MEMAKMURKAN MASJID

Oleh Zulkarnaini Diran

Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (At-Taubah, :18)

Fenomena sehari hari dapat diamati. Pasca Ramadan masjid sepi, lengang. Jemaah yang biasanya memadati masjid pada pekan pertama dan kedua Ramadan, kini mulai berkurang jumlahnya. Peibadah yang ada hanyalah jemaah yang menapaki hari tua. Mereka menggunakan istilah “menunggu pluit panjang berbunyi”, artinya menunggu “antre kematian”. Sementara jemaah yang masih muda atau usia produktif, mulai jarang ke masjid karena alasan sibuk dan sebagainya. Fenomena ini terlihat di berbagai masjid, terutama yang ada di kawasan pinggir kota dan pedalaman.

Prof. Hamka pernah berujar, “Jika ingin melihat banyaknya orang Islam, perhatikanlah ketika hari raya. Kalau ingin melihat orang beriman, saksikanlah di masjid pada saat salat sibuh”. Itu kata profesor Universitas Al-Azhar Mesir itu. Hal itu sebenarnya adalah informasi akurat dan nyata. Sampai kini dapat kita lihat. Jika hari raya (Idil Fitri, Idil Adha) masjid atau lapangan tempat salat sunnah itu penuh dan melimpah. Akan tetapi, pada saat salat subuh, masjid kecil pun tidak terisi penuh. Ini bukan lagi sekedar fenomena, tetapi realitas yang dihadapi oleh umat muslim.

Hal itu tentu dipengaruhi oleh banyak faktor. Atau jika masjid tidak diramaikan oleh jemaah tentu banyak variabel yang berpengaruh. Untuk mengantisipasi kondisi itu tentu perlu pemahaman yang mendalam tentang  meramaikan atau memakmurkan masjid. Selain itu perlu ditelisik sebab-sebabnya dan cara-cara atau upaya yang dapat dilakukan untuk meramaikan masjid sepanjang masa.

Memakmurkan masjid memiliki dua dimensi: hissi (fisik) dan ma’nawi (spiritual). Secara fisik berarti membangun, membersihkan, dan merawatnya. Namun, yang lebih ditekankan dalam Islam adalah dimensi spiritual, yaitu mengisinya dengan salat, zikir, dan thalabul ilmi. Sebagaimana kutipan Surah At-Taubah ayat 18 di atas, syarat utama pengelola atau pemakmur masjid adalah keimanan yang kokoh. Tanpa iman, aktivitas di masjid hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna spiritual.

Dalam sejarah Rasulullah SAW, masjid adalah pusat segalanya: markas militer, tempat edukasi, hingga balai pertemuan sosial. Jika saat ini masjid hanya dibuka saat waktu salat dan digembok setelahnya, maka fungsi sosial masjid telah tereduksi. Untuk menarik jemaah usia produktif, masjid harus bertransformasi menjadi solusi atas persoalan umat, seperti menyediakan akses internet gratis untuk belajar, perpustakaan, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis zakat dan infak.

Islam memberikan motivasi besar bagi mereka yang menjaga salat berjemaah. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang pergi ke masjid pada waktu pagi atau petang, niscaya Allah akan menyediakan baginya hidangan di surga setiap kali ia pergi pada waktu pagi atau petang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Janji ini seharusnya menjadi pendorong bagi kaum muda untuk tidak hanya melihat masjid sebagai tempat orang tua, melainkan investasi masa depan di akhirat.

Pendapat Prof. Hamka mengenai salat Subuh sangat akurat. Salat Subuh berjemaah adalah indikator kejujuran iman seseorang. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa salat yang paling berat bagi orang munafik adalah salat Isya dan salat Subuh. Jika seorang muslim mampu menaklukkan kantuknya demi Subuh di masjid, maka ia telah memiliki fondasi mental yang kuat untuk menghadapi tantangan hidup lainnya.

Salah satu penyebab masjid sepi di pedalaman adalah pengelolaan (takmir) yang mungkin terlalu kaku atau kurang ramah terhadap anak-anak dan pemuda. Masjid seharusnya menjadi tempat yang paling nyaman. Jika anak-anak dimarahi saat bermain di masjid, mereka akan tumbuh dengan memori bahwa masjid adalah tempat yang tidak menyenangkan. Perlu ada pendekatan yang lebih inklusif dan ramah agar semua kalangan merasa memiliki masjid tersebut.

Untuk memutus rantai “jemaah lansia”, orang tua memiliki peran vital. Membawa anak ke masjid sejak kecil (dengan pengawasan) adalah cara terbaik menanamkan kecintaan pada rumah Allah. Rasulullah SAW sendiri pernah menggendong cucunya, Umamah binti Zainab, saat sedang salat sebagai bentuk edukasi kasih sayang di dalam masjid. Tanpa regenerasi, fenomena “menunggu peluit panjang” akan terus berulang di setiap generasi.

Di era modern, masjid di pinggir kota harus memanfaatkan teknologi. Dakwah tidak boleh hanya dilakukan di atas mimbar secara konvensional. Penggunaan media sosial untuk menyebarkan jadwal kajian atau kegiatan sosial dapat menarik minat usia produktif. Ketika masjid hadir dalam gawai mereka melalui konten yang inspiratif, maka kecenderungan mereka untuk datang secara fisik akan meningkat.

Masjid yang makmur adalah masjid yang mandiri secara ekonomi dan mampu membantu jemaahnya. Jika seorang jemaah yang kesulitan ekonomi merasa dibantu oleh masjidnya, ia akan memiliki ikatan emosional yang kuat. Hal ini sesuai dengan prinsip At-Taubah:18 tentang menunaikan zakat. Masjid harus menjadi lembaga penyalur keadilan sosial, bukan sekadar tempat mengumpulkan kotak amal yang saldonya terus menumpuk tanpa didistribusikan.

Bagi pemuda yang merasa sibuk, penting untuk mengingat salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat ketika tidak ada naungan selain naungan-Nya, yaitu, “…seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allah, dan seseorang yang hatinya terpaut dengan masjid.” (HR. Bukhari). Menjadi pemuda yang aktif di masjid adalah privilese spiritual yang luar biasa di mata Allah.

Memakmurkan masjid adalah tanggung jawab kolektif. Kita tidak bisa hanya menyalahkan keadaan atau kesibukan duniawi. Diperlukan sinergi antara ulama yang memberikan ilmu, takmir yang mengelola secara profesional, dan jemaah yang istiqamah hadir. Jika jantung (masjid) ini sehat dan berdetak kencang dengan aktivitas ibadah, maka tubuh umat Islam secara keseluruhan akan menjadi kuat dan tidak mudah terombang-ambing oleh zaman. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 19 April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *