Oleh Zulkarnaini Diran

Ibnu Atha’illah As-Sakandari dalam kitab Alhikam mengatakan, “Ada dua nikmat yang pasti dialami dan dirasakan oleh semua makhluk, yakni nikmat penciptaan dan nikmat pemenuhan kebutuhan”. Allah menciptakan manusia dan jin dengan satu alasan yakni “bribadah” kepada-Nya. Firman Allah SWT, “Aku tidakmenciptakan jin dan manussia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz-Dzariyat [51]:56). Sementara tentang rezeki Allah SWT menegaskan, “Sungguh Allah, Dialah pemberi rezeki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh” (QS Adz-Dzariyat [51]:58). Penciptaan dan rezeki atau pemenuhan kebutuhan adalah dua nikmat yang diterima makhluk.
Kedua nikmat yang diterima itu, khususnya manusia, kelak akan dipertanggungjawabkan di “mahkamah Allah SWT”. Kehidupan yang dilalui, yang dijalani, yang dinikmati apakah sudah sesuai dengan “kehendak” Allah SWT? Inilah yang perlu menjadi bahan renungan sebagai manusia, khusus sebagai muslim, lebih khusus lagi sebagai mukmin. Allah menciptakan manusia hanya untuk satu alasan yakni beribadah kepadanya. Agar memenuhi ibadah itu, Allah menjaminnya dengan pemberian nikmat kedua yakni jaminan rezki sebagai pemuas kebutuhan. Adakah rezki yang diberikan Allah itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan sesuai petunjuk-Nya? Hal-hal seperti ini seyogyanya menjadi bahan renungan bagi hamba semasa hidupanya, karena kelak akan dipertanggungjawabkan.
Nikmat penciptaan (ni’matul ijad) harus disyukuri. Inilah hakikat dan awal keberadaan kita di dunia ini. Dari ketiadaan menjadi ada merupakan murni anugerah Allah SWT. Tanpa kehendak-Nya, kita tidak akan pernah mengenal dunia, tidak akan pernah merasakan kebahagiaan, dan tidak akan memiliki kesempatan untuk meraih derajat mulia di sisi-Nya. Ini adalah nikmat asal yang menjadi pintu bagi semua nikmat lainnya. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an untuk mengingatkan manusia akan asal muasalnya, “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang ia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-Insan [76]: 1).
Penciptaan manusia bukanlah sebuah kebetulan tanpa makna. Allah SWT memberikan nikmat penciptaan dengan tujuan yang sangat spesifik, yaitu pengabdian. Ibadah dalam konteks ini tidak hanya ritual formal, tetapi mencakup seluruh dimensi kehidupan yang diniatkan karena Allah. Manusia diciptakan sebagai hamba yang mengakui ketuhanan-Nya. Dalam sebuah Hadis Qudsi, Allah SWT berfirman, “Wahai anak Adam, Aku ciptakan segala sesuatu untukmu, dan Aku ciptakan engkau untuk-Ku.” (Riwayat ini sering dikutip ulama tasawuf untuk menekankan bahwa pusat dari penciptaan manusia adalah kembali kepada Allah).
Setelah menciptakan, Allah tidak membiarkan makhluk-Nya telantar. Ni’matul Imdad (karunia Allah untuk memenuhi kebutuhan makhluk) adalah kelanjutan dari ni’matul ijad. Allah terus-menerus memelihara eksistensi kita dengan memberikan napas, detak jantung, asupan makanan, hingga kesehatan akal. Tanpa dukungan (imdad) dari Allah setiap detik, maka eksistensi manusia akan runtuh. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an, “Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…” (QS. Hud [11]: 6).
Penting untuk dipahami bahwa nikmat pemenuhan kebutuhan atau rezeki diberikan agar manusia memiliki kekuatan untuk menjalankan tugas utamanya, yaitu ibadah. Allah menjamin kebutuhan jasmani kita supaya ruhani kita fokus menghadap-Nya. Rezeki bukan hanya harta, melainkan segala hal yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup, kehidupan, dan ketaatan. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) membisikkan ke dalam hatiku bahwa suatu jiwa tidak akan mati sampai ia menyempurnakan rezekinya…” (HR. Abu Nu’aim).
