Oleh Zulkarnaini Diran

Dalam salat wajib umat Islam membaca Surat Al-Fatihah tujuhbelas kali setiap hari. Jika ditambah dengan salat sunnah rawatib berarti membaca Umul Quran ini dua puluh sembilan kali. Ayat keenam surat Al-Fatihah menyatakan, “Tunjuki kami jalan yang lurus,”. Sehari semalam, puluhan kali hamba meminta kepada-Nya agar ditunjuki jalan yang lurus. Apatah lagi kalau salatnya lebih banyak seperti tahajud, duha, dan sebagainya. Ada yang menafsirkan bahwa ”kata tunjuki” ini dalam bentuk lain, yakni ”beri kami hidayah”. Allah menganugrahkan empat jalan hidayah kepada hamba-Nya. Keempat jalan hidayah itu adalah naluri (gharizah), pancaindera (hawas), akal (aql), dan agama Islam (din). Melalui keempat jalan hidayah itulah kita ”meminta” kepada-Nya.
Permintaan ini bukan sekadar doa lisan, melainkan pengakuan bahwa manusia secara inheren membutuhkan petunjuk dari Sang Pencipta. Hal ini dimaksudkan agar tidak tersesat dalam mengambil keputusan, menjalani hidup, dan mencapai tujuan akhir yang hakiki. Hidayah, dalam konteks ini, dapat diartikan sebagai bimbingan, petunjuk, atau karunia ilahi yang mengantarkan seseorang menuju kebenaran. Allah Yang Maha Pengasih telah menyiapkan serangkaian “jalan” atau sarana bagi manusia untuk menerima dan memahami petunjuk tersebut.
Jalan hidayah pertama dan paling mendasar yang dianugerahkan Allah adalah naluri (gharizah). Naluri adalah dorongan bawaan, fitrah, atau insting alami yang tidak memerlukan pembelajaran, pemikiran, atau pertimbangan indrawi. Naluri ini bersifat universal dan berlaku bagi seluruh makhluk hidup, baik manusia maupun hewan. Naluri sebagai jalan hidayah dianugrahkan kepada setiap makhluk hidup. Perbedaannya terletak pada pemanfaatan, penumbuh-kembangan, dan implementasinya pada setiap makhluk.
Fungsi utama naluri adalah untuk mempertahankan eksistensi (keberadaan) diri dan kelangsungan hidup.. Contoh paling jelas pada manusia adalah naluri makan, minum, tidur, dan bertahan hidup. Seorang bayi yang baru lahir, tanpa diajari, akan secara otomatis mencari puting susu ibunya. Bayi melakukan itu karena bekal nalurinya. Untuk pandai menyusu bayi tidak perlu belajar. Bayi pandai sendiri. Hal yang sama belaku pada makhluk lain seperti hewan. Ini adalah petunjuk langsung dari Allah untuk memastikan kelangsungan hidup makhluk ciptaan-Nya.
Allah berfirman ketika Nabi Musa ditanya tentang Tuhannya, “Dia (Musa) menjawab, ‘Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada segala sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk (hidayah).'” (QS At-Taha, :50) Ayat ini menunjukkan bahwa setiap makhluk telah dianugerahi petunjuk bawaan yang sesuai dengan bentuk penciptaannya, dan inilah hakikat dari naluri sebagai jalan hidayah.
Tingkat jalan hidayah selanjutnya adalah pancaindra (hawas). Setelah naluri dasar terpenuhi, manusia dan hewan mulai berinteraksi. Interaksi dilakukan dengan dunia luar. Alat yang digunakan untuk berinteraksi itu adalah panca indra. Panca indra (penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba) adalah sarana pertama untuk mengumpulkan data dan informasi dari lingkungan. Panca indra menjadi instrumen penting bagi makhluk untuk berinteraksi, berinterelasi, dan berkomunikasi dengan lingkungan atau dunia luar diri.
Pancaindra memberikan petunjuk praktis tentang bahaya dan manfaat. Dengan melihat, seseorang tahu bahwa api itu panas; dengan mendengar, ia bisa mengetahui bahaya yang mendekat; dan dengan merasakan, ia bisa membedakan makanan yang baik dari yang basi. Ini adalah jalan hidayah yang sangat penting untuk keselamatan fisik dan penyesuaian diri dengan lingkungan. Allah SWT secara eksplisit menyebutkan anugerah indra ini sebagai karunia dan sarana petunjuk. Allah berfirman, “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati (akal), agar kamu bersyukur.” (QS An-Nahl, :78) Ayat ini menempatkan indra (pendengaran dan penglihatan) sebagai sarana utama untuk memperoleh pengetahuan dan petunjuk setelah kelahiran.
Di atas naluri dan pancaindra, terdapat jalan hidayah ketiga. Jalan hidayah inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya. Itulah yang disebut akal (aql). Akal adalah kemampuan kognitif untuk berpikir, menganalisis, menyimpulkan, dan membedakan antara yang benar (haq) dan yang salah (bāṭil), yang baik (ma’rūf) dan yang buruk (munkar). Akal berfungsi sebagai alat pemrosesan data dari indra dan naluri. Ia memungkinkan manusia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, menciptakan peradaban. Hal yang paling penting adalah untuk merenungkan hakikat eksistensi dirinya dan alam semesta. Akal adalah landasan bagi tanggung jawab (taklīf) moral dan hukum, karena hanya orang yang berakal yang dibebani syariat.
Al-Qur’an berulang kali mendorong manusia untuk menggunakan akalnya dengan frasa seperti afalā ta’qilūn “Apakah kamu tidak menggunakan akalmu?” atau ya’qilūn “mereka mengerti/menggunakan akal”. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulul albāb)…” (QS Ali Imran, :190 – 191) Ayat ini secara jelas menghubungkan penggunaan akal dalam merenungkan alam semesta dengan pengenalan terhadap keesaan dan kekuasaan Allah.
Meskipun kuat, akal memiliki keterbatasan. Akal dapat mencari, mempelajari, dan menemukan bukti atas keberadaan Allah SWT. Sang Pencipta. Akal tidak dapat mengetahui secara rinci bagaimana cara mengabdi, menyembah, dan beribadah kepada-Nya. Akal tidak menemukan petunjuk dan jalan tentang kehidupan sesudah kehidupan di dunia atau kehidupan setelah mati. Artinya, banyak hal yang tidak dapat dijamah atau dijangkau dan dijelaskan oleh akal. Oleh karena itu, Allah SWT menurunkan jalan hidayah yang paling tinggi.
Jalan hidayah tertinggi dan terlengkap adalah agama Islam (dīn). Din disampaikan-Nya melalui para nabi dan rasul serta kitab-kitab suci. Puncak penyampaiannya adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Hidayah ini bersifat supranatural, melampaui kemampuan naluri, indra, dan akal untuk mencapainya sendiri. Agama Islam berfungsi sebagai jalan hidayah pamungkas yang mengisi kekosongan akal. Ia memberikan panduan yang jelas dan rinci tentang akidah (kepercayaan), syariat (hukum), dan akhlak (moral), serta tujuan hakiki penciptaan dan akhirat. Inilah jalan yang lurus (ṣirāṭal-mustaqīm) yang diminta puluhan kali setiap hari oleh seorang hamba di dalam salatnya.
Allah SWT menegaskan, Islam adalah jalan hidayah yang sempurna. Ditegaskan Allah, “Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran, 19). Ayat ini secara definitif menetapkan Islam sebagai satu-satunya jalan spiritual yang benar menuju kebahagiaan abadi. Pada ayat lain Allah berfirman, menegaskan atas kesempurnaan hidayah Islam, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS Al-maidah, 3). Ayat ini menunjukkan bahwa hidayah melalui Islam adalah nikmat yang sempurna dan lengkap.
Keempat jalan hidayah ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan sebuah sistem terpadu. Naluri menjaga kelangsungan hidup dasar. Pancaindra mengumpulkan data dan akal memroses data tersebut untuk mencapai pengetahuan logis. Agama Islam (wahyu) memberikan kebenaran mutlak dan panduan spiritual yang tidak dapat dijangkau oleh ketiganya. Kita seyogyanya mengaktifkan dan mengoptimalkan seluruh jalan hidayah ini. Mengandalkan naluri saja menjadikan manusia seperti hewan; mengandalkan indra saja membuat pengetahuan bersifat permukaan; dan mengandalkan akal saja akan menjadikannya sombong dan mudah sesat karena keterbatasan rasio. Jalan yang lurus hanya dapat ditemukan ketika akal tunduk pada wahyu (Islam) yang didukung oleh informasi dari indra dan pondasi dari naluri.
Inilah hikmah di balik pengulangan doa Ihdināṣ-ṣirāṭal-mustaqīm dalam salat. Setiap permintaan adalah permohonan agar Allah senantiasa membimbing hamba-Nya untuk menggunakan keempat karunia hidayah ini secara benar. Permintaan ini adalah janji untuk menggunakan naluri secara halal, indra secara bertanggung jawab, akal secara maksimal, dan yang terpenting, menjadikannya semua patuh kepada agama Islam sebagai petunjuk tertinggi.
Jadi, frekuensi membaca Al-Fatihah mencerminkan urgensi manusia terhadap petunjuk ilahi. Empat jalan hidayah yakni naluri, indra, akal, dan agama Islam merupakan instrumen dan mekanisme sistemik yang disiapkan Allah SWT. Melalui jalan yang paling tinggi, yaitu agama Islam, manusia menemukan jawaban atas pertanyaan terbesar dalam hidup dan dapat mencapai tujuan akhir, yaitu keridaan Allah SWT.
Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Demak, 24 Desember 2025