PERBINCANGAN GURU PENSIUN

Oleh Zulkarnaini Diran

Newzealand

Orang tua bercerita tentang masa lalu, orang muda berbicara masa kini dan yang akan datang. Begitu ungkapan bijak yang sering didengar. Begitulah kalau orang usia tua berkumpul, bertemu, dan bereuni mereka akan bercerita tentang kenangan, pengalaman, dan kisah-kisah masa lalu. Pagi itu kami bertiga “mangayuah” (istilah yang saya gunakan untuk bersepeda) arah ke Pariaman dari Padang. Saya dan dua orang teman lagi yang pensiunan guru, memungut masa lalu tentang kebahagiaan dan penderitaan sebagai guru. Pungutan kisah itu kami nukilkan sambil menikmati teh telur dan “katupek gulai lawuah pukek” di Pantai Katapiang, Batang Anai, Padang Pariaman, Sumatra Barat.

Kami mulai bercerita. Ke mana saja kita pergi ada saja yang memanggil nama kita. “Pak, wah Bapak tetap sehat seperti tiga puluh tahun lalu!” Kalimat seperti itu bentuk-bentuk ungkapan apresiatif seseorang kepada guru yang pernah mendidik, mengajar, dan melatihnya di lembaga yang benama sekolah. “Bapak mungkin lupa, kami tidak akan pernah melupakan. Bapak telah mengajari kami tentang disiplin, kejururan, sportifitas, dan bertanggung jawab.” Itu di antara kalimat-kalimat menyenangkan hati “guru tua” yang tengah menapaki usia senja. Itu di antara yang kami perbincangkan sambil duduk di pantai menikmati suguhan teh telur.

Itu tentang kebahagiaan yang dinikmati guru. Menjadi guru juga ada pengalaman pahit, getir, bahkan menyedihkan. Hal itu pun tidak luput dari perbincangan kami. Bahan naik pangkat yang hilang di meja pegawai, bahan pindah yang lenyap tidak berbekas di meja pejabat, dan menyediakan “ampelop” untuk setiap beurusan ke kantor. Hal yang paling menyakitkan adalah “rapel” gaji yang disunat oleh kepala sekolah dan bendahara sekolah. Belum lagi intervensi dari berbagaai organisasi,  gaji harus dipotong untuk iyuran tetek-bengek. Semuanya itu menyatu dalam format penderitaan guru masa lalu. Itu pun kami perkatakan sambil tertawa menikmati “katupek lawuak pukek”.

Sembari angin pantai berembus pelan dan sisa-sisa buih teh telur mendinginkan dasar gelas, ingatan kami melayang jauh melampaui batas garis cakrawala Pantai Katapiang. Percakapan pagi itu tidak sekadar berhenti pada nostalgia ringan, melainkan kian menghunjam ke dalam palung batin tentang hakikat menjadi seorang pendidik. Ada kebahagiaan yang menyala bagai suluh di kegelapan, namun ada pula kepedihan yang mengendap bagai batu karang di dasar laut.

Kebahagiaan seorang guru sejatinya tidak pernah diukur dari timbunan harta atau kilau perhiasan duniawi. Ia menjelma dalam bentuk senyum tulus seorang anak manusia yang kini berdiri tegak di tengah masyarakat, memegang tampuk kepemimpinan, atau sekadar menyapa dengan takzim di simpang jalan. Ketika seseorang yang pernah menjadi murid dengan bangga memperkenalkan pencapaiannya seraya mengenang petuah sederhana di ruang kelas yang reot puluhan tahun lalu, di situlah keabadian jiwa seorang guru bersemayam. Kebahagiaan itu adalah lukisan hidup yang terpahat indah di lubuk hati generasi bangsa, sebuah warisan nir-rupa yang tidak akan pernah lekang oleh gerusan zaman.

Namun, di balik kebahagiaan yang menghangatkan dada, terselip lembaran-lembaran buram yang meremukkan rasa. Mengupas nasib guru di negeri ini ibarat membuka kotak Pandora yang penuh dengan ironi dan ratap tangis sunyi. Di tengah tuntutan moral yang begitu luhur untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, para guru kerap kali dihadapkan pada kenyataan struktural yang menyesakkan dada. Mereka tidak lagi hanya sekadar mendidik dan membimbing jiwa, melainkan telah menjelma menjadi “kuli administratif” yang tenggelam di bawah tumpukan tumpukan kertas laporan, aplikasi digital yang membingungkan, serta target birokrasi yang memecah konsentrasi mengajar.

Tekanan demi tekanan datang menghimpit dari berbagai penjuru mata angin. Di satu sisi, masyarakat menuntut guru untuk tampil sempurna bagai malaikat tanpa cacat, siap sedia membentuk karakter anak-anak mereka menjadi insan yang mulia. Namun di sisi lain, perlindungan hukum dan kesejahteraan material yang layak sering kali menjadi anomali yang langka. Kasus-kasus kriminalisasi guru yang berniat menegakkan disiplin di kelas kerap mencuat ke permukaan, memperlihatkan betapa rentannya posisi mereka di hadapan kuasa hukum dan tekanan psikologis orang tua yang salah kaprah.

Belum lagi jika kita menatap persoalan kesejahteraan yang seolah menjadi lagu lama tanpa akhir. Di sudut-sudut pelosok negeri, masih banyak guru honorer yang mengabdi dengan peluh darah, digaji dengan angka yang jauh dari kata layak untuk sekadar menyambung hidup. Mereka harus memutar otak, merangkap pekerjaan sampingan demi dapur tetap berasap, tanpa pernah kehilangan senyum saat berdiri di depan kelas. Ironisnya, ketika tunjangan atau hak-hak mereka akhirnya cair, birokrasi yang berbelit-belit dan potongan-potongan liar kerap kali menggerogoti hak yang semestinya mereka terima utuh.

Di ruang-ruang kelas yang bocor atapnya dan minim fasilitas modern, para guru berjuang melawan keterbatasan dengan ketulusan yang luar biasa. Mereka membelikan kapur tulis, buku, bahkan kadang menyisihkan uang gaji yang pas-pasan untuk murid-muridnya yang kurang mampu. Beban mental ini kian diperberat oleh sistem penilaian yang kerap berubah-ubah setiap kali terjadi pergantian kebijakan di tingkat pusat, membuat para pendidik merasa terombang-ambing di atas bahtera tanpa arah kompas yang jelas.

Tekanan psikososial ini pada akhirnya melahirkan kelelahan jiwa yang kronis atau yang kini dikenal sebagai burnout. Guru dituntut untuk berempati tanpa batas, mengurus kesehatan mental anak didik, sementara kesehatan mental mereka sendiri terabaikan di bawah bayang-bayang tuntutan kurikulum yang padat. Mereka memikul beban moral peradaban bangsa di pundak yang semakin renta, berjalan di atas titian rapuh antara idealisme pengabdian dan realitas hidup yang keras.

Kendati demikian, di tengah badai penderitaan dan himpitan struktural yang menyesakkan, jiwa seorang guru sejati tidak pernah benar-benar padam. Mereka tetap melangkah ke sekolah dengan langkah tegap, merapikan baju seragam, dan menyunggingkan senyuman manis seolah tiada beban di pundak mereka. Sebab, bagi mereka, ruang kelas adalah altar suci tempat pengabdian kepada Sang Pencipta ditunaikan melalui jembatan ilmu pengetahuan.

Simpul dari perbincangan kami pagi itu di Pantai Katapiang akhirnya bermuara pada sebuah permenungan yang mendalam. Menjadi guru adalah takdir cinta yang menuntut kesetian mutlak, sebuah jalan sunyi yang dipenuhi duri sekaligus bunga keindahan. Pemerintah dan masyarakat sudah saatnya membuka mata lebar-lebar, memuliakan guru bukan hanya lewat retorika pidato seremonial di Hari Guru, melainkan melalui kebijakan nyata yang menjamin kesejahteraan, perlindungan hukum, dan memerdekakan mereka dari belenggu birokrasi yang mematikan nalar kreatif.

Pagi kian beranjak siang, deburan ombak Samudra Hindia seakan mengamini setiap kata yang kami tumpahkan di atas lantai lesehan warung sederhana itu. Kami, para guru pensiun, mungkin telah menanggalkan seragam dinas dan kapur putih dari tangan kami, namun cinta kasih dan kerinduan pada dunia pendidikan tidak akan pernah luntur hingga akhir hayat. Di negeri tercinta ini, semoga nasib guru kelak benar-benar terang benderang, secerah cahaya pagi yang menyapa Pantai Katapiang. Mudah-mudahan perbincangan guru pensiun dan pensiun guru ini ada maknanya bagi yang membaca. Terimakasih!

Padang, 06 Oktober 2026

Kristalisasi dari perbincangan pengalaman tiga orang pensiunan guru/ guru pensiun dan diformulasikan dengan hasil simakan kehidupan guru puluhan tahun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *