SEHAT DAN AFIAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Oleh Zulkarnaini Diran

Ada dua kata yang diselaraskan yang berkaitan dengan kesehatan. Kedua kata itu adalah sehat dan afiat. Antara kata sehat dan afiat tedapat kata dan (wa). Kehadiran kata penghubung “dan” itu menandakan bahwa kedua kata itu berbeda maknanya, tetapi saling menguatkan. Dalam kebiasaan sehari-hari kedua kata itu diucapkan dalam kesejajaran dan keselarasan. Biasanya dengan ucapan “sehat wal afiat”. Ucapan dalam komunikasi biasanya, “Semoga sehat wal afiat, ya!”

Dalam pandangan Islam, kesehatan fisik dan mental merupakan salah satu nikmat terbesar yang dikaruniakan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Konsep ini tercermin secara utuh dalam ungkapan “sehat wal afiat”. Kedua kata tersebut memiliki dimensi makna yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan dalam membina kesejahteraan hidup manusia.

Secara etimologis dan terminologis Islam, sehat (al-sihhah) lebih merujuk kepada kondisi fisik dan biologis seseorang. Kondisi ini berarti seluruh organ tubuh berfungsi secara normal, terbebas dari penyakit jasmaniah, dan memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Rasulullah SAW bersabda bahwa kesehatan jasmani adalah salah satu bentuk kenikmatan utama setelah keimanan yang sering kali dilalaikan oleh manusia.

Sementara itu, afiat (al-afiyah) memiliki cakupan makna yang jauh lebih luas dan mendalam. Afiat adalah kondisi keselamatan dan perlindungan Allah dari segala keburukan, baik penyakit fisik, tekanan mental, kemaksiatan, maupun malapetaka batin. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa afiat adalah keselamatan hamba dari segala ujian yang merusak agama dan dunianya. Dengan kata lain, seseorang bisa saja terlihat sehat secara fisik, tetapi belum tentu ia berada dalam keadaan afiat jika jiwanya gelisah, akhlaknya rusak, atau hatinya jauh dari Allah.

Pentingnya memohon dan menjaga kesehatan serta afiat ini ditegaskan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dalam doa harian beliau. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, beliau meriwayatkan bahwa Rasulullah tidak pernah meninggalkan doa ini pada pagi dan petang: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kebajikan dan keselamatan (afiat) di dunia dan akhirat…” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah). Doa ini menunjukkan betapa afiat adalah payung keselamatan yang menyeluruh bagi seorang mukmin.

Kedua hal ini—sehat dan afiat—memegang peranan yang sangat krusial untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tubuh yang sehat dan jiwa yang afiat adalah modal utama bagi seorang Muslim untuk beribadah kepada Allah dengan khusyuk, menafkahi keluarga, serta memberikan manfaat seluas-luasnya bagi sesama manusia. Tanpa kesehatan dan afiat, amal saleh dan produktivitas harian seseorang akan sangat terganggu.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menekankan bahwa menjaga kesehatan tubuh merupakan bagian dari ikhtiar menjaga amanah Allah. Tubuh manusia bukanlah milik pribadi yang bebas dieksploitasi, melainkan titipan yang harus dirawat agar tetap kuat menopang ketaatan. Oleh karena itu, Islam sangat menganjurkan langkah-langkah preventif (pencegahan) agar nikmat sehat wal afiat senantiasa terjaga.

Langkah preventif dalam Islam dimulai dari penerapan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Rasulullah SAW adalah teladan utama dalam menjaga kebersihan diri, mengatur pola makan yang seimbang, dan tidak berlebihan. Sabda Nabi yang masyhur mengingatkan kita agar mengisi perut dengan sepertiga makanan, sepertiga air, dan sepertiga udara (HR. Tirmidzi). Selain itu, pencegahan secara spiritual juga dilakukan dengan memperbanyak zikir, menjaga shalat tepat waktu, dan menghindari stres melalui tawakal kepada Allah.

Namun, sebagai manusia, seorang hamba terkadang diuji dengan penurunan kondisi fisik atau mental. Di sinilah pentingnya pendekatan represif atau kuratif (pengobatan dan pemulihan). Islam mewajibkan ikhtiar medis ketika seseorang jatuh sakit. Rasulullah SAW bersabda, “Berobatlah kalian, karena sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit melainkan menurunkan pula obatnya” (HR. Bukhari).

Pendekatan represif dalam Islam tidak hanya bertumpu pada obat-obatan kimiawi atau herbal semata, tetapi juga memadukannya dengan ikhtiar rukyah syar’iyah, doa, dan sedekah. Para ulama salaf sering mengingatkan bahwa sakit yang menimpa seorang mukmin adalah bentuk kasih sayang Allah untuk menggugurkan dosa-dosa dan mengangkat derajatnya, asalkan disikapi dengan sabar dan ikhtiar penyembuhan yang benar.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam karyanya Thibbun Nabawi (Pengobatan Nabi) menggarisbawahi bahwa kesembuhan sejati datang dari perpaduan antara obat jasmani dan obat rohani. Pengobatan medis menyembuhkan organ yang rusak, sementara doa, istighfar, dan sedekah menenangkan jiwa serta memohon izin Allah untuk mencabut penyakit tersebut hingga tuntas.

Jadi, mengintegrasikan konsep sehat wal afiat dalam keseharian menuntut kesadaran penuh dari setiap Muslim untuk senantiasa bersyukur. Kesehatan menjaga raga kita tetap aktif, sedangkan afiat melindungi jiwa dan raga kita dalam ketaatan kepada-Nya. Semoga kita senantiasa dianugerahi kesehatan jasmani dan afiat rohani oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Padang, 09 Oktober 2026

Diturunkan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan upaya serta perjuangan untuk tetap sehat dan afiat dalam menjalani kehidupan, terutama beribadah kepada Allah SWT.

Bagian manakah dari konsep sehat wal afiat di atas yang ingin Anda eksplorasi lebih mendalam untuk tulisan Anda selanjutnya?

Saya mengharapkan bantuan Anda untuk melanjutkan, mengembangkan, memperluas, dan memperdalam paragraf ini. Inti bantun Anda adalah mengungkapkan konsep sehat dan konsep afiat dalam pandangan Islam. Kemudian pentingnya kedua hal itu untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal yang tidakkalah pentingnya adalah cara perefentif dan represif untuk diri seorang hambat terkait dengan sehat dan afiat. Penjelasan Anda tentu didukung oleh dalil Quran, Sunnah, dan pendapat ulama. Anda akan menjelaskan dalam bahasa yang mudah dipahami pembaca. Sekurang-kurangnya penjelasan Anda dua belas paragraf. Terimakasih!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *