Oleh Zulkarnaini Diran

“….yaitu orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan, …” (QS Ali Imran, 3:134).
Satu dari tiga ciri orang bertaqwa menurut Al-Quraan Surat Ali Imran, 3:134) adalah ”…menahan amarah…”. Tulisan sederhana ini berbicara tentang amarah. Pembicaraan dipilah atas empat bagian. Keempat bagian itu adalah pengertian amarah (bahasa, isitilah Islam, istilah psikologi), profil pisik dan bahasa orang yang sedang marah, efek marah terhadap kesehatan diri, orang lain, dan lingkungan, dan upaya-upaya untuk mencegah dan mengendalikan marah. Mudah-mudahan, tulisan sederhana ini bermanfaat untuk melengkapi syarat sebagai orang yang bertaqwa.
Secara bahasa, amarah berasal dari bahasa Arab al-ghadhab, yang secara harfiah berarti keras, kasar, atau mendidih. Ia menggambarkan gejolak batin yang menuntut pemuasan melalui tindakan tertentu. Dalam terminologi Islam, amarah dipandang sebagai “bara api” yang dilemparkan setan ke dalam hati anak Adam, yang jika tidak dikendalikan, dapat menghanguskan amal kebaikan dan merusak akal sehat.
Dari sisi psikologi, amarah didefinisikan sebagai keadaan emosional yang intensitasnya bervariasi, mulai dari iritasi ringan hingga kemarahan yang membabi buta. Secara psikologis, ini adalah respon protektif terhadap ancaman yang dirasakan, baik itu ancaman fisik maupun ancaman terhadap harga diri atau ego seseorang. Psikologi memandang amarah sebagai salah satu emosi dasar manusia yang memiliki fungsi adaptif, namun menjadi patologis jika frekuensi dan intensitasnya tidak terkendali.
Orang yang sedang marah menunjukkan perubahan fisiologis yang nyata. Secara fisik, wajah biasanya memerah karena aliran darah yang meningkat, otot-otot menegang (terutama di area rahang dan tangan), jantung berdetak lebih kencang (palpitasi), dan napas menjadi pendek serta cepat. Rasulullah SAW pernah menggambarkan tanda fisik ini dalam sebuah hadis: “Ketahuilah, sesungguhnya marah itu adalah bara api di dalam hati anak Adam. Tidakkah kalian melihat merah matanya dan tegang urat lehernya?” (HR. Tirmidzi).
Dari sisi ujaran, kontrol bahasa biasanya hilang. Orang yang marah cenderung menggunakan nada suara yang tinggi (berteriak), kata-kata kasar, makian, hingga hinaan. Secara kognitif, kemampuan berpikir logis menurun drastis sehingga apa yang diucapkan seringkali adalah hal-hal yang akan disesali di kemudian hari. Komunikasi menjadi satu arah dan destruktif, bertujuan untuk menyakiti atau mendominasi lawan bicara.
Terhadap kesehatan diri, amarah yang kronis sangat berbahaya. Secara medis, ledakan amarah meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke karena lonjakan hormon adrenalin dan kortisol yang terus-menerus. Sistem imun pun melemah, membuat tubuh rentan terhadap penyakit. Dalam Islam, hal ini sejalan dengan nasihat Nabi SAW yang diulang-ulang: “Janganlah engkau marah,” (HR. Bukhari), karena dampaknya yang merusak keseimbangan jiwa dan raga.
Terhadap orang lain dan lingkungan, amarah menciptakan suasana yang toksik. Secara sosial, kemarahan yang tidak terkontrol dapat memutus tali silaturahmi, menghancurkan kepercayaan dalam keluarga, dan merusak profesionalisme di tempat kerja. Lingkungan sekitar menjadi tidak nyaman dan penuh ketakutan. Secara sistemik, amarah kolektif dalam sebuah komunitas dapat memicu konflik sosial yang lebih luas dan kekerasan fisik.
Islam dan Psikologi menawarkan sinergi dalam mengendalikan amarah. Langkah pertama yang diajarkan Rasulullah SAW adalah mengubah posisi fisik dan berwudu. Beliau bersabda: “Jika salah seorang di antara kalian marah saat berdiri, duduklah. Jika marahnya belum hilang, berbaringlah” (HR. Abu Dawud). Secara psikologis, ini adalah teknik grounding untuk menurunkan tensi sistem saraf pusat. Berwudu juga berfungsi mendinginkan fisik karena air memadamkan “api” amarah.
Langkah kedua adalah menjaga lisan dengan diam. Memilih untuk tidak berbicara saat emosi memuncak mencegah terjadinya kerusakan yang lebih besar. Selain itu, teknik relaksasi seperti pengaturan napas dalam (deep breathing) membantu otak kembali ke mode berpikir rasional. Menyadari bahwa menahan amarah adalah investasi pahala yang besar, sebagaimana janji Allah dalam QS. Ali Imran: 134, memberikan motivasi spiritual bagi seseorang untuk tetap bersabar.
Sebagai simpulan, amarah adalah energi yang jika tidak dikelola dengan benar akan menjadi kekuatan destruktif bagi diri sendiri dan lingkungan. Secara holistik, amarah melibatkan aspek biologis (fisik), psikologis (jiwa), dan spiritual (iman). Memahami definisi amarah, mengenali tanda-tanda fisiknya, serta menyadari dampak buruknya terhadap kesehatan adalah langkah awal untuk menjadi pribadi yang lebih stabil.
Menahan amarah (al-kadhimina al-ghaidz) bukan berarti lemah, melainkan menunjukkan kekuatan karakter yang sesungguhnya. Sebagaimana sabda Nabi SAW: “Orang yang kuat bukanlah orang yang pandai bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari & Muslim). Dengan mengombinasikan teknik fisik (seperti berwudu dan mengubah posisi) serta teknik mental (diam dan bernapas dalam), kita dapat mencapai derajat ketaqwaan yang diharapkan dalam Al-Qur’an. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat!
(ceramah Subuh, 6 Maret 2026 di Masjid Baiturrahim)
Padang, 5 Maret 2026