(Mengenang Sang Cucu, Arshaka Adnan Athaya bin Andi Martono)*)
Oleh Zulkarnaini Diran

Iman seorang hamba selalu diuji oleh Allah SWT. Ujian itu muncul dalam berbagai wujud. Kesenangan, kebahagiaan, kegembiraan dan sejenisnya merupakan ujian yang tidak terasa, tetapi nyata. Allah kadang-kadang mengambil satu dari sekian banyak faktor yang menjadikan hamba-Nya berbahagia. Harta yang banyak amblas dalam tempo yang singkat, pada hal untuk mendapatkan dan mengumpulkannya telah menguras energi, waktu, dan pengorbanan lain. Anak yang disayangi, cucu yang dicintai, dan anggota keluarga lain yang didambakan diambil kembali oleh Allah SWT secara tiba-tiba, secara drastis. Begitulah Allah menguji hamba-Nya, menguji iman hamba-Nya.
Hamba yang beriman lemah tidak akan lulus dalam ujian Allah SWT. Dia akan ambruk, hancur, dan putus asa menerima ujian ini. Kehilangan adalah sesuatu yang mengenaskan, menyakitkan, dan menyedihkan. Mereka yang beriman kuat tetap saja mendapat “tamparan” hebat dengan ujian ini. Akan tetapi, mereka tetap berpegang teguh kepada keyakinannya. Hal yang ditimpakan kepada seorang hamba itulah “yang terbaik” menurut Allah SWT, meskipun bukan yang terbaik menurut selera hamba. Mereka yang beriman kuat dan teguh akan mengembalikan segala sesuatu kepada Sang Kahlik. Saat itulah hamba dinayatakan “lulus” dalam ujian-Nya.
Ujian (ibtilā’ atau miḥnah) merupakan Sunnatullah yang pasti berlaku bagi setiap hamba yang mengaku beriman. Ujian tidak selalu hadir dalam bentuk penderitaan, melainkan juga dalam wujud kesenangan, kelapangan, dan kenikmatan. Al-Qur’an menegaskan, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan.” (QS Al-Anbiya’ […]: 35)
Banyak manusia tidak menyadari bahwa kelimpahan harta, popularitas, serta keturunan yang membanggakan kerap menjadi ujian yang lebih berat daripada kemiskinan dan kemalangan. Ibnu al-Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa ujian berupa kenikmatan sering kali menipu karena mengikis kewaspadaan rohani (ghaflih), sedangkan ujian berupa kesulitan cenderung mendekatkan hamba kembali kepada Penciptanya.
Peristiwa kehilangan harta yang dikumpulkan dengan susah payah serta pulangnya anggota keluarga tercinta ke hadirat Allah SWT merupakan bentuk ujian yang nyata. Dalam pandang teologi Islam, segala sesuatu yang ada di tangan manusia statusnya hanyalah titipan (amānah). Itu semua bukan kepemilikan mutlak (milkiyyah tāmma) setiap hamba. Allah SWT mengingatkan kepastian hadirnya bentuk-bentuk ujian kepedihan ini, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]: 155)
Ketika Allah mengambil kembali harta atau nyawa orang-orang tercinta secara mendadak, Dia sebenarnya sedang menguji kadar keikhlasan dan kesadaran tauhid hamba-Nya: apakah sang hamba lebih mencintai Pemberi nikmat atau nikmat itu sendiri. Terhunjam tidaknya iman di dada seorang hamba akan terlihat dalam menyikapi kondisi ini.
Hamba yang memiliki basis keimanan rapuh akan runtuh, hancur, dan jatuh dalam keputusasaan saat diterpa badai ujian. Penyesalan mendalam dan penderitaan batin yang tidak berkesudahan dialami oleh mereka yang menyandarkan kebahagiaan semata-mata pada materi atau dunia fana. Allah SWT menggambarkan karakter keimanan yang ini, “Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kebaikan, tenanglah ia dengan kebaikan itu, dan jika ia ditimpa suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang…” (QS Al-Hajj […]: 11)
Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn mengaitkan sikap mudah putus asa ini dengan penyakit jiwa berupa ketidaktahuan (jahl) akan sifat-sifat Allah serta keterikatan (talluq) yang berlebihan terhadap dunia (ḥubb al-dunyā). Kurang pengetahuan dan kesadaran tentang sifat Allah menjadikan hamba terlalu cinta kepada dunia yang fana. Akhirnya berujung paa kepustusasaan.
Pada sisi lain, hamba yang beriman kuat—meski tidak luput dari rasa sedih, guncangan jiwa, atau “tamparan” hebat secara manusiawi—tetap memiliki fondasi tauhid yang kokoh. Rasa sakit akibat kehilangan tidak merusak ikatan keimanannya kepada Allah SWT. Rasulullah SAW memuji keutamaan mukmin yang kuat, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah, dan janganlah lemah…” (HR. Muslim). Kekuatan mukmin sejati tidak terletak pada ketiadaan rasa sakit, melainkan pada ketahanan akidah dan kelapangan dada dalam menerima kenyataan pahit tanpa menyalahkan takdir Ilahi.
Kesadaran bahwa yang ditimpakan kepada hamba merupakan “yang terbaik” menurut Allah SWT, walaupun berlawanan dengan selera dan keinginan hamba. Keterbatasan sudut pandang manusia kerap menjebaknya dalam persepsi yang keliru tentang kebaikan dan keburukan. Prinsip ini ditegaskan Allah SWT, “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216)
Teolog Islam ternama, Ibn ‘Atha’illah as-Sikandari dalam kitab Al-Hikam, menyatakan bahwa ketika Allah menghalangi atau mengambil sesuatu darimu, pada hakikatnya Dia sedang memberikan bentuk karunia yang lain—yaitu kedekatan dan pembersihan jiwa dari ketergantungan selain-Nya.
Puncak kelulusan seorang hamba dalam ujian Allah terjadi ketika ia mampu mengembalikan seluruh urusan dan kepemilikan kepada Sang Pencipta (Istirjā’). Hal itu teraktualisasi baik secara lisan maupun kesadaran batin. Allah SWT berfirman mengenai ciri mukmin yang berhasil mengarungi ujian, ” …(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS Al-Baqarah [2]: 156)
Kalimat ini bukan sekadar rujukan ucapan duka cita, melainkan pernyataan sikap teologis bahwa manusia dan segala pernak-pernik dunianya adalah milik Allah sepenuhnya. Ketika Pemilik Asli mengambil kembali milik-Nya, seorang hamba yang beriman lurus tidak memiliki alasan logis untuk membangkang atau meratap berlebihan. Mereka tidak memrotes dan membantah ketetapan Allah SWT.
Untuk dapat melalui ujian hingga dinyatakan “lulus”, Islam menawarkan prosedur spiritual dan praktis yang terstruktur. Tahapan ideal ini dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) menerima kepastian takdir; (2) sabar pada benturan pertama (al-shabr ‘and al-shadmah al-ula); (3) muhasabah dan ikhtiar terukur; dan (4) tawakal dan ridha terhadap ketetapan Allah SWT. Keempat Langkah itu merupakan upaya represif dalam menghadapi ujian dari Allah SWT.
Rasulullah SAW menekankan pentingnya respons awal saat ujian itu datang, “Sesungguhnya kesabaran yang sebenarnya adalah pada benturan pertama (saat musibah terjadi).” (HR. Bukhari & Muslim). Setelah kejutan awal dapat dikendalikan dengan istirja’ (milik Allah kembali kepada Allah), tahapan dilanjutkan dengan muḥāsabah (otokritik/introspeksi diri), lalu diakhiri dengan penyerahan total (tawakal) atas hasil akhir yang dirancang Allah. Menerima dengan Ikhlas segela ketetapan Allah SWT.
Sikap mendasar yang harus dipelihara hamba saat berada di dalam tanur (dapur) ujian adalah perpaduan harmonis antara sabar, syukur, dan husnudzan(prasangka baik) kepada Allah SWT. Rasulullah SAW mengagumkan kondisi kehidupan mukmin dalam hadis, “Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, sungguh seluruh urusannya adalah kebaikan… Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Selain itu, meyakini keberadaan hikmah di balik setiap takdir akan menjaga jiwa dari kepahitan (raḍā bil-qaḍā’). Hamba yang ridha menyadari bahwa emas murni hanya dapat dihasilkan melalui pembakaran yang panas; demikian pula jiwa manusia dibentuk menjadi kuat dan perkasa melalui tempaan ujian. Melalui ujian itulah ketangguhan menhdapai segala ujian diperoleh.
Seseorang dapat dinyatakan “lulus” dari ujian Allah bukan ditandai dengan kembalinya harta yang hilang atau kembalinya yang telah diambil-Nya atau terhapusnya rasa sedih secara instan, melainkan ditandai dengan transformasi kualitas spiritual. Para ulama menyebutkan beberapa indikator kelulusan tersebut, di antaranya: (1) Meningkatnya kualitas ibadah dan kedekatan (taqarrub) kepada Allah; (2) Tumbuhnya sifat qanā’ah (merasa cukup) dan zuhud terhadap dunia; (3) Terbebasnya hati dari rasa benci, prasangka buruk, dan gugatan terhadap ketetapan Allah; dan (4) Lahirnya empati yang lebih dalam terhadap sesama manusia yang sedang tertimpa musibah.
Jadi, ujian Allah SWT adalah keniscayaan yang memilah antara keimanan yang sejati dan keimanan yang rapuh. Kesenangan maupun duka kehilangan—baik berupa harta maupun sanak keluarga—merupakan instrumen penyeleksi derajat manusia di hadapan Penciptanya. Melalui keteguhan iman, kesadaran kepemilikan mutlak Allah (istirjā’), serta prasangka baik atas pilihan-Nya, seorang hamba akan mampu melewati benturan ujian tanpa kehilangan keimanannya. Kelulusan sejati ditandai ketika ketetapan Allah yang paling pahit sekalipun sanggup diterima dengan dada yang lapang, jiwa yang tenang, dan ketundukan total kepada Sang Khaliq. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat.
Manna, Bengkulu Selatan, 30 Juli 2026
*) Arshaka Adnan Athay, cucu kami yang ke-11. Dia anak ketiga dari pasangan Esa Puti Setia Zul dan Andi Martono. Dalam usia satu tahun tiga bulan, Dang Shaka (begitu keluarga besar memanggilnya) diambil kembali oleh pemiliknya, Allah SWT. Peristiwa itu terjadi Senin, 27 Juli 2026, pukul 16.21 di Rumah Sakit As-Syifa, Kota Manna, Bengkulu Selatan. Kami menyayangi Dang Shaka, tetapi Allah lebih menyayanginya, dia dipanggil ke haribaan-Nya dalam usia yang masih sangat muda.. Kami kehilangan, kami mendapat ujian dari Allah SWT. Semoga Allah memberikan kami kesabaran, ketabahan, dan keiklhlasan melepas keperginya cucu tersayang menghadap Sang Kahlik. Ibunya, Esa Puti Setia Zul adalah anak kami yang ketiga, satu-satunya perempuan dari lima bersauadara.