Oleh Zulkarnaini Diran

Banyak pertanyaan sahabat yang disampaikan kepada saya. Ada yang disampaikan secara tertulis melalui whatsapp, ada yang lewat telepon, dan ada yang langsung secara bersemuka. Isi pertanyaannya hampir sama yakni tentang menulis. Para sahabat bertanya tentang motivasi saya terus menulis pada usia seperti sekarang. Secara sporadis saya telah menjawab sesuai pertanyaan mereka. Tulisan ini saya maksudkan untuk menjawabnya seca komperehensif tentang “motivasi menulis” pada usia senja.
Saya tidak ingat lagi kapan saya mulai menulis dalam konteks menuangkan ide atau gagasan. Saya hanya ingat bahwa menulis bagian dari keseharian saya. Kalau tidak terlalu berlebihan, saya mengatakan bahwa menulis adalah “kebutuhan” sehari-hari. Oleh karena itu, saya menulis tiap hari. Sejak kapan? Mungkin itu saya lakukan sejak di SMP, SMA, dan seterusnya. Hal yang saya ingat adalah menulis untuk dipublikasi di surat kabar. Itu dilakukan awal tahun 1980. Itu benar-benar saya ingat karena saya menulis untuk Koran Masuk Desa (KMD) Haluan, Padang, Perwakilan Bukittinggi.
Saat itu, tahun 1980-an sampai tahun 2012 saya menulis untuk dua hal. Pertama untuk kelancaran kerja profesi (guru, wartawan, instruktur, narasumber, pemakalah temu ilmiah, pengawas sekolah, widyaiswara), kedua untuk mendapatkan penghasilan tamabahan. Ternyata kedua hal itu dapat dicapai. Artinya kerja profesi lancar dengan dukungan menulis dan penghasilan tamabahan pun diperoleh. Bahkan dengan menulis, kadang-kadang penghasilan melebih gaji PNS/ASN golongan IV setiap bulan. Itulah motivasi menulis sampai purnatugas sebagai ASN.
Setelah pensiun motivasinya sedikit bergeser. Menulis tidak lagi untuk mencari tambahan penghasilan dan bukan untuk menunjang profesi. Kalau dengan menulis, kemudian mendapat royalti atau upah menulis, ya biasalah. Namun itu bukan lagi menjadi motivasi atau tujuan, itu hanya efek sampingnya. Begitu pula halnya dengan penunjang profesi, tidak ke situ lagi orientasinya. Menulis pada usia pensiun hanyalah untuk memenuhi komitmen atau misi yang dicetuskan pada awal pensiun.
Memasuki masa pensiun Januari 2012 saya mencetuskan komitmen untuk menjalaninya. Komitmennya sederhana saja. Ada tiga hal yang dicetuskan bersama istri. Ketiganya adalah memelihara kesehatan, mengoptimalkan ibadah, dan bermanfaat bagi orang lain. Tiga hal itu menjadi pegangan kami dalam menapaki masa purnatugas sebagai ASN (saya penisun 2012, istri 2016). Setiap yang kami lakukan, merujuk kepada ketiga hal itu. Semua aktifitas kami diarahkan untuk ketiga hal itu. Kalau ada aktifitas baru (selain rutin), diajukan pertanyaan “Termasuk ke dalam komitmen manakah kegiatan ini?”
Aktifitas menulis yang saya lakukan pada usia ini berada di dalam koridor komitmen itu. Memelihara kesehatan ada hubungan dengan menulis. Untuk dapat dan terus menulis, saya harus membaca, mengamati, mendengarkan, dan sebagainya. Proses mencari bahan tulisan itu tentu saja mangaktifkan organ tubuh termasuk otak. Dengan demikian elemen tubuh yang vital terus bekerja secara aktif. Aktifitas komponen vital yang ada di dalam diri dalam proses mencari, mengumpulkan, dan menyeleksi bahan tulisan, dapat bermuara kepada kesehatan pisik dan mental.
Bahan yang terkumpul dari berbagai aktifitas, saya tuangkan ke dalam bentuk tulisan. Saya menulis tidak memilih waktu dan tempat. Kalau saya lagi “ingin menulis” saya langsung melakukan. Bahan baku saya cukup banyak karena tiap saat mengumpulkannya. Aktifitas menuangkan gagasan, ide, pendapat, dan argumen ke dalam bentuk tulisan tentu saja melibatkan dua hal penting yang ada di dalam diri saya. Kedua hal penting itu adalah pikiran dan perasaan. Ketika pikiran dan perasaan terus bekerja dan menghasilkan tulisan, tentu muaranya juga kepada kesehatan mental.
Sejak pensiun saya lebih banyak menulis topik-topik yang ada hubungan dengan Al-Quran, Sunnah, dan pendapat ulama. Maksudnya, setiap topik yang dijadikan tulisan, selalu dikaitkan dengan ajaran Islam. Ini dimaksudkan untuk “memaksa” saya belajar dari kitabullah dan sunnah Rasul serta pendapat para ulama dan teolog Islam. Belajar terus-menerus, setiap waktu, terutama dari sumber wahyu dan hadis nabi, menjadikan pikiran dan perasaan saya tenteram dan nyaman. Ketika hal itu berlangsung terus-menerus, diyakini muaranya adalah kepada kesehatan jasmani dan ruhani.
Semua tulisan saya publikasi melalui blog pribadi yang saya miliki. Blog saya yang terakhir adalah http://zulkarnaini.my.id. Di media itu saya himpun semua tulisan, kemudian saya sebarkan melalui whatsapp ke grup dan pribadi, facebook, dan instgaram. Tulisan yang dikirim dibaca oleh para sahabat yang tertarik. Ketika tulisan dibaca dan dikomentari, komunikasi dengan sahabat pembaca pun tersambung. Saat itu saya yakini, silaturahim pun terjalin. Muaranya bukan hanya kepada kesehatan, tetapi juga kepada yang kedua, yakni “ibadah”. Menyampaikan suatu gagasan, pendapat, dan ide kemudian diperkuat dengan dalil Quran dan Hadis, berarti kegiatan berdakwah telah berlangsung. Itu ibadah.
Dua hal yang dicapai ketika tulisan yang bernuansa Islami itu dibaca dan dikonsumsi oleh sahabat. Kedua hal itu adalah ibadah dan berbagi. Ibadah yang telaksana adalah ghairumahdah. Ulama mendefenisikan, ibadah ghairumahdah adalah semua pebuatan yang bermanfaat untuk diri dan orang lain, diniatkan karena Allah SWT, dan tidak menyelisihi Al-Quran dan Sunnah. Menulis diniatkan karena Allah, isinya bermanfaat bagi diri dan orang lain, isi dan cara penulisannya tidak mlanggar Al-Quran dan Sunnah Rasul, itu termasuk kategori ibadah. Menulis saya lakukan dalam rangka mengoptimalkan ibadah, terutama ibadah ghairumahdah.
Tulisan yang saya hasilkan saya publikasi. Saya bagikan kepada sahabat melalui grup atau individu. Pada umumnya sahabat yang menyatakan, tulisan itu bermanfaat. Bahkan banyak yang menyatakan sangat bermanfaat. Para pembaca yang sahabat-sahabat saya itu sangat banyak yang berkomentar. Isi komentarnya adalah agar saya terus menulis, terus berbagi, dan terus menaympaikan pencerahan. Di antara para sahabat ada yang juru dakwah, da’i, dan juru khutbah. Mereka sering mengirimkan pesan sambil minta izin. “Izin Mamak/Bapak, tulisannya saya jadikan bahan khutbah Jumat!” itu di antara kalimat yang masuk ke whatsaap saya. Dengan demikian, melalui tulisan, saya sudah bermanfaat bagi orang lain.
Awal tahun 2026, saya terbitkan kumpulan tulisan. Judulnya, “Jalan Ibadah dalam Catatan dan Renungan”. Ada enampuluh tiga tulisan yang bernuansa Islami di dalamnya. Tulisan-tulisan itu saya tulis di berbagai tempat. Ada yang saya tulis di lobi hotel di Makkah, di Madinah, di Jeddah, di Brunai Darussalam, di Kualalumpur, di Padang, dan berbagai tempat di Tanah Air. Kumpulan tulisan dalam bentuk buku itu dibagikan ke perpustakaan masjid, jika saya diundang berceramah di masjid itu. Sahabat yang sering mengomentari tulisan-tulisan saya juga dikirmi kumpulan tulisan. Dengan demikian, saya telah berbagi, telah berupaya untuk bermanfaat bagi orang lain.
Jadi, motivasi saya menulis pada usia senja di antaranya adalah dalam rangka mewujudkan tiga komitmen pada masa purnatugas. Ketiga hal itu adalah menulis untuk memelihara kesehatan lahir dan batin, menulis untuk mengoptimalkan ibadah, dan menulis untuk bermanfaat bagi orang lain. Insyaallah tulisan-tulisan itu akan menupang perwujudan komitmen saya dengan istri dalam menapaki usia senja. Dengan tulisan ini pula, saya telah menjawab pertanyaan sahabat secara holistik dan komprehensif. Terimakasih!
Padang, 23 September 2026