Oleh Zulkarnaini Diran

Segelas air putih angat, segelas teh telur, sepiring lontong gulai nangka, dan sepiring gulai tunjang terhidang di meja saya. Pagi itu saya duduk di warung Asean Pop, Jalan Jenderal Sudirman, Kota Manna, Bengkulu Selatan. Ketika saya mulai mencicipi hidangan tersaji, sepasang suami – istri masuk ke dalam restoran. Kedua pasangan itu mengambil tempat duduk berhadapan dengan saya dengan jarak tiga meja arah ke dalam. Saya mengangguk kepada sang suami, beliau pun mengangguk. Saya mulai menyantap hidangan khas Minangkabau itu seperti biasa.
Isi piring lontong dan gulai tunjang berpindah ke perut saya. Makanan khas ini memang kesukaan saya. Sekurangnya dua kali sepekan saya mampir di warung milik orang Minangkabau asal Pariaman ini. Isi piring itu saya santap setelah bersepeda lebih kurang 25 kilometer. Ketika sendok terkahir selesai, suami pasangan tadi melihat kepada saya. Saya menyapanya dengan mengangguk lagi. Beliau berkalimat, “Kelihatan Bapak orang baru di sini?” katanya menyapa dengan nada sangat ramah. Saya merasa simpati dengan pertanyaan yang diiringi senyum itu.
Begitulah sekilas kami berkenalan. Beliau adalah Bapak Novianto, S.Sos, M.Si, mantan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bengkulu Selatan. Dalam bincang di warung itu kami sempat berkenalan secara “dangkal dan singkat”. Dia berkecimpung di dunia pendidikan sebagai orang pertama. Kemudian juga menyatakan bahwa dia lahir dan dibesarkan di kota kecil itu. “Saya ingin mengajak Bapak berkeliling kota ini, tapi dengan mobil, bukan dengan sepeda”, katanya sangat ramah dan penuh kekeluargaan. Pada hal kami baru berkenalan saat itu dengan saling menyapa dalam kalimat terbatas.
Saya juga memperkenalkan diri sebagai pemerhati dan praktisi pendidikan. Saya sebutkan bahwa sejak menjadi pegawai saya hidup dan bekerja di bidang pendidikan. Kini kami sudah sama-sama purnatugas. Mungkin karena kesamaan profesi ini, sepertinya dalam tempo yang singkat kami tersambung secara emosional. Sebelum beliau meninggalkan restoran, dia meminta saya untuk mencatat nomor teleponnya. Saat itu dia tidak membawa perangkat telepon. Begitulah saya mencatat nama dan nomor telepon Pak Novianto secara lengkap di perangkat saya. Kami pun berpisah setelah bersalaman. Saya lihat, pengujung restoran yang lain, mengangguk kepadanya dengan sopan dan hormat. Hal itu pertanda bahwa beliau orang yang dikenali dan dihormati oleh banyak orang di Ibu Kota Kabupaten Bengkulu Selatan itu.
Nomor Pak Novianto ada pada saya, nomor sayapun ada pada beliau. Sepekan berlalu kami tidak ada kontak telepon, tidak ada komunikasi. Saya pun juga tidak ingat lagi bahwa beliau akan mengajak saya jalan-jalan di Kota Manna. Begitu sore Kamis, 6 Agustus 2026 saya menerima telepon dari beliau. Beliau sedang di Jakarta, ada saudaranya yang meninggal dunia. “Insyaallah pagi Sabtu, 8 Agustus 2026 saya sampai di Manna, saya akan penuhi janji mengajak Bapak keliling kota dengan mobil”, kata beliau dengan nada kekeluargaan dan sangat akrab. Tentu saja hal itu bagi saya sangat berarti. Apatahlagi saya berkunjung ke kota pinggir pantai ini sebagai tamu.
Lima hari kemudian pertemuan itu pun terjadi. Jika pertemuan pertama kami menghadapi meja yang berbeda, hari ini kami duduk satu meja. Hidangan pun tersaji di meja kami. Beliau yang rendah hati ini berujar, “Saya segan menelpon Bapak, takut kurang sopan. Tiap hari saya pesankan kepada pemilik warung kalau Bapak ke sini saya minta dikabari,” kata beliau dengan nada sangat sopan. Saya pun menyatakan rasa bersalah karena tidak menghubungi beliau pada hari Sabtu seperti yang dijanjikan. Rupanya sejak Sabtu itu, tiap hari beliau datang ketempat sarapan pagi “Asean Pop” untuk memenuhi janjinya, tetapi baru bertemu hari yang kelima, Rabu, 12 Agustus 2026.
Begitulah beliau memenuhi janjinya. Sepeda saya parkir di depan restoran. Beliau menitipkan sepeda saya kepada pemilik Asean Pop. Saya diajak Pak Nov (begitu saya memanggilnya) berkeliling di kota kecil itu dengan mobil yang disetirnya sendiri. Dalam perjalanan dia bercerita banyak hal. Mulai menjadi PNS/ASN dan jabatan yang diembannya. Jabatan eselon empat, eselon tiga, dan eselon dua di Kabupaten Bengkulu Selatan itu. Tiga periode menduduki jabatan eselon dua. Terkahir purna tugas atau pensiun pada saat menjabat Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bengkulu Selatan.
Dalam perjalanan beliau juga memperkenalkan wilayah Manna kepada saya. Bahkan rumah tempat dia dilahirkan juga ditunjukkan. Kemudian lewat di depan rumah pribadinya. Saat itu saya diajak mampir, tetapi seaya menolak dengan halus. Oleh karena istri beliau masih berdinas sebagai guru atau sebagai pendidik, tentu tidak sedang di rumah. Kahawatir kalau tawaran itu diterima, akan merepotkan beliau. Perjalanan yang memakan waktu lebih kurang satu jam itu menjadikan kami kian akrab. Bagaikan kami sudah berkenalan lama, seperti sahabat lamalah.
Bagi saya pertemuan ini sangat berarti. Kenapa tidak, sebagai orang awan pensiunan ASN, saya hanya mengujungi anak, cucu, dan mantu. Akan tetapi diperlakukan sebagai “tamu terhormat” oleh mantan pejabat dan orang terpandang di kota itu. Bahkan beliau rupanya seorang putra Manna yang memiliki kharisma dan dimuliakan oleh masyarakat di kota kecil itu. Saya benar-benar merasa tersanjung, merasa dihormati, dan merasa diperlakukan sebagai ”tamu terhormat”.
Ahad 23 Agustus 2026 saya menerima pesan WA dari Pak Nov. Kali ini beliau tidak memanggil saya bapak. Panggilan bapak beliau ganti dengan panggilan “mamak”. Mamak adalah sebutan untuk orang tua atau yang dituakan di Minangkabau. Pesannya setelah mengucapkan salam, “Mamak, besok (Senin, 24 Agustus 2026) kita sarapan pagi dan minum teh telur di Asean Pop,” katanya. Saya jawab dengan insyaallah dan diberi alasan kalau cuaca kondusif dan bersahabat.
Senin pagi, sekitarpukul 06.10 saya meninggalkan rumah sambil “mangayuah” sepeda. Saya mengikuti rute biasa, berkeliling sampai kantor bupati, terus mengelilingi kota, dan berlanjut ke Pantai Pasar Bawah. Pukul 07.28 saya mengabari Pak Nov, lebih kurang 20 menit lagi saya akan berada di Asean Pop untuk memenuhi akad yang telah dibuat. Begitulah hari itu kami menikmati hidangan yang telah dipesan. Tentu kesukaan saya lontong tunjang dan teh telur tidak luput dari pesanan.
Hampir satu jam kami berbicara panjang lebar. Beliau mengapresasi tulisan-tulisan saya yang dipublikasi melalui blog zulkarnaini.my.id. “Tulisan Mamak tersaji dalam kalimat sederhana yang bisa dibaca oleh semua orang, bukan hanya golongan menengah keatas saja,” kata beliau. Kami berbicara seperti sahabat lama di tempat langganan sarapan pagi itu. Sejumlah pengunjung lain yang datang juga mengangguk bahkan menyalami beliau. Seorang pejabat eselon dua yang juga sarapan pagi di situ menyalami beliau sangat hormat. Pembicaraan kami melayap ke sana ke mari, mulai dari pendidikan, budaya, politik, dan sebagainya. Namanya “ota di lapau” (ngomong-ngomong di warung) kata orang Minangkabau. Begitulah “Pertemuan itu”.
Terimakasih, Pak Nov!
Manna, Bengkulu Selatan, 24 Agustus 2026
