Oleh Zulkarnaini Diran

Ada sejumlah ayat di dalam Al-Quran yang artinya, “Sesungguhnya Allah mencintai … .” Titik-titik itu isiannya adalah orang yang berbuat baik (al-muhsinin) QS Al-Baqarah [2]: 195, orang yang bertobat (at-tawabin) QS Al-Baqarah [2]: 222, orang yang bersuci (al-mutathahhirin) QS Al-Baqarah [2]: 222, orang yang bertaqwa (al-muttaqin) QS Ali Imran [3]: 76, orang yang sabar (as-shabirin) QS Ali Imran [3] :146, orang bertawakal (al-mutawakkilin) QS Ali Imran: 159, orang adil (al-muqsithin) QS Al-Maidah [5]:42 dan QS Al-Hujurat [49]: 9. Itu di antaranya yang ditemukan di dalam Al-Quran.
Kalau digabung isian titik-titk itu menjadi farasa, kalimatnya akan panjang. “Sesungguhnya Allah mencintai orang yang berbuat baik, orang yang bertobat, orang yang bersuci, orang bertaqwa, orang yang sabar, orang yang bertawakal, dan orang yang adil.” Secara awam dapat dinyatakan dalam bentuk yang amat sederhana. Kalau ingin dicintai atau menjadi kekasih Allah SWT, berjuanglah untuk memiliki ketujuh sifat atau perilaku itu. Untuk mencapainya tentu perlu upaya, dan usaha terus-menerus dan konsisten. Pada saatnya, insyaallah hal itu akan diperoleh. Ketika itu diperoleh sebelum ajal datang, tentu hamba akan menghadapi kematian yang husnulkhatimah.
Upaya yang dilakukan untuk mencapai ketujuh hal itu tentu diawali dari pemahaman konsep, dilanjutkan dengan mengikuti proses yang benar, kemudian dihayati sungguh-sungguh, dilaksanakan, dan pada saatnya menjadi kenikmatan. Saat itulah ketujuh perilaku itu menjadi darah daging dan menjadi perilaku sehari-hari. Konsep atau pengertian dari ketujuh hal itu benar-benar terpahami secara syar’iah. Tentu konsep tersebut didukung oleh dalil yang sahiah. Selanjutnya, proses untuk mewujudkannya juga memerlukan kaidah, aturan, mungkin syarat dan rukun. Hal itupun perlu dipahami sungguh-sungguh. Dengan demikian, insyaallah proses untuk mencapainya akan berjalan dengan benar dan lancar.
Perjuangan meraih predikat kekasih Allah (waliyullah) merupakan puncak cita-cita spiritual seorang hamba. Menelusuri deretan ayat yang dipaparkan, tampak jelas bahwa cinta Ilahi tidak diraih melalui klaim sepihak, melainkan melalui internalisasi sifat-sifat mulia yang teruji dalam tatanan kehidupan nyata. Ketujuh karakter tersebut menjadi pondasi utama pembentukan jiwa yang diridhai-Nya.
Muhsinin atau ihsan secara syar’i bermakna beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya, atau meyakini bahwa Dia senantiasa melihat kita. Dalam konteks sosial, ihsan adalah memberi manfaat melebihi kewajiban dasar dan membalas keburukan dengan kebaikan. Prosesnya diawali dengan melatih keikhlasan niat, dilanjutkan dengan membiasakan bersedekah baik di waktu lapang maupun sempit, serta menahan amarah terhadap sesama. Allah SWT berfirman: “Dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195). Nabi SAW bersabda bahwa ihsan adalah menyembah Allah seolah melihat-Nya (HR. Muslim). Ibnul Qayyim menjelaskan bahwa ihsan adalah ruh dari seluruh amal perbuatan.
Taubat berarti kembali kepada Allah dari jalan maksiat menuju ketaatan. At-Tawwabin menunjukkan perilaku yang terus-menerus memperbarui tobat setiap kali tergelincir dalam dosa. Prosedur tobat yang sah (taubatan nasuha) menurut para ulama mencakup empat syarat: meninggalkan dosa tersebut seketika, menyesali perbuatan, bertekad kuat tidak mengulanginya, serta menyelesaikan hak sesama manusia jika berkaitan dengan hukukul adam. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat…” (QS. Al-Baqarah [2]: 222). Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin menyatakan bahwa tobat adalah langkah awal (maqam) pertama para penempuh jalan spiritual (salik).
