Oleh Zulkarnaini Diran

”Sesungguhnya, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS At-Tin [95]:4). Para ulama menerjemahkan bahwa bentuk di sini bukan hanya lahiriah atau bentuk fisik, tetapi juga bentuh batiniah. Artinya, manusia itu diciptakan Allah secara lahir dan batin, jasmani dan ruhani dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Bentuk yang sebaik-baiknya itu dalam proses perjalanan hidup dan kehidupan mengalami bias atau terkontaminasi oleh lingkungannya. Oleh karena itu, untuk mempertahankan “menjadi terbaik” itu, kita harus berjuang. Hal itulah yang dibahas dalam tulisan ini yaitu upaya-upaya untuk tetap “menjadi terbaik”.
Menjadi yang terbaik yang dimaksud tulisan ini adalah “terbaik” dalam perspektif Islam. Indikatornya adalah hal yang dikatakan oleh ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran, Sunnah, dan pendapat para ulama. Menjadi yang terbaik itu pun ada dalam konteks internal dan ekternal. Konteks internal adalah terbaik secara individu dan eksternal terbaik dalam kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Ada tiga hal yang senantiasa dilakukan untuk menjadi yang terbaik adalah “amar makruf, nahi mungkar, dan beriman sesuai dengan rukun iman dalam ajaran Islam.
Secara sederhana, amar makruf berarti mengajak, menganjurkan, atau memberikan contoh kepada orang lain untuk melakukan perbuatan baik yang diridhai Allah. Kebaikan ini mencakup segala hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang banyak, mulai dari hal kecil seperti tersenyum hingga urusan besar seperti ibadah wajib. Dalam Al-Quran, Allah SWT menegaskan bahwa umat Islam menjadi umat terbaik justru karena aktivitas ini. Allah berfirman: “Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran [3]: 110).
Mengajak pada kebaikan bukan berarti kita harus merasa lebih suci. Sebaliknya, ini adalah bentuk kasih sayang kita kepada sesama agar bersama-sama meraih kebahagiaan. Jika kita melihat teman yang sedang malas, mengajaknya kembali bersemangat dalam bekerja atau beribadah adalah bagian dari Amar Makruf. Rasulullah SAW juga menjanjikan pahala yang luar biasa bagi siapa saja yang menunjukkan jalan kebaikan. Dalam sebuah hadis, beliau bersabda: “Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim). Ini artinya, kebaikan yang kita sebar akan terus mengalir pahalanya kepada kita.
Jika Amar Makruf adalah tangan kanan yang mengajak, maka nahi mungkar adalah tangan kiri yang menjaga. Nahi mungkar adalah upaya untuk mencegah, menghalangi, atau memprotes segala bentuk kemaksiatan dan hal-hal yang merugikan (mungkar) agar tidak merusak tatanan masyarakat. Perlu diingat bahwa mencegah keburukan harus dilakukan dengan cara yang bijak, bukan dengan kekerasan yang justru menimbulkan masalah baru. Rasulullah SAW memberikan panduan bertahap dalam sebuah hadis populer: “Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya (kekuasaan). Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemah iman” (HR. Muslim).
Bagi orang awam, cara yang paling sering digunakan adalah dengan lisan (nasehat yang baik) atau dengan hati (mendoakan dan tidak ikut serta dalam keburukan tersebut). Dengan melakukan ini, kita sedang menjaga “lingkungan” agar tidak mengkontaminasi potensi terbaik yang ada dalam diri kita. Nahi mungkar adalah benteng sosial. Tanpa adanya orang-orang yang berani menegur kesalahan, sebuah peradaban bisa hancur karena moralitas yang merosot. Oleh karena itu, menjadi “terbaik” berarti memiliki kepedulian untuk menjaga orang lain dari kerugian.
Pilar ketiga dan yang paling mendasar adalah beriman sesuai rukun iman. Iman adalah mesin penggerak. Tanpa iman, amar makruf dan nahi mungkar hanya akan menjadi aktivitas sosial biasa tanpa nilai ibadah di sisi Allah. Iman memberikan arah dan niat yang tulus dalam setiap langkah hidup kita. Beriman sesuai rukunnya berarti meyakini dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan membuktikan dengan perbuatan tentang adanya Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kiamat, serta Qada dan Qadar. Keyakinan ini membuat seorang manusia merasa selalu diawasi oleh Sang Pencipta.
Allah SWT menjelaskan pentingnya keselarasan antara iman dan amal dalam firman-Nya: “Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; maka mereka akan mendapat pahala yang tidak putus-putusnya.” (QS. At-Tin [95]: 6). Ayat ini merupakan kelanjutan dari ayat yang dikutip pada awal tulisan ini. Artinya, agar manusia tidak jatuh ke derajat yang paling rendah setelah diciptakan dalam bentuk terbaik, kuncinya adalah menjaga iman dan terus berbuat baik (amal saleh). Dalam kehidupan sehari-hari, iman yang kokoh akan melahirkan sifat jujur, amanah, dan sabar. Seseorang yang beriman pada Hari Akhir, misalnya, akan berpikir dua kali sebelum menyakiti orang lain karena ia tahu setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban.
Menjadi yang terbaik bukanlah sebuah tujuan akhir, melainkan sebuah proses perjalanan. Dengan menjalankan amar makruf dan nahi mungkar, kita berperan sebagai mahluk sosial yang bermanfaat. Dengan menjaga iman, kita menjaga hubungan vertikal kita dengan Allah SWT. Ketiga hal ini saling berkaitan. Iman adalah akarnya, amar makruf adalah batangnya yang menjulang tinggi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat dari nahi mungkar adalah buahnya. Jika ketiganya dijalankan secara seimbang, maka predikat “sebaik-baiknya bentuk” (ahsanu taqwim) akan tetap melekat pada diri kita. Mudah-mudahan kita terus berjuang untuk menjadi dan mempertahankan “yang terbaik” dalam hidup dan kehidupan menuju ridha Allah SWT.
Padang, 15 Maret 2026