ bin Azib, kita memerlukan langkah-langkah praktis. Pertama, memulai dari diri sendiri. Jangan menunggu orang lain memulai, karena orang yang memulai salam adalah orang yang paling utama di sisi Allah dan jauh dari sifat sombong. Kedua, menanamkan kesadaran kepada generasi muda. Orang tua dan pendidik harus membiasakan anak-anak untuk mengucap salam saat masuk rumah, sekolah, atau bertemu teman. Ketiga, menghilangkan rasa canggung terhadap orang asing. Hadis riwayat Bukhari menekankan pentingnya salam kepada orang yang tidak dikenal untuk memecah dinding kecurigaan dalam masyarakat.

Secara psikologis, budaya salam dapat menciptakan energi positif dalam lingkungan kerja maupun bertetangga. Salam yang diucapkan dengan tulus disertai senyuman akan meruntuhkan kebencian dan menumbuhkan rasa persaudaraan (ukhuwah). Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang jika kalian kerjakan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim)

Menjadikan salam sebagai budaya berarti kita sedang membangun peradaban yang berbasis pada doa dan keamanan. Jika setiap Muslim konsisten menjalankan perintah Rasulullah dalam kedua hadis tersebut, maka konflik sosial dapat diminimalisir karena setiap pertemuan diawali dengan doa keselamatan, bukan dengan prasangka. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 2 April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *