Oleh Zulkarnaini Diran

“Membosaikan Diri” adalah judul sebuah buku. Di bawah judul tertulis “Umpan Keberhasilan, Pembuka Pintu Keberkahan”. Buku ini berisi dua hal, yakni kisah hidup suami istri dan Sejarah Pondok Pesantren. Suami isitri yang berkisah di bawah judul ini adalah Haji Harius Rusli, Lc dan Hajjah Salimah Hayati, B.A. Pondoknya adalah Pondok Pesantren Al-Qur’an Harsallakum yang mereka dirikan. Suami istri yang berkisah ini tinggal di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. Kampung asalnya Nagari Maek (Mahat), Kecamatan Bukik Barisan (dulu Suliki Gunung Mas), Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Penulis kisan dan sejarah ini adalah Zulkarnaini Diran.
Haji Harius Rusli, Lc. mengisahkan kehidupannya sejak lahir, belajar mengaji, bersunat, bersekolah, belajar Al-Quran, bersekolah di tsanawiyah dan aliyah, kuliah di dalam negeri, kuliah di luar negri. Dia juga berkisah tentang pernikahan semasa masih kuliah, menjadi pegawai Kerajaan Arab Saudi, sampai mendirikan pondok pesantren. Harius Rusli berkisah dengan bahasa yang lugas, mudah dipahami, menggunakan bahasa naratif yang penuh makna, penuh hikmah. Dia bercerita dengan warna logika, emosi atau rasa yang dibungkus dengan nilai-nilai qurani dan islami. Hampir di setiap peristiwa yang dikisahkan terselip pesan tentang hidup dan kehidupan.
Harius Rusli lahir lahir 31 Agustus 1949 di Koto (Jorong) Ronah, Nagari Mahat (Maek), Kecamatan Bukik Barisan (dulu: Kecamatan Suliki), Kabupaten Limapuluh Kota, Provinsi Sumatra Barat. Bapaknya Rusli (dipanggil Kotik Suli – Khatib Rusli) dan ibunya Jariyah. Dia anak keempat dari lima bersaudara. Kakanya tiga orang perempuan dan adiknya satu orang laki-laki. Kini saudara-saudaranya telah tiada, tinggal dia sendiri yang masih diberi kesempatan menikmati hari tua oleh Allah SWT.
Kisah masa kecilnya di kampung yang terisolasi menyentuh perasaan. Betapa sulitnya kehidupan ekonomi, betapa terpeliharanya nilai-nilai kekeluargaan, dan betapa sederhananya kehidupan yang dilalui, dikisahkannya dengan penuh perasaan. Pilihan kata yang sederhana, ungkapan yang lugas mewakili emosi Harius Rusli dalam kisah masa kecilnya. Seperti apa dia setiap sore, dan setiap pagi mengelola usahanya menangkap belut di sawah, seolah-olah membawa kita kembali ke masa-masa tahun 50-an di kampung-kampung di Ranah Minangkabau, Sumatra Barat.
Tiga tahun lebih menuntut lmu di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi, Harius pulang ke kampung. Pulang selain untuk melepas rindu dengan kampung kelahiran dan Ranah Minangkabau dia juga ada niatan. Niatannya adalah hendak mempersunting seorang wanita idaman. Wanita itu adalah Salimah Hayati yang sekampung halamann dengannya. Saat itu, Salimah Hayati mengabdi sebagai pendidik atau guru di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) Guguk, Kecamatan Guguk, Limapuluh Kota Sumatra Barat. Masa libur lebih kurang satu bulan itu dimanfaatkan Harius untuk menyelesaikan prosesi pernikahannya. Pernikahan itu terjadi 27 Rajab 1395 Hijrah, bertepatan dengan 5 Agustus 1975 Masehi. Saat itu, Harius masih bersatatus sebagai mahasiswa, belum tamat.
Salimah Hayati lahir 30 Agustus 1951 di Koto (Jorong) Aur Duri, Kenagarian Mahat (Maek), Kecamatan Bukik Barisan (dulu: Kecamatan Suliki), Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatra Barat. Salimah selain satu daerah kelahiran dengan Harius, juga sealumni di Lembaga Pendidikan Islam Modern, Darul Funun El-Abbasiyah Padang, Jopang, Guguak, Limapuluh Kota. Salimah yang sejak kecil bersekolah dan belajar mengaaji di kampungnya. Dia adalah anak sulung dari dua bersaudara. Menyelesaikan pendidikannya di Fakutas Adab Payakumbuh, Jurusan Bahasa dan Sastra Arab. Berbekal ijazah sarjana muda itulah dia menjadi guru di PGA Guguk, Limapuluh Kota. Wanita inilah yang dipersunting oleh Harius yang kemudian menjadi ibu dari anak-akanya.
Ketika kuliah di Madinah, Harius bercita-cita. Cita-cita itu dituangkannya ke dalam doa. Doa itu dilantunkannya terus-menerus sampai Allah SWT mengabulkan. Cita-citanya ialah mendirikan pondok pesantren. Doa itu berbunyi, ” ”Ya Allah, mudahkanlah bagi aku untuk membangun pesantren walau pun satu lokal sebelum meninggal. Ya Tuhan, bukakan pintu-pintu rizki, sesungguhnya kefakiran dan kemiskinan itu adalah pahit luar biasa.” Doa itu kemudian menjadi tekadnya.
Setelah menikah, cita-cita dan doa itu disampaikan kepada istri. Sang Istri mengamininya. Ketika anak-anaknya lahir dan dewasa cita-cita itupun disampaikan kepada mereka. Anak-anaknya yang tujuh orang itu pun mengamini. Itulah awal dari lahirnya Pondok Pesantren Al-Qur’an Harsallakum di Kota Bengkulu. Pondok itu terwujud awal tahun 2000, sementara cita-cita dan doa dilantunkan tahun 1973. Allah SWT mengabulkan doanya dua puluh tujuh tahun kemudian. Pondok Pesantren Al-Quran Harsallakum yang berlokasi di Hibrida Ujung, Kelurahan Pagar Dewa, Kecematan Selebar, Kota Bengkulu itu kini masih tetap berkiprah dalam ”membumikan Al-Quran”. Dipondok itu para santri dilayani belajar pada tingkat tsanawiyah dan dan tngkat aliyah. Berdiri di atas tanah lebih kurang tiga hektar dengan fasilitas ruang belajar, asrama purta dan putri, masji, musala, dan ruang serbaguna.
Membosaikan Diri, judul buku ini adalah filosofi hidup yang diemban oleh Harius Rusli. Bonsai adalah tanaman hias, indah di pandang, mahal harganya, elok dalam tampilan, tidak ada gambaran kesombongan padanya. Mombonsaikan diri berarti menjauhi kesembongan, tetapi tetap menyenangkan, namun tetap tampil dalam keorisinalan bentuk mini. Dari filosofi bonsai itu muncul umpan keberhasilan dan di situ pula terbuka pintu keberkahan.
Buku ”Membonsaikan Diri” ini diterbitkan oleh IQ Publishing, setebal xvii + 577 halaman, ukuran 150×230 mm ini cetakan pertamanya Mei 2026. Buku ini layak dibaca oleh mereka yang ingin belajar tentang hidup dan kehidupan yang ”bergelimang” dengan nuansa Al-Qura’an. Selain itu juga dapat memetik hasil tentang cara mewujudkan sebuah cita-cita yang diawali dengan doa. Hal penting dari pesan buku ini adalah jauhi sifat sombong, tidak ada pekerjaan yang hina selama berpedoman kepada kitabullah dan sunnah Rasul. Hal yang sangat penting dalam pesan buku ini adalah ”akrablah dengan Al-Qura’an” dalam konteks pelajari, pahami, hayati, amalkan, terapkan, dan ajarkan. ”Sebaik-baik orang beriman adalah yang membaca, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Qura’an”.
Lebih lanjut, pembaca yang ingin mendalami isi buku ini dapat menghubungi penerbit IQ Publishing, e-mail: hermanmoslem84@gmail.com, nomor kontak: 081398027995.
Manna, Bengkulu Selatan, 31 Agustus 2026
Zulkarnaini Diran