Oleh Zulkarnaini Diran

Imam Syafi’i berkata, “Ilmu akan menghiasi akalmu, namun adab akan menghiasi seluruh kehidupanmu. Dahulukanlah memperbaiki akhlakmu sebelum engkau bangga dengan banyak ilmu. Ilmu tanpa adab lebih mudah membawa kepada kesombongan”. Nasihat Imam dan ulama terkenal ini sangat luas dan dalam maknanya. Hal ini menjadi landasan utama bagi penuntut ilmu dan pemelihara akhlak. Pada hakekatnya ilmu dan adab adalah dua pilar utama yang membangun keutuhan hidup dan kehidupan seorang hamba.
Dua-duanya penting, perlu, dan mutlak dimiliki. Keduanya juga akan menjaga keseimbangan diri hamba. Keduanya hendaklah menjadi katalisator dan dinamisator bagi seorang hamba dalam membina hubungan hamba dengan Sang Khalik dan relasi hamba sesama makhluk. Berhubungan dengan Sang Khalik diwujudkan dalam bentuk ibadah. Untuk dapat beribadah dengan benar harus berbekal ilmu dan adab. Berelasi dan berinteraksi dengan sesama makhluk juga memerlukan ilmu dan adab. Ilmu menjadi acuan pelaksanaan ibadah dan berhubungan sesama, sementara adab menjadi acuan utama dalam tatanan perilaku.
Dalam eksistensi seorang hamba Muslim, ilmu menduduki posisi sebagai lentera penerang yang menuntun jalan kebenaran. Tanpa ilmu, niat baik seseorang bisa tersesat dalam praktik ibadah yang keliru atau penafsiran realitas yang dangkal. Allah SWT menegaskan tingginya derajat orang-orang yang berilmu dalam firman-Nya: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah [58]: 11). Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu adalah instrumen pengangkat martabat manusia, baik di hadapan Sang Pencipta maupun dalam pandangan sesama ciptaan-Nya.
Ilmu yang tinggi tanpa diikat oleh adab menyerupai pedang bermata dua yang sangat berbahaya. Adab berfungsi sebagai kemudi yang mengarahkan ilmu agar tetap berada pada jalur kemaslahatan dan ketundukan. Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia” (HR. Ahmad dan Al-Baihaki). Hadis ini menegaskan bahwa muara utama dari seluruh risalah Islam—yang mencakup ilmu tauhid, fikih, dan muamalah—adalah pembentukan adab dan akhlak terpuji. Tanpa akhlak, wawasan akademis dan keahlian teknis kehilangan esensi spritualnya.
Para ulama dan teolog klasik senantiasa menempatkan adab di atas pencarian ilmu teknis. Imam Malik pernah berpesan kepada seorang pemuda Quraisy: “Pelajarilah adab sebelum engkau mempelajari ilmu.” Tradisi keilmuan Islam memandang bahwa hati yang tidak dihiasi adab tidak akan mampu menampung kesucian ilmu. Hati yang tertutup oleh kesombongan, ujub, dan rasa lebih unggul justru menjadikan ilmu sebagai perusak tatanan sosial dan pemicu keretakan silaturahmi.
Secara eksistensial, kedudukan adab adalah wadah, sedangkan ilmu adalah isinya. Syekh Ibnul Mubarak menegaskan konsep ini dengan penyataan: “Kami mempelajari adab selama tiga puluh tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama dua puluh tahun.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa pembentukan karakter, kerendahan hati, dan tata krama membutuhkan proses yang lebih panjang dibanding pemahaman teoretis. Tanpa wadah adab yang kokoh, ilmu yang dituangkan akan melimpah ruah secara destruktif dan tidak membawa keberkahan.
Dalam relasi vertikal (hablum minallah), ilmu memandu tatacara syarat dan rukun ibadah secara sah, sedangkan adab menentukan kualitas keikhlasan dan kekhusyukannya. Seorang hamba yang berilmu memahami mekanisme salat, namun hamba yang beradab akan menunaikan salat dengan rasa takut, penuh hormat, dan kesadaran akan keagungan Allah. Tanpa adab dalam beribadah, aktivitas ritual berisiko terjebak pada sekadar rutinitas fisik yang hampa nilai spiritual.
Sementara itu, dalam relasi horizontal (hablum minan nas), interaksi sosial memerlukan sintesis yang harmonis antara ilmu dan adab. Ilmu memberikan kemampuan bernalar, memecahkan masalah, dan memberikan solusi bagi masyarakat. Adab memastikan bahwa komunikasi dan tindakan dilakukan dengan santun, menghargai sesama, dan menjauhi sifat menghakimi. Adab mencegah seorang alim dari sikap merendahkan orang lain yang belum memiliki pemahaman selevel dengannya.
Integrasi ilmu dan adab inilah yang membentuk sosok hamba yang seimbang (tazkiyatun nafs). Keberadaan ilmu membuat seorang hamba cerdas dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Adab menjaga hatinya tetap tawaduk (rendah hati) serta terhindar dari penyakit mental kekinian, seperti haus pujian dan kesombongan intelektual. Keduanya berpadu membentuk kepribadian mulia yang menebarkan kedamaian (rahmatan lil ‘alamin) bagi lingkungan sekitarnya.
Jadi, ilmu dan adab adalah dua sisi dari satu mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam eksistensi seorang Muslim. Ilmu memberi arah dan kebenaran pada tindakan, sedangkan adab memberi keindahan, keberkahan, dan kedalaman makna pada ilmu tersebut. Seseorang yang mengagungkan ilmu namun mengabaikan adab akan rentan terjatuh pada kesombongan yang merusak, sementara adab yang dilandasi ilmu akan membimbing hamba menuju kesempurnaan iman dan kemuliaan hidup di dunia hingga akhirat. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat.
Manna, Bengkulu Selatan, 2 September 2026
Disarikan dari beberapa sumber dan dikaitkan dengan pengalaman selama belajar ilmu dan adab.
s