Oleh Zulkarnaini Diran

Setiap muslim diwajibkan untuk mendirikan salat. Mendirikan salat berarti mengikuti kaidah-kaidah yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasul serta diarahkan oleh paraulama. Sebagai muslim yang taat, tentu kita berupaya meningkatkan kualitas dan kuantitas salat itu. Salah satu upaya yang paling mangkus untuk mencapai itu adalah terus belajar menyempurnakan salat kita dari hari ke hari.
Menurut para ulama, yang dipetik dari berbagai sumber, ada tujuh langkah yang dapat ditempuh untuk mencapai kualitas dan kuantitas salat yang sempurna. Ketujuh hal itu adalah: (1) belajar menyempurnakan bacaan; (2) belajar memahami arti bacaan; (3) belajar menyempurnakan gerakan; (4) belajar menangkap hikmah bacaan dan gerakan; (5) belajar mengoreksi kesalahan dalam salat; (6) belajar salat berdasarkan dalil Quran dan Sunnah; (7) belajar kepada orang berilmu. Insyaallah ketujuh hal itu dapat membantu kita dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas salat.
Langkah pertama yang paling mendasar adalah memastikan setiap huruf dan tajwid dalam bacaan salat diucapkan dengan benar. Salat melibatkan lisan, dan kesalahan dalam pengucapan—terutama dalam surat Al-Fatihah—dapat mengubah makna dan berisiko membatalkan salat. Pentingnya kebenaran bacaan ini didasarkan pada perintah Allah dalam Al-Qur’an, “…Dan bacalah Al-Qur’an itu dengan perlahan-lahan (tartil).” (QS. Al-Muzzammil: 4). Tartil berarti mengucapkan setiap huruf dari makhrajnya dengan benar dan tepat.
Setelah lisan fasih mengucapkan, hati harus mulai memahami apa yang diucapkan. Tanpa memahami arti, salat seringkali menjadi gerakan hampa yang rawan membuat pikiran melantur ke urusan duniawi. Memahami arti adalah kunci utama untuk meraih kekhusyukan. Dengan memahami arti, kita sadar bahwa kita sedang memuji Allah, memohon ampunan, dan meminta petunjuk. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba melakukan salat, namun tidak dicatat baginya kecuali sepersepuluh, sepersembilan… hingga setengahnya.” (HR. Abu Daud). Hal ini bergantung pada sejauh mana kesadaran dan kehadiran hati dalam memahami setiap kalimat yang dibisikkan kepada Allah.
Salat bukan hanya ibadah lisan, tapi juga ibadah tubuh atau pisik. Setiap gerakan dari takbir hingga salam memiliki tata cara yang sudah ditentukan. Gerakan yang terburu-buru tanpa tumaninah (ketenangan sejenak) dapat merusak keabsahan salat seseorang. Rasulullah SAW memberikan standar yang sangat jelas mengenai hal ini, “Salatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku salat.” (HR. Bukhari). Beliau juga pernah menyuruh seseorang mengulangi salatnya tiga kali karena gerakannya tidak tenang, seraya bersabda, “Kembalilah dan salatlah, karena sesungguhnya engkau belum salat.”
Setiap bagian dalam salat mengandung filosofi mendalam. Misalnya, posisi sujud adalah saat manusia berada pada posisi paling rendah secara fisik (kepala sejajar dengan tanah), namun secara spiritual sedang berada pada posisi terdekat dengan Allah Yang Maha Tinggi. Hikmah ini selaras dengan hadis Nabi SAW, “Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa di dalamnya.” (HR. Muslim). Memahami hikmah membuat salat tidak lagi terasa sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan spiritual yang menenangkan jiwa.
Sebagai manusia, kita tidak luput dari lupa atau salah, seperti ragu akan jumlah rakaat atau meninggalkan salah satu sunnah. Mempelajari Sujud Sahwi (sujud karena lupa) adalah bagian penting dari perbaikan kualitas salat agar kita tahu cara menyempurnakan kekurangan tersebut tanpa harus mengulang dari awal. Ketentuan mengenai koreksi kesalahan ini dijelaskan oleh Rasulullah SAW, “Jika salah seorang dari kalian ragu dalam salatnya, hendaklah ia memilih yang benar lalu sempurnakanlah, kemudian salam, setelah itu sujudlah dua kali (sujud sahwi).” (HR. Bukhari & Muslim).
Agar ibadah diterima, ia harus memiliki dasar yang jelas (syariat). Belajar berdasarkan dalil memastikan bahwa salat kita bukan sekadar mengikuti tradisi atau kebiasaan tanpa dasar hukum yang kuat. Ilmu memberikan keyakinan (keyakinan), dan keyakinan melahirkan ketenangan dalam beribadah. Allah SWT berfirman mengenai pentingnya dasar dalam beragama, “Katakanlah: ‘Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah (bukti/dalil) yang nyata…'” (QS. Yusuf: 108).
Mempelajari agama secara autodidak, terutama untuk urusan teknis seperti salat, berisiko menimbulkan salah paham. Guru atau orang yang berilmu berfungsi untuk mengoreksi bacaan kita, membenarkan gerakan yang keliru, serta memberikan penjelasan yang lebih mendalam yang mungkin tidak kita temukan saat membaca sendiri. Al-Qur’an memberikan arahan eksplisit mengenai hal ini, “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43). Pendapat ulama menyebutkan bahwa ilmu yang didapat dari guru memiliki keberkahan karena adanya transmisi pemahaman yang terjaga.
Meningkatkan kualitas salat melalui tujuh tahapan di atas—mulai dari teknis bacaan hingga berguru pada ahli—adalah wujud nyata dari penghambaan kita kepada Allah. Salat yang berkualitas akan melahirkan pribadi yang tenang dan terjaga dari perbuatan keji serta mungkar. Semoga upaya kita dalam mendalami setiap elemen salat ini menjadi jalan yang dimudahkan Allah menuju derajat insan kamil yang senantiasa menjaga hubungan baik dengan Sang Khalik. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih.
Padang, 19 Mei 2026
Disarikan dari berbagai sumber seperti:
- Tuntunan Shalat Rsulullah, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
- Tafsir Shalat, Ammi Nur Baits
- Shalat Sunat , Muhammad bin Umar Bazmul