Oleh Zulkanaini Diran

Ada empat hidayah dasar yang dikaruniakan Allah kepada manusia. Keempat hidayah itu adalah naluri (gharizah), pancaindra (hawad), akal – pikiran (aql), dan agama (ad-din). Hal itu diungkapkan di dalam tafsir Al-Fatihah Muhammad Abduh. QS Alfatihah, ayat keenam menyatakan “Ihdinassiratol mustaqim”. Ihdi itu diterjemahkan sebagai “pimpinlah, tunjukilah, beri hidayahlah, Kemudian Allah memerintahkan kepada penganutnya Islam yang beriman ”agar masuk ke dalam Islam secara kaffah”
Pemikiran Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar memang sangat revolusioner dalam memetakan bagaimana Allah menuntun manusia melalui tingkatan hidayah. Empat hidayah ini bekerja secara hierarkis dan saling menyempurnakan. Berikut adalah uraianringkas dan sistematis tentang empat hidayah tersebut.
1. Naluri (Gharizah): Fondasi Kehidupan
Naluri adalah hidayah pertama yang diberikan Allah bahkan sejak manusia lahir. Sifatnya adalah pembawaan alami (innate) yang tidak perlu dipelajari. Naluri ini berfungsi sebagai mekanisme pertahanan hidup paling dasar, seperti bayi yang langsung tahu cara menyusu tanpa diajarkan. Manfaat utama naluri adalah menjaga kelangsungan hidup individu dan spesies. Tanpa naluri untuk makan saat lapar atau takut pada bahaya, manusia akan punah dengan cepat. Namun, naluri bersifat buta; ia hanya menuntut pemuasan tanpa pertimbangan moral.
Dalam Al-Qur’an, hidayah ini sering dikaitkan dengan fitrah. Allah berfirman dalam QS. Ar-Rum: 30: “…tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah…”
2. Pancaindra (Hawas): Jendela Dunia Luar
Setelah naluri, Allah membekali manusia dengan Pancaindra. Sifatnya adalah empiris, yakni menangkap rangsangan fisik dari luar seperti cahaya, suara, dan tekstur. Jika naluri bekerja dari dalam, indra menghubungkan manusia dengan realitas objektif di sekitarnya. Fungsi indra adalah sebagai alat observasi dan pengumpul data. Manfaatnya sangat besar bagi manusia untuk mengenali lingkungan, membedakan yang bermanfaat dan yang membahayakan secara fisik. Namun, indra memiliki keterbatasan; ia sering tertipu oleh ilusi (seperti fatamorgana).
Allah mengingatkan pentingnya syukur atas hidayah ini dalam QS. An-Nahl: 78:
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati, agar kamu bersyukur.”
3. Akal: Hakim yang Meluruskan Indra
Akal adalah hidayah ketiga yang membedakan manusia dengan makhluk lain. Sifatnya adalah rasional dan analitis. Akal berfungsi untuk mengolah data dari pancaindra, mengoreksi kesalahan indra, serta menyimpulkan sebab-akibat yang tidak terlihat oleh mata telanjang.
Manfaat akal adalah untuk mengembangkan peradaban, ilmu pengetahuan, dan teknologi. Akal adalah “hakim” bagi indra. Meskipun hebat, akal tetap terbatas karena ia tidak bisa menjangkau hal-hal metafisika atau menentukan standar moral yang mutlak benar di setiap zaman.
Allah sangat memuliakan penggunaan akal, sebagaimana dalam QS. Al-Baqarah: 269: “…Dan hanya orang-orang yang berakal (ulul albab) lah yang dapat mengambil pelajaran.”
4. Agama (Ad-Din): Hidayah Paripurna
Hidayah keempat adalah Agama Islam. Sifatnya adalah wahyu (transenden) dan mutlak benar. Agama berfungsi sebagai pembimbing bagi akal yang sering bingung menghadapi persoalan ruhani, tujuan hidup, dan kehidupan setelah mati. Manfaat agama bagi penganutnya adalah memberikan ketenangan batin, arah hidup yang jelas, dan standar akhlak yang stabil. Jika akal bisa berubah-ubah, agama memberikan konstanta nilai yang menjamin keadilan bagi seluruh umat manusia.
Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Ma’idah: 3: “…Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridai Islam itu jadi agama bagimu.”
5. Berislam secara Kaffah (Menyeluruh)
Perintah Allah untuk masuk ke dalam Islam secara kaffah berarti totalitas. Islam bukan sekadar urusan ritual di masjid, melainkan mencakup seluruh aspek kehidupan: politik, ekonomi, sosial, hingga adab terkecil dalam keluarga. Sifat dari keberislaman kaffah adalah integratif; tidak memisahkan antara dunia dan akhirat. Tujuannya agar manusia tidak mengambil sebagian hukum Allah dan membuang sebagian lainnya sesuai hawa nafsu, yang justru akan menciptakan kekacauan sistemik.
Perintah ini termaktub jelas dalam QS. Al-Baqarah: 208: “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”
Kesimpulan Hubungan Keempat Hidayah
Keempat hidayah ini bekerja seperti sebuah bangunan. Naluri adalah fondasi, Pancaindra adalah jendela, Akal adalah lampu yang menerangi ruangan, dan Agama adalah kompas yang menunjukkan arah ke mana bangunan itu harus menghadap agar selamat dari badai. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
(disajikan pada cerramah Subuh, 9 April 2026 di Masjid Al-Ukhuwah Zainal Bakar, Simpang Perumahan Mega Permai, Jalan Adinegoro Km 18, Kototangah, Padang, Sumatra Barat)
Padang, 8 Maret 2026