Oleh Zulkarnaini Diran

Pemberian orang tua yang paling berharga bagi anak-anaknya adalah pendidikan. Orang tua harus memahami itu. Pendidikan menjadikan mereka anak-anak saleh, penyejuk hati di dunia dan akhirat. Pendidikan melestarikan fitrah mereka yang suci berupa kecendrungan terhadap kebenaran, akidah tauhid, dan akhlak mulia. Hal itu mutlak, wajib, dan harus dilakukan oleh kedua orang tua karena kehadiran anak di dalam keluarga merupakan pertanda bahwa orang tua “mengikhlaskan diri” menerima amanah.
Imam Al-Gazali mengatakan, “Hati anak-anak masih suci, ibarat permata yang mahal harganya. Apabila mereka dibiasakan pada suatu yang baik dan dididik, niscaya dia tumbuh dengan sifat-sifat baik, dan akan bahagia dunia dan akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan tradisi buruk, diabaikan seperti hewan, niscaya dia akan hancur dan binasa.” Hal ini dapat dirujuk oleh orang tua bahwa ekologi atau lingkungan yang baik akan menumbuh-kembankan fitrah suci anak. Lingkungan yang buruk akan mengotori dan merusak fitrah suci mereka.
Orang tua tentu perlu membekali diri agar dapat menjadi pendidik bagi anak-anaknya. Bekal yang sangat diperlukan adalah kemampuan menciptakan lingkungan rumah yang kondusif, mengenali materi awal yang dibutuhkan, menguasai cara (pendekatan, metode, dan teknik) mendidik. Selanjutnya menguasai cara mengevaluasi dan menindaklanjuti hasil dan dan dampak pendidikan yang dilaksanakan di dalam keluarga. Keempat substansi itu perlu dikenal, dipahami, dihayati, dan kalau prlu dapat diterapkan oleh orang tua dalam melaksanakan pendidikan untuk mengantarkan anak menjadi anak yang saleh dan saleha.
Orang tua harus memahami bahwa di atas limpahan harta dan kemewahan duniawi, pendidikan karakter serta agamalah yang menjadi modal abadi bagi anak. Pendidikan itu bertujuan menjadikan mereka sebagai anak-anak saleh dan salehah, penyejuk hati (qurrota ‘ayun) di dunia maupun di akhirat. Pendidikan yang tepat akan melestarikan fitrah suci anak berupa kecenderungan terhadap kebenaran, akidah tauhid yang kokoh, serta akhlak yang mulia. Hal ini bersifat mutlak dan wajib dilakukan oleh kedua orang tua karena kehadiran anak merupakan wujud nyata ikrar kesiapan menerima amanah dari Sang Maha Pencipta.
Orang tua harus menyadari bahwa pengasuhan bukan sekadar tugas sampingan, melainkan tugas utama kepemimpinan spiritual di dalam rumah tangga. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin di dalam keluarganya… dan seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya…” (HR. Bukhari dan Muslim). Kesadaran ini menuntut ayah dan bunda untuk hadir secara utuh, tidak melempar tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah atau lembaga formal semata.
Pondasi pertama dan utama yang wajib ditanamkan adalah tauhid—mengenalkan anak kepada Allah SWT sebagai Pencipta dan Pelindung. Sebagaimana teladan dalam Al-Qur’an ketika Luqman Al-Hakim mendidik anaknya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar'” (QS. Luqman [31]: 13). Akidah yang tancap kuat sejak kecil akan menjadi benteng moral anak hingga mereka dewasa kelak.
Pendidikan karakter tidak akan efektif hanya melalui lisan, melainkan lewat visualisasi tindakan. Anak adalah peniru yang sangat ulung. Mereka lebih banyak belajar dari apa yang mereka lihat ketimbang apa yang mereka dengar. Pakar pendidikan Islam, Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad fil Islam, menempatkan pembinaan lewat keteladanan pada urutan pertama. Jika orang tua menginginkan anak yang rajin beribadah dan bersikap sopan, maka ayah dan bunda harus terlebih dahulu menampilkan perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Lingkungan rumah adalah madrasah pertama (al-madrasatul ula). Orang tua bertugas menciptakan suasana rumah yang hangat, penuh kasih sayang, serta jauh dari kekerasan dan perselisihan yang tidak perlu. Ekologi rumah yang kondusif dibangun di atas fondasi komunikasi yang terbuka, pembiasaan ibadah bersama, serta pengawasan terhadap pengaruh media dan pergaulan luar. Rumah hendaknya menjadi tempat paling aman dan nyaman bagi anak untuk pulang dan bertumbuh.