Kesucian yang dicintai Allah mencakup dua dimensi seimbang: thaharah zhahiriyyah (bersih dari hadas dan najis) serta thaharah bathiniyyah (bersihnya hati dari syirik, iri, dengki, dan sombong). Proses yang ditempuh dengan menjaga wudhu secara konsisten, memperhatikan kebersihan pakaian serta lingkungan, disambung dengan tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) melalui zikir dan muahasabah diri. Allah berfirman: “…dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS. Al-Baqarah [2]: 222). Rasulullah SAW menegaskan: “Kesucian itu adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim). Ulama sufi menegaskan bahwa kebersihan lahiriah yang tidak disertai kebersihan batin hanyalah hiasan luar semata.
Taqwa adalah benteng perlindungan diri dari murka Allah dengan cara menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya berdasarkan cahaya petunjuk-Nya. Prosesnya diwujudkan melalui penguatan ilmu syari’at, membendung hawa nafsu, mengamalkan kewajiban ritual maupun sosial, serta melatih sikap wara’ (berhati-hati terhadap hal yang subhat). Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 76). Sahabat Ali bin Abi Thalib RA mendefinisikan takwa sebagai rasa takut kepada Allah yang Maha Agung, beramal sesuai Al-Quran, merasa cukup dengan yang sedikit, dan bersiap menghadapi hari perpindahan (kematian).
Sabar adalah menahan jiwa dari keluh kesah, menahan lidah dari rintihan yang tidak bersyukur, dan menahan anggota tubuh dari perbuatan yang merusak saat menghadapi ujian. Proses untuk mencapainya meliputi tiga ranah utama: sabar dalam menjalani ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, serta sabar atas ketetapan takdir yang tidak menyenangkan. Prosedurnya adalah menyadari bahwa semua milik Allah dan akan kembali kepada-Nya. Allah berfirman: “Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 146). Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin… jika tertimpa musibah ia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).
Tawakal adalah menyandarkan kepasrahan hati secara penuh kepada Allah SWT dalam meraih kemaslahatan atau menolak kemudaratan, setelah melakukan ikhtiar yang maksimal. Prosesnya adalah menyeimbangkan antara hukum sebab-akibat (khasanah asbab) dengan keyakinan tauhid. Prosedurnya adalah menyusun rencana, berusaha sungguh-sungguh, lalu menyerahkan seluruh hasil akhir kepada keputusan Allah tanpa ada keraguan. Allah berfirman: “Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159). Imam Ahmad menjelaskan bahwa tawakal adalah perbuatan hati, bukan sekadar ucapan lisan.
Adil bermakna menempatkan sesuatu pada tempatnya yang berhak, memberikan hak kepada pemiliknya tanpa mengurangi, serta tidak condong pada kebatilan karena dorongan hawa nafsu atau kekeluargaan. Prosesnya adalah melatih objektivitas berpikir, menegakkan kebenaran meski merugikan diri sendiri atau kerabat, serta bersikap seimbang dalam membagi waktu antara hak Allah, hak diri, dan hak sesama. Allah berfirman: “Dan berlakulah adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.” (QS. Al-Hujurat [49]: 9). Nabi SAW bersabda bahwa orang-orang yang adil kelak berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah (HR. Muslim).
Ketujuh sifat di atas tidak berdiri sendiri secara terpisah, melainkan saling menganyam membentuk kepribadian seorang muslim yang utuh. Seseorang yang bertobat akan terdorong untuk menyucikan diri; kebersihan jiwa melahirkan takwa dan kesabaran; dari ketakwaan tumbuhlah benih-benih keadilan dan kebaikan (ihsan); yang pada akhirnya bermuara pada kepasrahan total (tawakal) kepada Sang Pencipta.
Memproses ketujuh syarat ini hingga menjadi kenikmatan hidup memerlukan kesadaran bertahap (tadarruj). Ketika konsistensi (istiqamah) terjaga, perilaku-perilaku mulia ini tidak lagi dirasakan sebagai beban aturan, melainkan kebutuhan spiritual yang mengalir alami dalam keseharian. Inilah kondisi di mana seorang hamba telah mencapai maqam cinta Ilahi.
Pencapaian derajat kekasih Allah adalah benteng terkuat dalam menghadapi akhir hayat. Hamba yang hidupnya dipenuhi oleh sifat-sifat yang dicintai-Nya akan dijaga hatinya dari fitnah duniawi, sehingga saat waktu kepulangan tiba, ia dipanggil dalam keadaan jiwa yang tenang (muthma’innah) dan meraih penutup kehidupan yang mulia (husnulkhatimah). Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Manna, Bengkulu Selatan, 1 September 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan dikaitkan dengan aktifitas yang pernah dan akan dilakukan.