Oleh Zulkarnaini Diran

Ada dua kesalehan yang dikenal di dalam ajaran Islam. Keduanya adalah kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Antara yang satu dengan yang lain memiliki hubungan yang sangat erat. Hubungan itu bagaikan berkorelasi. Korelasinya akan terlihat apabila kesalehan spiritual terpeunuhi secara utuh, sempurna, dan sesuai kaidah, maka kesalehan sosial akan tumbuh dengan subur. Sekurang-kurangnya hal itu terungkap dalam berbagai kajian ilmiah tentang kesalehan.
Secara etimologi, kata saleh berasal dari bahasa Arab yang berarti baik, layak, atau patut. Dalam konteks Islam, kesalehan bukan sekadar berperilaku baik menurut standar manusia, melainkan kesesuaian perilaku seseorang dengan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Seseorang disebut saleh jika ia mampu menyeimbangkan kewajibannya kepada Allah dan tanggung jawabnya kepada sesama makhluk.
Kesalehan adalah sebuah integritas. Pakar psikologi Islam, seperti Prof. Zakiah Daradjat, sering menekankan bahwa kesalehan merupakan cerminan dari kesehatan mental yang prima. Seseorang merasa damai dengan Sang Pencipta dan harmonis dengan lingkungannya. Jadi, saleh bukan berarti menjauh dari dunia, melainkan mewarnai hidup dan kehidupan dengan kebaikan, dan mewanai dunia dengan kebaikan.
Kesalehan spiritual (sering disebut kesalehan individual) berfokus pada hubungan vertikal antara hamba dengan Allah SWT (Hablum Minallah). Ini mencakup kualitas keimanan, ketulusan niat, dan ketaatan dalam menjalankan ibadah ritual seperti shalat, puasa, dan dzikir. Intinya adalah pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs) agar hati selalu terhubung dengan sumber kebenaran. Hati selalu merasa di awasi oleh Sang Maha Pencipta.
Langkah-langkah untuk mencapainya dimulai dengan pembersihan akidah dari kemusyrikan, dilanjutkan dengan istiqomah dalam ibadah wajib, serta memperbanyak amalan sunnah sebagai tambahan energi ruhani. Hal ini sejalan dengan firman Allah, “….Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). (QS Al-Ankabut: [29]: 45. Shalat yang benar seharusnya mencegah perbuatan keji dan mungkar, yang merupakan titik awal transformasi dari ritual menuju perilaku nyata.
Kesalehan sosial adalah manifestasi dari nilai-nilai spiritual dalam interaksi kemanusiaan (Hablum Minannas). Seseorang dikatakan saleh secara sosial jika ia memiliki kepekaan terhadap penderitaan orang lain, santun dalam bertutur kata, jujur dalam muamalah, serta menjadi solusi bagi problem di masyarakatnya. Ibadah dalam konteks ini tidak lagi dilakukan di atas sajadah saja, melainkan di pasar, kantor, di lingkungan tetangga, dan lingkungan social lainnya.
Proses mencapainya memerlukan empati yang diasah terus-menerus. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ahmad). Proses ini dimulai dari lingkungan terkecil (keluarga), lalu meluas ke tetangga melalui zakat, sedekah, dan gotong royong, hingga mencapai level kepedulian terhadap isu-isu kemanusiaan global.
Hubungan antara kesalehan spiritual dan sosial adalah hubungan sebab-akibat (kausalitas) yang tak terpisahkan. Kesalehan spiritual bertindak sebagai “akar” atau sumber energi, sedangkan kesalehan sosial adalah “buah” atau hasilnya. Tanpa akar yang kuat, buah tidak akan tumbuh, namun, jika ada akar tapi tidak berbuah, maka pohon tersebut dianggap tidak produktif atau bermasalah.
Secara korelasi, semakin tinggi kualitas spiritual seseorang (semakin merasa diawasi Allah), maka seharusnya semakin baik pula etika sosialnya. Syekh Muhammad Abduh, seorang pemikir modernis, pernah menyatakan bahwa Islam adalah agama yang menekankan amal saleh sebagai bukti keimanan. Jika seseorang rajin beribadah namun masih suka menyakiti orang lain, maka ada “korsleting” dalam pemahaman spiritualnya.
Dalam kehidupan bermasyarakat, implementasi kedua kesalehan ini terlihat ketika nilai kejujuran dari shalat terbawa ke dalam transaksi perdagangan yang adil. Ketika rasa lapar saat puasa bertransformasi menjadi gerakan pemberian bantuan pangan bagi fakir miskin. Masyarakat yang ideal adalah masyarakat yang anggotanya tidak hanya memenuhi masjid, tetapi juga aktif dalam menjaga kebersihan lingkungan dan keamanan bersama.
Tokoh seperti KH. Ahmad Dahlan mencontohkan ini dengan sangat baik. Beliau tidak hanya mengajarkan ayat-ayat Al-Ma’un, tetapi langsung mengajak muridnya untuk menyantuni anak yatim. Inilah bentuk nyata di mana “teologi” bertransformasi menjadi “sosiologi”. Kesalehan tidak berhenti pada perasaan tenang secara pribadi, melainkan pada terciptanya kedamaian dan kesejahteraan kolektif.
Simpulannya adalah, kesalehan spiritual dan sosial bukanlah dua jalan yang berbeda, melainkan satu kesatuan jalur pengabdian kepada Allah. Spiritual memberikan landasan moral dan ketulusan, sementara sosial memberikan ruang pembuktian dari iman tersebut. Seseorang yang benar-benar saleh akan tampak wajahnya bercahaya karena sujudnya, namun tangannya juga senantiasa ringan membantu kesulitan sesama.
Harmonisasi kedua jenis kesalehan ini adalah kunci bagi tegaknya peradaban yang mulia. Tanpa kesalehan spiritual, aksi sosial hanya akan menjadi pencitraan yang hampa. Sebaliknya, tanpa kesalehan sosial, ibadah ritual hanya akan menjadi rutinitas tanpa makna. Dengan memadukan keduanya, kita tidak hanya menjadi hamba yang dicintai Allah, tetapi juga manusia yang dihargai oleh semesta. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terimakaih!
Padang, 14 Mei 2026