Oleh Zulkarnaini Diran

Alasan Allah SWT menciptakan jin manusia hanya untuk mengabdi kepada-Nya (QS Azariyat [51]:56). Pengabdian kepada Yang Maha Kuasa itu diwujudkan dalam bentuk ibadah. Kongretisasi dari ibadah itu adalah melakukan kebaikan berdasarkan petunjuk Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW. Para ulama membaginya menjadi dua jenis ibadah yakni ibadah mahdah dan ibadah ghairu mahdah. Ibadah mahdah merupakan ibadah ritual seorang hamba kepada Sang Khalik. Wujudnya adalah salat, zakat, puasa, dan berhaji.
Ibadah ghairu mahdah merupakan kebaikan yang dilakukan manusia yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, diniatkan karena Allah SWT dan tidak menyelisihi ketentuan Allah dan Rasullulah SAW. Intinya, kedua ibadah itu (mahdah dan ghairu mahdah) adalah melakukan kebaikan atau amal saleh sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan Rasulnya Muhammad SAW.
Allah SWT berfirman, “Dan apa saja kebaikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya” (QS Al-Baqarah [2]:215). “Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuianya” (QS Al-Baqarah [2]: 197). “Barangsiapa melakukan amal saleh, maka itu adalah untuk dirinya sendiri” (QS Al-Jatsiyah [45]:15). Sungguh sangat banyak ayat Al-Quran yang membicarakan tentang kebaikan. Jika ditilik secara konprehensif, ayat-ayat itu menyuruh atau memerintahkan untuk melakukan kebaikan dan mengabarkan imbalan yang akan diterima atas kebaikan itu.
Setiap hari kita dapat melakukan kebaikan, mulai dari kebaikan kecil sampai dengan kebaikan besar. Kebaikan sangat kecil sekalipun menurut pikiran dan perasaan manusia, tetapi Allah SWT menilainya sangat berarti. Rasulullah SAW bersabda, “Jangan sekali-kali kamu meremehkan kebaikan, walaupun hanya menemui saudaramu (sesama muslim) dengan wajah yang ramah.” (HR Muslim). “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarahpun, niscaya dia akan melihat (balasannya)-nya” (QS Al-Zalzalah [99]:7).
Keseharian seorang hamba seyaogyanya dipenuhi oleh kebaikan. Kebaikan itu ditujukan untuk dirinya dan untuk hamba-hamba yang lain. Setiap kebaikan diawali dengan niat dan ikhlas karena Allah. Pelaksanaannya harus sesuai dengan perutnjuk Allah dan Rasul-Nya. Setiap kebaikan yang dilakukan benar-benar berpedoman kepada Al-Quran dan Sunnah. Tidak menyelisihi ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul.
Konsep kebaikan dalam Islam, atau yang sering disebut sebagai al-khair atau al-birr, bukan sekadar tindakan moralitas biasa, melainkan manifestasi dari keimanan seorang hamba. Kebaikan adalah segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir dari ketulusan hati. Islam memandang bahwa kebaikan tidak memiliki batas ukuran; sekecil apa pun itu, ia memiliki bobot di timbangan akhirat kelak.
Bentuk kebaikan yang paling mendasar dimulai dari diri sendiri. Hal ini mencakup menjaga kesucian jiwa (tazkiyatun nafs), menuntut ilmu, dan menjaga kesehatan tubuh sebagai amanah dari Sang Pencipta. Beribadah dengan tekun, menjauhi maksiat, dan senantiasa berzikir adalah bentuk kebaikan untuk diri sendiri karena efeknya langsung kembali kepada ketenangan batin pelaku. Allah SWT menegaskan prinsip ini dalam Al-Quran, “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri…” (QS. Al-Isra [17]: 7).
Selanjutnya, kebaikan harus meluap keluar menyentuh orang lain. Bentuknya sangat beragam, mulai dari memberikan senyuman, tutur kata yang santun, membantu beban hidup sesama, hingga memberikan sedekah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW menekankan bahwa standar kemuliaan seseorang diukur dari kebermanfaatannya: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Kebaikan sosial ini membangun ikatan kasih sayang yang menguatkan struktur masyarakat.
Agar sebuah kebaikan bernilai ibadah di sisi Allah, terdapat dua ketentuan utama yang harus dipenuhi. Pertama adalah Ikhlas, yakni niat yang murni hanya mengharap ridha Allah, bukan karena ingin dipuji (riya). Kedua adalah Ittiba‘, yaitu cara pelaksanaannya harus sesuai dengan petunjuk Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Kebaikan yang dilakukan dengan cara yang salah (melanggar syariat) tidak akan mendapatkan kesempurnaan pahala di sisi-Nya.
Perintah untuk senantiasa dalam koridor kebaikan tersebar luas dalam wahyu Allah. Salah satunya adalah firman Allah SWT, “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195). Ayat ini menjadi dasar bahwa Ihsan (berbuat baik/profesional dalam kebaikan) adalah kualitas yang sangat dicintai oleh Allah, sehingga seorang mukmin seharusnya berlomba-lomba dalam mengerjakannya (fastabiqul khairat).
Imbalan yang dijanjikan Allah bagi pelaku kebaikan dimulai sejak di dunia. Allah menjanjikan Hayatan Tayyibah atau kehidupan yang baik, penuh ketenangan, dan kecukupan hati bagi mereka yang beramal saleh. Kebaikan seringkali menjadi “perisai” yang menghindarkan seseorang dari musibah dan memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan hidup yang ia hadapi.
Puncak dari segala imbalan adalah janji Allah berupa surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap butir kebaikan akan dikalikan lipat pahalanya. Allah berfirman, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60). Hal ini menunjukkan bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya, dan balasan di akhirat jauh lebih indah serta kekal dibanding apa yang dikorbankan manusia di dunia.
Dalam perspektif Islam, berbuat baik adalah investasi yang paling menguntungkan. Melalui konsep amal jariyah, kebaikan yang kita lakukan bahkan bisa terus mengalirkan pahala meskipun kita telah tiada. Misalnya, ilmu yang bermanfaat atau sedekah yang terus dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Inilah kecerdasan spiritual seorang hamba: melakukan kebaikan yang dampaknya menembus batas usia dunia.
Sesuai dengan pesan Rasulullah SAW yang dikutip di atas, seorang hamba dilarang meremehkan kebaikan sekecil apa pun. Sebuah langkah menuju masjid, menyingkirkan duri di jalan, atau memberi minum seekor hewan bisa menjadi sebab turunnya ampunan Allah. Ketulusan dalam hal kecil seringkali lebih berharga di mata Allah daripada perbuatan besar yang dicampuri rasa sombong.
Sebagai penutup, kebaikan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara konsisten (istiqamah) meskipun sedikit. Menjadikan kebaikan sebagai gaya hidup—mulai dari niat bangun tidur hingga kembali tidur—adalah cara seorang hamba untuk benar-benar menghamba kepada Allah SWT. Dengan berpedoman pada Al-Quran dan Sunnah, setiap detak jantung dan gerak langkah kita dapat bernilai pahala yang akan kita tuai hasilnya di pengadilan Allah kelak. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Padang, 6 April 2026