Mendidik anak memerlukan ilmu dan seni (parenting). Orang tua perlu mempelajari perkembangan psikologi anak agar dapat menyesuaikan metode pengasuhan sesuai jenjang usia. Ali bin Abi Thalib RA pernah berpesan: “Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup bukan di zamanmu.” Orang tua harus menguasai metode mendidik melalui pembiasaan, nasihat yang menyentuh hati, perhatian dan pengawasan, serta kedisiplinan yang berlandaskan rasa kasih sayang, bukan ketakutan.
Pendidikan anak yang berhasil membutuhkan keselarasan visi antara ayah dan ibu. Ayah bertindak sebagai nahkoda yang memberikan arahan strategis, ketegasan, dan perlindungan, sementara ibu menjadi jantung keluarga yang memberikan kehangatan, kelembutan, dan pemeliharaan emosional. Pakar pendidikan modern menegaskan bahwa konflik orang tua yang tidak terselesaikan di depan anak dapat merusak kesehatan mental dan memicu penyimpangan perilaku pada anak.
Anak yang saleh tidak hanya taat secara ritual (hablum minallah), tetapi juga memiliki kesalehan sosial (hablum minan nas). Sejak kecil, anak perlu dilatih untuk memiliki sifat empati, jujur, dermawan, serta menghormati sesama. Rasulullah SAW menegaskan pentingnya perbaikan moral ini dalam sabdanya: “Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari seorang ayah kepada anaknya melainkan budi pekerti yang baik” (HR. Tirmidzi).
Orang tua harus memiliki kemampuan mengevaluasi hasil dan dampak pendidikan yang telah diterapkan di dalam keluarga. Evaluasi ini dilakukan bukan untuk menghakimi kekecewaan atas kekurangan anak, melainkan untuk melihat sejauh mana perkembangan emosional, spiritual, dan intelektual mereka. Melalui evaluasi berkala, orang tua dapat segera melakukan koreksi dan penyesuaian strategi pengasuhan jika ditemukan indikasi penyimpangan perilaku. Hasilnya dijadikan sebagai Langkah tindaklanjut untuk mencapai yang lebih baik.
Hal krusial yang sering dilupakan adalah pengaruh kehalalan asupan terhadap pertumbuhan jiwa anak. Makanan dan harta yang digunakan untuk membesarkan anak akan menjadi darah dan daging yang mempengaruhi kepekaan hati mereka. Makanan yang haram dapat mengeras mata hati dan menyulitkan anak menerima petunjuk kebaikan. Sebaliknya, rezeki yang halal dan thayyib menjadi pintu pembuka keberkahan dan kemudahan dalam membentuk anak yang taat.
Di atas segala ikhtiar dan metode manusiawi, doa orang tua adalah kunci pamungkas yang menembus langit. Doa orang tua untuk anaknya termasuk dalam doa yang mustajab (mudah dikabulkan). Orang tua hendaknya senantiasa memohon sebagaimana doa para hamba Allah dalam Al-Qur’an, “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-Furqan [25]: 74).
Jadi, membentuk anak menjadi sosok yang saleh dan salehah bukanlah hasil dari sebuah kebetulan, melainkan buah dari proses panjang yang penuh kesadaran, pengorbanan, dan ilmu. Kehadiran anak sebagai amanah Allah menuntut orang tua untuk terus belajar membekali diri—mulai dari meluruskan niat, membangun ekologi rumah yang subur akan nilai agama, memberikan keteladanan, menguasai ilmu pengasuhan, hingga mengetuk pintu langit melalui doa yang tak pernah putus. Ketika ayah dan bunda berhasil mengemban tanggung jawab krusial ini, maka anak tidak hanya menjadi kebanggaan di dunia, tetapi juga menjadi tabungan pahala abadi yang senantiasa mengalirkan doa bagi orang tuanya hingga di akhirat kelak. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih.
Manna, Bengkulu Selatan, 26 Agustus 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman mendidik anak.