Oleh Zulkarnaini Diran

“Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS Al-Mulk, 67:15)
Allah SWT menjadikan bumi untuk hamba-Nya. Allah SWT memberikan kemudahan kepada hamba-Nya untuk memanfaatkan segala fasilitas itu. Perintah-Nya adalah agar hamba menjelajahi segala penjuru bumi. Selain itu diperintahkan memakan sebagian dari rezeki yang diberikannya. Akhirnya kepada Allah SWT tempat kembali hamba. Ini menarik untuk dibahas, terutama bagi mereka yang memiliki hobi untuk bersafari (melaukan perjalanan jauh). Namun begitu, perlu dipahami konsep dasar yang termaktub di dalam ayat ini.
Allah SWT menyatakan bahwa bumi dijadikan dzalulan, yang artinya tunduk atau patuh. Bayangkan bumi seperti seekor hewan tunggangan yang jinak. Ia tidak liar dan tidak membahayakan jika kita tahu cara mengendalikannya. Hal ini menunjukkan kasih sayang Allah bahwa manusia ditempatkan di sebuah “rumah” yang sudah siap huni, bukan di lingkungan yang sepenuhnya asing atau mustahil untuk ditaklukkan.
Allah tidak hanya memberikan bumi, tetapi juga memberikan akal dan fisik kepada manusia untuk mengelola sumber daya tersebut. Kemudahan ini mencakup hukum alam yang konsisten—seperti air yang mengalir ke tempat rendah atau tanah yang bisa ditanami. Dalam Al-Quran disebutkan: “Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya” (QS. Al-Jasiyah: 13). Ini adalah modal awal bagi siapa pun yang ingin bersafari atau berbisnis di muka bumi.
Kalimat famsyu fi manakibiha adalah perintah aktif. Kita diminta untuk keluar dari zona nyaman, berjalan ke penjuru-penjuru bumi, dan melihat kebesaran-Nya. Perjalanan (safari) dalam Islam bukan sekadar hura-hura, melainkan sarana untuk tadabbur alam dan mencari peluang. Rasulullah SAW bersabda: “Bepergianlah (safar), maka kalian akan sehat dan akan mendapatkan rezeki” (HR. Ahmad). Pergerakan adalah kunci datangnya keberkahan.
Poin penting dari ayat ini adalah rezeki itu harus “dijemput”, bukan sekadar ditunggu. Setelah diperintahkan berjalan ke penjuru bumi, barulah Allah menyebutkan “makanlah sebagian dari rezeki-Nya”. Hal ini mengajarkan etos kerja. Makanan yang masuk ke mulut adalah hasil dari langkah kaki dan usaha kita dalam menjelajahi bumi yang sudah dimudahkan oleh-Nya.
Setelah kita sibuk menjelajah dan menikmati hasil bumi, Allah mengingatkan pada akhir ayat, “Hanya kepada-Nya kamu kembali”. Ini adalah pengingat agar manusia tidak terlena dengan keindahan dunia. Sejauh apa pun kita bersafari, tujuan akhir kita adalah menghadap Sang Pencipta. Hal ini mendidik kita agar selama dalam perjalanan, kita tetap menjaga adab, tidak merusak alam, dan tetap menjalankan kewajiban ibadah.
Allah memudahkan struktur bumi sehingga manusia bisa membangun peradaban di atasnya. Jika bumi ini bergejolak setiap saat, tentu kita tidak bisa diam tenang. Hal ini sejalan dengan firman-Nya: “Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap…” (QS. Ghafir: 64). Sebagai orang awam, kita cukup menyadari bahwa tanah yang kita injak adalah nikmat yang luar biasa stabil.
Secara bahasa, manakib bisa berarti “bahu” atau “lereng”. Ini mengisyaratkan bahwa bahkan tempat yang sulit dijangkau sekalipun harus kita jelajahi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk terus bergerak, karena dalam diam ada kejenuhan, sedangkan dalam pergerakan ada kehidupan. Safari atau perjalanan jauh memperluas wawasan dan mempertemukan kita dengan saudara baru (silaturahmi).
Kata “dari rezeki-Nya” menunjukkan bahwa sumber rezeki adalah milik Allah, kita hanya perantara yang memanfaatkannya. Oleh karena itu, cara memperolehnya pun harus halal. Rasulullah SAW mengingatkan: “Sesungguhnya Ruhul Qudus membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya, maka bertakwalah kepada Allah dan perbaguslah dalam mencari” (HR. Hakim).
Saat bersafari, seorang Muslim tidak boleh sombong. Kemudahan yang diberikan Allah di bumi harus dibayar dengan rasa syukur. Menjelajahi bumi berarti menjaga ekosistemnya. Jangan sampai perjalanan kita justru meninggalkan kerusakan, karena bumi ini adalah “titipan” yang akan kita laporkan pertanggungjawabannya di hari kebangkitan kelak.
Kalimat wa ilaihin nusyur (dan kepada-Nya tempat kembali) adalah “rem” bagi nafsu manusia. Saat menjelajah, kita mungkin melihat kemewahan dunia yang menyilaukan. Namun, ayat ini mengingatkan bahwa semua itu fana. Kehidupan di bumi hanyalah persinggahan sementara sebelum kita “pulang” ke kampung halaman yang sebenarnya, yaitu akhirat.
Surah Al-Mulk ayat 15 mengajarkan kita tentang keseimbangan hidup yang luar biasa. Kita didorong untuk menjadi penjelajah yang produktif dan dinamis di dunia. Namun tetap rendah hati dan mawas diri, karena semua fasilitas bumi ini adalah pinjaman dari Allah SWT. Dengan memahami bahwa bumi telah dimudahkan bagi kita, semangat untuk bekerja, bertualang, dan beribadah seharusnya menyatu dalam setiap langkah kaki kita, hingga tiba saatnya kita kembali kepada-Nya dalam keadaan yang baik. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 23 April 2026