Dalam menyikapi nikmat penciptaan, perilaku yang dikehendaki Allah adalah mawas diri dan tawadhu. Manusia yang sadar bahwa dirinya berasal dari tiada akan menjauhkan diri dari sifat sombong. Perilaku kehidupan yang sesuai adalah menjadikan setiap desah napas sebagai bentuk zikir dan pengabdian, serta menyadari bahwa hidup adalah amanah yang dipinjamkan sementara. Bentuk nyata dari perilaku ini adalah ketaatan pada syariat. Seseorang yang bersyukur atas penciptaan dirinya akan menjaga anggota tubuhnya agar tidak digunakan untuk maksiat, melainkan untuk menebar manfaat bagi sesama sebagai bentuk syukur atas keberadaannya.
Dalam menggunakan rezeki, Allah menghendaki sikap iffah (menjaga diri) dan qana’ah (merasa cukup). Rezeki dipandang sebagai sarana (wasilah), bukan tujuan utama (ghayah). Perilaku yang sesuai adalah mencari rezeki dengan cara yang halal dan mengalokasikannya pada jalan yang diridhai-Nya, seperti menafkahi keluarga dan membantu kaum dhuafa. Allah SWT mengingatkan agar tidak berlebihan dalam menikmati rezeki, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf [7]: 31).
Semua nikmat, baik itu eksistensi diri maupun harta yang dinikmati, akan dimintai pertanggungjawaban. Dalam “Mahkamah Allah”, setiap manusia akan ditanya tentang masa mudanya, umurnya, dan hartanya. Kesadaran akan adanya hari pembalasan ini seharusnya mendorong kita untuk lebih berhati-hati dalam bertindak. Al-Qur’an secara eksplisit menyatakan, “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takatsur [102]: 8).
Perilaku yang ideal adalah ketika seorang mukmin mampu menyelaraskan keinginan pribadinya dengan kehendak Allah. Ketika ia memiliki kebutuhan, ia memohon dengan adab, dan ketika kebutuhannya terpenuhi, ia tidak lupa diri. Ia memahami bahwa ketercukupan kebutuhan adalah bentuk kasih sayang Allah agar ia tidak terganggu dalam beribadah. Nabi SAW bersabda mengenai prioritas rezeki, “Barangsiapa di antara kalian memasuki waktu pagi dengan perasaan aman di kelompoknya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dianugerahkan kepadanya.” (HR. Tirmidzi).
Seringkali manusia terjebak pada nikmat yang kedua (rezeki) sehingga melupakan nikmat yang pertama (penciptaan untuk ibadah). Banyak orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk mengejar pemenuhan kebutuhan fisik namun membiarkan ruhaninya kelaparan. Inilah yang disebut dengan kelalaian yang bisa berujung pada kerugian abadi. Sikap yang benar adalah memposisikan rezeki di tangan, bukan di hati. Dengan demikian, ketika rezeki tersebut berkurang, tidak akan menggoyahkan iman, dan ketika bertambah, tidak akan menimbulkan keserakahan.
Sebagai hamba yang telah berusia lanjut atau mencapai tahapan kematangan hidup, perenungan akan kedua nikmat ini menjadi semakin krusial. Perilaku mawas diri (muhasabah) setiap hari merupakan cara terbaik untuk memastikan bahwa kedua nikmat tersebut telah digunakan sesuai fungsinya. Kita harus bertanya, “Apakah keberadaan saya hari ini sudah membawa manfaat, dan apakah rezeki yang saya makan hari ini sudah mendekatkan saya kepada Allah?”
Inti dari pemikiran Ibnu Atha’illah adalah adanya harmoni antara penciptaan dan pemenuhan kebutuhan. Allah menciptakan kita (ijad) dan Allah pula yang menjamin kelangsungan kita (imdad). Keduanya adalah satu paket kasih sayang. Jika kita percaya bahwa Allah yang menciptakan kita, maka kita tidak boleh ragu bahwa Allah pula yang akan mencukupi kebutuhan kita selama kita menjalankan tugas ibadah.
Akhir dari perjalanan manusia yang menyadari kedua nikmat ini adalah kembalinya ia kepada Allah dalam keadaan ridha dan diridhai. Dengan mensyukuri penciptaan melalui ibadah yang tekun dan mensyukuri rezeki melalui penggunaan yang benar, seorang mukmin akan meraih ketenangan batin. Inilah jalan menuju kebahagiaan sejati di dunia dan akhirat. Semoga renungan ini memperkuat iman kita semua dalam meniti sisa perjalanan usia dengan penuh keberkahan dan ketaatan kepada-Nya. Terimakasih!
Padang, 27 April 2026