Oleh Zulkarnaini Diran

Ada tiga kondisi seorang hamba menyangkut dengan urusan rezeki. Pertama, sebelum Allah SWT memberinya rezeki yaitu kondisi usaha, kedua, kondisi setelah usaha itu membuahkan hasil, dan ketiga, kondisi setelah selesai dengan urusan rezeki tersebut. Hal itu diungkapkan oleh Syekh Abu Abbas al-Mursi r.a. (616 – 686 H atau 1219 – 1286 M) yang dikutip oleh Ibnu Athai’llah as-Sakandari dalam kitab At-Tannwir fi Isaqath at-Tadbir (2021:328).
Pemikiran Syekh Abu Abbas al-Mursi yang dikutip oleh Ibnu Atha’illah as-Sakandari memberikan panduan spiritual yang sangat mendalam mengenai bagaimana seharusnya seorang hamba bersikap terhadap rezeki. Ajaran ini bukan sekadar teori, melainkan seni menata hati agar kita tidak diperbudak oleh urusan duniawi.
Pada tahap pertama, fokus utama seorang hamba adalah ikhtiar atau usaha. Syekh Abu Abbas menekankan bahwa saat kita sedang bekerja, hati kita harus tetap terpaut kepada Allah, bukan kepada tenaga atau kecerdasan kita sendiri. Banyak orang terjebak dalam rasa khawatir yang berlebihan saat berusaha, seolah-olah keberhasilan itu murni hasil keringatnya sendiri.
Secara spiritual, usaha adalah bentuk ibadah dan kepatuhan terhadap perintah Allah untuk mencari karunia-Nya di muka bumi. Namun, yang perlu diingat adalah kita hanya diperintahkan untuk “mengetuk pintu” rezeki, sementara yang memegang kunci pintu tersebut tetaplah Allah SWT. Jangan sampai kesibukan mencari rezeki membuat kita melupakan Sang Pemberi Rezeki itu sendiri.
Allah SWT berfirman, “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10). Ayat ini mengajarkan keseimbangan. Kita boleh (bahkan diperintah) bertebaran mencari nafkah, namun syarat utamanya adalah tetap “mengingat Allah banyak-banyak”. Keberuntungan yang sesungguhnya bukan hanya pada nominal uang yang didapat, melainkan pada ketenangan hati saat menjemputnya.
Kondisi kedua terjadi ketika usaha tersebut mulai menampakkan hasil. Di titik ini, ujian yang datang adalah syukur dan tauhid. Syekh Abu Abbas mengingatkan agar kita tidak melihat hasil tersebut sebagai prestasi pribadi, melainkan sebagai anugerah murni dari Allah. Bahayanya, ketika seseorang merasa berhasil karena kemampuannya sendiri, ia akan jatuh pada sifat sombong seperti Karun.
Orang awam sering kali merasa tenang hanya saat uang ada di tangan, dan merasa gelisah saat uang itu belum nampak. Padahal, seharusnya ketenangan itu bersumber dari keyakinan bahwa Allah telah menjamin rezeki setiap makhluk. Saat rezeki tiba, sikap yang benar adalah mengembalikannya kepada Allah dengan ucapan “Hadza min fadhli Rabbi” (Ini adalah karunia Tuhanku).
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang sangat indah mengenai mentalitas seorang mukmin terhadap rezeki, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya adalah baik… Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim). Syukur di sini bukan hanya di lisan, melainkan pengakuan dalam hati bahwa tanpa izin Allah, sekeras apa pun usaha kita, hasil itu tidak akan pernah sampai ke tangan kita. Dengan bersyukur, Allah menjanjikan tambahan nikmat yang lebih luas, baik secara kuantitas maupun keberkahan.
Kondisi ketiga adalah saat rezeki tersebut sudah kita miliki dan kita gunakan. Setelah urusan mendapatkan rezeki selesai, tanggung jawab berikutnya adalah amanah dan zuhud. Syekh Abu Abbas mengajarkan agar rezeki tersebut tidak membuat kita lalai atau justru menjauhkan kita dari jalan Allah. Rezeki yang sudah di tangan harus diletakkan di tangan, bukan di dalam hati.
Banyak orang yang setelah mendapatkan rezeki justru menjadi kikir atau menggunakannya untuk hal-hal yang tidak diridhai Allah. Di sinilah pentingnya sikap wara’ (berhati-hati). Seorang hamba yang bijak akan melihat rezeki sebagai alat atau bekal untuk akhirat, bukan tujuan akhir yang harus ditimbun tanpa manfaat bagi sesama. Allah SWT mengingatkan dalam Al-Qur’an mengenai bahaya melalaikan kewajiban setelah diberi kecukupan, “Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Munafiqun: 9).
Setelah selesai mendapatkan rezeki, seorang hamba seharusnya merasa ringan untuk berbagi. Ia sadar bahwa di dalam hartanya ada hak orang lain. Dengan melepaskan keterikatan hati terhadap apa yang sudah didapat, seseorang akan mencapai derajat “selesai dengan urusan rezeki”, di mana ada atau tidak adanya harta, hatinya tetap merasa kaya bersama Allah.
Ketiga kondisi yang diungkapkan oleh Syekh Abu Abbas al-Mursi ini merupakan sebuah siklus perjalanan spiritual. Mulai dari tawakkal saat berusaha, syukur saat menerima, hingga amanah saat mengelola. Jika ketiga hal ini diterapkan, maka urusan rezeki tidak akan lagi menjadi beban pikiran yang menyesakkan, melainkan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Sang Khaliq. Akhirnya, mari kita renungkan sabda Rasulullah SAW, “Kekayaan yang sejati bukanlah dengan banyaknya harta benda, melainkan kekayaan yang sejati adalah kaya hati (merasa cukup).” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dengan memahami tiga kondisi ini, kita diajak untuk menjadi pribadi yang bekerja keras secara lahiriah, namun tetap tenang secara batiniah. Rezeki tidak akan tertukar, dan tugas kita hanyalah menjaga adab di hadapan Allah dalam setiap tahapan datangnya rezeki tersebut. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 28 April 2026