ADAB, IMAN, ILMU, AMAL, DAN IKHLAS

Oleh Zulkarnaini Diran

Akhir-akhir ini kita saksikan berbagai fenomena negatif yang berhubungan dengan adab atau akhlak. Orang tua murid menyerang guru, murid-murid mengeroyok guru, sesama menteri saling menyindir dan berkata kasar, sesama politisi saling menghina, dan sesama ulama saling “memarjinalkan”. Hal itu bagaikan pemandangan dan pendengaran biasa di negeri ini. Bahkan kadang-kadang hal itu bagaikan ”kepribadian” yang melekat pada anak bangsa. Fenomena ini bagaikan “gunugn es” yang secara bertahap mencair dan meleleh sehingga “merambah” anak bangsa di bumi persada ini.

Ada lima hal penting yang sangat menetukan untuk kepribadian muslim. Kelima hal itu adalah iman, ilmu, amal, ikhlas, dan adab (akhlak). Kelima hal itu seyogyanya bersinergi secara berimbang sehingga memunculkan kepribadian yang baik, mulia, dan bermartabat. Mensinergikan kelima hal itu di dalam satu diri atau individu, perlu ”kesadaran yang mendalam” dari setiap indvidu, komunitas, korp, dan sebagainya. Denga mensinergikan secara seimbang dan dilakukan dengan kesadaran mendalam, insyaallah fenomena negatif yang mengemuka dan menonjol saat ini,  dapat dikurangi atau diminimalkan.

Segala sesuatu bermula dari iman. Dalam struktur kepribadian Muslim, iman adalah akar yang menghujam ke dalam tanah hati. Tanpa iman, amal dan ilmu setinggi apa pun akan kehilangan orientasi transendentalnya. Iman memberikan alasan “mengapa” kita harus berbuat baik. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa kualitas iman seseorang langsung berkorelasi dengan output lisan dan perilakunya.

Jika iman adalah mesin, maka ilmu adalah kompasnya. Iman tanpa ilmu akan terjebak dalam fanatisme buta atau praktik yang salah. Ilmu berfungsi menerangi jalan agar iman dapat diwujudkan dalam amal yang benar. Allah SWT berjanji akan mengangkat derajat mereka yang beriman dan berilmu dalam QS. Al-Mujadilah [58]: 11: “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” Ilmu inilah yang seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana, bukan justru menjadikannya sombong atau gemar menghina sesama.

Amal adalah manifestasi konkret dari apa yang ada di dalam hati (iman) dan apa yang dipahami oleh akal (ilmu). Dalam Al-Qur’an, kata “beriman” hampir selalu digandengan dengan “beramal saleh” (amillush-shalihat). Hal ini menunjukkan bahwa iman yang pasif bukanlah iman yang produktif. Seseorang yang memiliki ilmu tentang cara menghormati guru, namun justru mengeroyok gurunya, berarti ilmunya belum menjadi amal yang nyata. Amal adalah pembuktian bahwa ilmu tidak sekadar berhenti di kepala, melainkan mengalir ke tangan dan kaki.

Seringkali seseorang beramal atau menuntut ilmu, namun tujuannya adalah pujian atau kepentingan politik sesaat. Di sinilah ikhlas berperan sebagai ruh. Tanpa ikhlas, amal sebesar apa pun akan “mati” secara spiritual. Allah berfirman dalam QS. Al-Bayyinah [98]: 5: “Padahal mereka hanya diperintah  menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama yang lurus…” Sifat saling menyindir atau menghina antarpejabat seringkali muncul karena hilangnya keikhlasan dalam berkhidmat, digantikan oleh ego dan syahwat kekuasaan.

Adab atau akhlak adalah buah yang paling tampak dari pohon kepribadian seseorang. Jika iman, ilmu, amal, dan ikhlas telah menyatu, maka hasilnya adalah adab yang luhur. Para ulama terdahulu sering berkata, “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.” Mengapa? Karena ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan intelektual. Adab adalah cara kita memperlakukan kebenaran dan sesama makhluk. Rasulullah SAW menegaskan misi utamanya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak.” (HR. Ahmad, Bukhari).

Korelasi kelima hal ini bersifat sistemik. Iman memotivasi pencarian ilmu. Ilmu mengarahkan amal. Ikhlas memurnikan amal. Dan adab membungkus semuanya dalam keindahan perilaku. Jika salah satu unsur ini hilang, maka timpanglah kepribadian seseorang. Fenomena “gunung es” yang  sterjadi itu adalah karena banyak orang mengejar ilmu (gelar akademis) namun mengabaikan adab, atau mengaku beriman namun melakukan amal yang jauh dari nilai-nilai ikhlas.

Dalam konteks serangan murid terhadap guru, terlihat jelas adanya missing link pada aspek adab. Seseorang bisa saja memiliki nilai akademik yang tinggi (ilmu), namun tanpa adab, ia tidak mampu menghargai wasilah (perantara) datangnya ilmu tersebut. Adablah yang membuat ilmu menjadi berkah. Tanpa adab, ilmu hanya akan menjadi senjata untuk melukai orang lain, sebagaimana fenomena politisi yang saling menghina, para menteri saling menyindir, pejabat saling merendahkan, dan ulama saling memarjinalkan. Hal itu ”menular” kepada masyarakat dan orang biasa.

Seharusnya, semakin tinggi ilmu seseorang, semakin tinggi pula rasa takutnya kepada Allah (khasyyah), yang kemudian melahirkan kelembutan dalam bersikap. Allah berfirman: “…. Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama (orang-orang berilmu)…” (QS. Fatir [35]: 28). Jika sesama ulama saling memarjinalkan, patut dipertanyakan apakah ilmu tersebut sudah meresap menjadi iman dan ikhlas, ataukah baru sebatas wawasan kognitif saja.

Untuk mengatasi fenomena negatif yang merambah anak bangsa, kita perlu kembali memposisikan ”adab di atas ilmu. Pendidikan kita tidak boleh hanya berfokus pada transfer informasi (transfer of knowledge), tetapi harus pada penanaman nilai (transfer of values). Kesadaran mendalam yang dimaksud harus dimulai dari restrukturisasi hati (ikhlas) dan pembersihan niat dalam setiap interaksi sosial, baik di dunia nyata maupun di media sosial.

Jadi,  kelima elemen ini adalah satu kesatuan organik. Kepribadian muslim yang bermartabat hanya bisa terwujud jika iman menjadi landasan, ilmu menjadi lentera, amal menjadi bukti, ikhlas menjadi nyawa, dan adab menjadi pakaian sehari-hari. Dengan menyinergikan kelima hal ini secara seimbang, ketegangan sosial dapat diredam, dan harmoni dalam berbangsa serta bernegara dapat kembali dirasakan. Insyaallah. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat!

Padang, 16 Januari 2026

2 comments

  1. Mantap, hanya kita belum punya sistem pembelajaran yang mengevaluasi kelima komponen tersebut. Tapi pemikiran ini dapat dirasakan oleh orang secara pribadi. Bagaimanapun, ini merupakan penelusuran pemikiran yang brillian dan pak Zul Mamak telah mengungkapkannya secara mengagumkan. Terima kasih.

    1. Makasi, Pak As’ad telah merespon tulisan sederhana ini. Sebenarnya akan lebih cantik jika kita yang “berpikir tentang pendidikan” ini memiliki forum untuk berdiskusi. Forum itu bisa luring dan bisa daring. Makasai, Pak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *