NASEHAT

Oleh Zulkarnaini Diran

Nasehat ini ditujukan kepada mereka yang sombong, tamak, dan dengki. Dikisahkan, Aun bin Abdullah menemui al-Fadhal bin Muhallab. “Aku ingin menasehatimu!” katanya. “Apa nasehatmu?” kata al-Fadhal. “Jauhi kesombongan, karena itulah dosa pertama kali yang dilakukan kepada Allah SWT!” Aun bin Abdullah mengutip Al-Quran, “Sujudlah kamu sekalian kepada Adam, lalu mereka bersujud, kecuali Iblis” (QS Al-Baqarah [2]:34).

Selanjutnya, Aun berkata, “Jauhkan dirimu dari tamak, karena tamak atau serakah telah mengeluarkan Adam dari Surga”, dia mengutip Al-Quran, “Turunlah kamu darinya…” (QS Al-Baqarah [2]:38.). Aun melanjutkan nasehatnya, “Jauhkan dirimu dari kedengkian, karena anak Adam membunuh saudaranya karena kedengkian. Dia mengutip Al-Quran, “Ceritakan kepada mereka kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya” (QS Al-Maidah [5]:27. Itulah tiga nasihat yang disampaikan Aun kepada el-Fadhal. (Al-Mustakhlash fii Tazkiyatil Anfus, 2000:203)

Nasihat yang disampaikan oleh Aun bin Abdullah kepada al-Fadhal bin Muhallab merupakan ringkasan dari akar segala penyakit hati yang dapat membinasakan manusia. Ketiga sifat tersebut—sombong, tamak, dan dengki—bukan sekadar akhlak buruk, melainkan “induk” dari kemaksiatan yang telah tercatat sejak awal penciptaan makhluk.

Nasihat pertama adalah menjauhi kesombongan (al-kibr). Aun bin Abdullah mengingatkan bahwa sombong adalah dosa pertama yang dilakukan makhluk kepada Allah SWT. Pelakunya adalah Iblis. Ketika Allah memerintahkan para malaikat dan Iblis untuk sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan, Iblis menolak. Ia merasa unsur penciptaannya (api) lebih mulia daripada Adam (tanah).

Sifat sombong adalah kondisi di mana seseorang merasa lebih tinggi, lebih hebat, atau lebih berharga dibandingkan orang lain, sehingga ia meremehkan sesama dan menolak kebenaran. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW mendefinisikan sombong dengan sangat jelas, “Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim).

Dampak dari kesombongan sangatlah fatal. Iblis yang sebelumnya merupakan ahli ibadah, seketika terusir dari rahmat Allah dan dilaknat selamanya hanya karena satu sifat ini. Al-Qur’an mengabadikan pembangkangan Iblis, “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir.” (QS Al-Baqarah [2]:34)

Bagi kita orang awam, sombong bisa muncul dalam bentuk merasa paling pintar, paling kaya, atau bahkan merasa paling suci. Padahal, segala kelebihan yang kita miliki hanyalah titipan sementara. Jika Allah menghendaki, semua itu bisa hilang dalam sekejap. Oleh karena itu, rendah hati (tawadhu) adalah satu-satunya obat untuk menangkal racun kesombongan ini.

Nasihat kedua adalah menjauhi ketamakan (al-hirsh atau keserakahan. Aun bin Abdullah mengisahkan bahwa sifat inilah yang menyebabkan Nabi Adam AS terusir dari surga. Meskipun surga penuh dengan kenikmatan yang tak terbatas, Adam tergoda oleh bisikan setan untuk memakan buah dari pohon terlarang demi keabadian yang dijanjikan secara palsu.

Tamak adalah keinginan yang tidak pernah puas terhadap dunia. Orang yang tamak selalu merasa kurang, meskipun ia sudah memiliki lebih dari cukup. Ia mengejar dunia dengan cara yang tidak sehat hingga melupakan batasan yang telah ditetapkan oleh Allah. Fokus hidupnya hanya pada “menambah” dan “mengumpulkan” tanpa peduli pada keberkahan.

Allah SWT mengingatkan akibat dari sifat ini, “Kami berfirman: ‘Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.'”(QS Al-Baqarah [2]:38)

Sifat tamak seringkali membuat manusia diperbudak oleh hartanya sendiri. Rasulullah SAW pernah bersabda mengenai tabiat manusia yang tak pernah puas, “Seandainya manusia memiliki satu lembah emas, niscaya ia akan menginginkan lembah yang kedua. Dan tidak ada yang dapat menyumbat mulutnya (menghentikan ketamakannya) kecuali tanah (kematian).” (HR. Bukhari & Muslim).

Untuk mengobati ketamakan, kita perlu menumbuhkan sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang ada dan mensyukuri setiap rezeki yang diterima. Dengan merasa cukup, hati akan menjadi tenang dan kita tidak akan menghalalkan segala cara demi memuaskan nafsu duniawi yang tiada ujungnya.

Nasihat ketiga adalah menjauhi kedengkian (al-hasad) atau iri hati. Aun bin Abdullah merujuk pada kisah Qabil dan Habil, dua putra Nabi Adam. Kedengkian muncul ketika Qabil tidak terima kurbannya ditolak oleh Allah sementara kurban saudaranya, Habil, diterima. Rasa iri yang membara di hati Qabil akhirnya mendorongnya melakukan pembunuhan pertama dalam sejarah manusia.

Dengki adalah perasaan tidak senang melihat orang lain mendapatkan nikmat dan ada keinginan agar nikmat tersebut hilang dari orang tersebut. Sifat ini sangat berbahaya karena ia memakan kebaikan seseorang sebagaimana api memakan kayu bakar. Dengki membuat pelakunya tersiksa secara batin karena ia terus-menerus memantau kebahagiaan orang lain dengan rasa benci.

Allah SWT memerintahkan kita menceritakan kisah ini sebagai pelajaran, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata: ‘Aku pasti membunuhmu!’…” (QS Al-Maidah [5]:27). Rasulullah SAW juga memberikan peringatan keras mengenai bahaya hasad dalam sabdanya, “Waspadalah kalian terhadap sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.” (HR. Abu Dawud).

Cara terbaik untuk menghindari kedengkian adalah dengan menyadari bahwa Allah adalah Maha Adil dalam membagikan rezeki dan anugerah-Nya. Setiap orang memiliki porsi masing-masing. Daripada merasa iri, alangkah baiknya jika kita ikut mendoakan keberkahan bagi orang lain agar hati kita pun turut dibersihkan dari penyakit yang merusak amal ibadah ini.

Ketiga nasehat Aun bin Abdullah ini merupakan pondasi dalam membangun karakter seorang mukmin yang bersih hatinya. Dengan menjauhi kesombongan, kita mengakui keagungan Allah. Dengan menjauhi ketamakan, kita menjaga martabat diri dari perbudakan dunia. Dan dengan menjauhi kedengkian, kita menciptakan kedamaian dalam hubungan bertetangga dan bersaudara.

Semoga penjelasan ini memberikan pemahaman yang mendalam bagi kita semua untuk senantiasa bermuhasabah (introspeksi diri) dan menjauhkan diri dari tiga sifat yang membinasakan tersebut. Sesungguhnya keselamatan seseorang di dunia dan akhirat sangat bergantung pada kesucian hatinya dari penyakit-penyakit ini. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 30 April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *