MEMPERTEGAS KEMBALI TUJUAN HIDUP KITA

Oleh  Zulkarnaini Diran

Menjalani kehidupan di atas usia enam puluh tahun banyak muncul pertanyaan. Pertanyaan itu dapat datang dari diri sendiri, bisa pula muncul dari orang lain. Pertanyaan itu ada yang terjawab dan ada yang terabaikan. Ketika hal itu terabaikan, ia tetap  saja menjadi pertanyaan. Jika kita bawa membatin kemudian kita gulirkan ke ranah perenungan yang mendalam, kita perlu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ”bergentayangan” itu. Bagi yang berusia di atas enampuluh tahun (usia pensiun) pertanyaan yang sering muncul adalah, “Apa kegiatan (bapak, mamak, uda, dll.) setelah pensiun?

Jawabannya dapat bervariasi  untuk setiap orang. Tentu tergantung kepada bentuk atau jenis kegiatan yang dilakukan. Barangkali, sebelum memberi jawaban perlu direnungkan kembali ”tujuan hidup kita”. Secara akademik dan teoretik hidup itu perlu ada visi, misi, tujuan, program, dan tindakan. Hal itu sering kita terima, kita dengar, bahkan kita catat dalam lembar-lembar kertas ketika mengikuti mata kuliah manajemen. Tentu, pasti, dan sangat benar bahwa hidup ini harus direncanakan. 

Perencanaannya hendaklah disandarkan kepada keyakinan tertentu, dilandaskan kepada dasar yang kokoh. Sebagai umat muslim, kita telah diberi ”visi” oleh Allah SWT yakni untuk beibadah kepada-Nya. Kemudian diberi ”misi” yaitu menjadi khalifah di muka bumi. Dari visi dan misi itu kita dapat merumuskan tujuan hidup kita. Dengan demikian ”pertanyaan” yang muncul itu akan terjawab. Pada usia senja (di atas 60 tahun) perlu dipertegas kembali tujuan hidup agar dapat beraktifitas dengan benar, efektif, dan efisien.

Menapaki usia di atas enam puluh tahun bukanlah sekadar perpindahan angka atau status dari pekerja menjadi pensiun. Secara psikologis dan spiritual, masa ini adalah fase “reorientasi”. Kita  diajak untuk menoleh ke belakang guna mengevaluasi dan melihat ke depan guna memantapkan langkah. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul, sebagaimana yang muncul dan mengapung pada dekade ini adalah sinyal bahwa jiwa kita membutuhkan kompas yang lebih jelas dan jernih untuk sisa perjalanan yang ada.

Dalam Islam, hidup bukanlah sebuah kebetulan yang tanpa arah. Menegaskan kembali tujuan hidup berarti mengembalikan kesadaran kita pada desain besar yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Bagi seorang Muslim, pensiun dari pekerjaan duniawi bukanlah pensiun dari pengabdian kepada Allah. Justru, inilah saatnya menjalankan peran dengan kualitas yang lebih murni, tanpa distraksi ambisi karier atau persaingan materi yang sering kali menyita waktu di masa muda.

Visi hidup seorang Muslim telah ditegaskan secara absolut dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Adh-Dhariyat ayat 56, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.” Pada usia senja, makna “ibadah” harus diperluas. Ibadah tidak lagi hanya sebatas ritual formal seperti shalat dan puasa, tetapi mencakup seluruh napas kehidupan. Setiap langkah kaki menuju masjid, setiap senyum kepada cucu, dan setiap nasihat bijak yang diberikan kepada generasi muda adalah bentuk ibadah yang akan memperberat timbangan amal di akhirat kelak.

Misi manusia di bumi adalah menjadi khalifah atau wakil Allah dalam menebar kebaikan dan mengelola bumi. Hal ini termaktub dalam Surah Al-Baqarah ayat 30,  “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Menjadi pensiunan tidak menggugurkan misi ini. Justru, dengan pengalaman hidup selama enam puluh tahun, seorang Muslim memiliki “modal kearifan” untuk menjadi penengah dalam masyarakat, pendidik di lingkungan keluarga, dan teladan bagi lingkungan sekitar.

Penting bagi kita untuk menyadari bahwa usia enam puluh tahun ke atas memiliki kedudukan istimewa dalam pandangan Rasulullah SAW. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda, “Allah telah memberi udzur (alasan) kepada seseorang yang Dia akhirkan ajalnya hingga mencapai usia enam puluh tahun.” Maknanya, pada usia ini, alasan untuk “lalai” atau “tidak tahu tujuan hidup” seharusnya sudah tertutup. Allah telah memberikan waktu yang sangat cukup bagi kita untuk belajar, jatuh bangun, dan akhirnya memahami hakikat kehidupan yang sebenarnya.

Memasuki masa purna tugas, program hidup harus bergeser dari akumulasi (mengumpulkan) menjadi distribusi (membagikan). Jika di masa muda kita fokus mencari nafkah dan membangun aset, maka di atas usia enam puluh tahun, fokus utama adalah bagaimana aset tersebut—baik harta, ilmu, maupun tenaga—menjadi amal jariyah. Ini selaras dengan sabda Nabi SAW bahwa ketika manusia wafat, amalnya terputus kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.

Tujuan hidup yang dipertegas kembali akan melahirkan efektivitas dalam beraktivitas. Seseorang yang tahu bahwa tujuannya adalah meraih Husnul Khatimah (akhir yang baik) tidak akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal yang sia-sia (laghwu). Ia akan lebih selektif dalam memilih kegiatan. Kegiatan sosial, pengajian, berkebun dengan niat memberi makan makhluk Allah, hingga  membaca, dan menulis menjadi program-program yang sangat efisien dalam mengisi tabungan spiritual.

Ketangguhan mental di usia tua sering kali diuji oleh rasa kesepian atau merasa tidak lagi berguna (post-power syndrome). Namun, dengan mempertegas tujuan hidup untuk mencari keridaan Allah, perasaan-perasaan negatif tersebut dapat ditepis. Allah berjanji dalam Surah Fussilat ayat 30,”Sesungguhnya orang-orang berkata “Tuhan kami adalah Allah” kemudian beristiqomah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata) ’Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepada mu.’”

Istiqomah di usia senja berarti menjaga kualitas iman agar tidak luntur oleh kondisi fisik yang menurun. Penyakit yang mungkin mulai datang atau tenaga yang mulai berkurang harus disikapi sebagai penggugur dosa dan sarana untuk semakin mendekat (taqarrub) kepada Allah. Inilah puncak dari efisiensi hidup: mengubah setiap rasa sakit dan keterbatasan menjadi pahala kesabaran yang tak terhingga.

Pada akhirnya, menegaskan kembali tujuan hidup adalah bentuk persiapan untuk sebuah perjalanan panjang yang pasti akan kita tempuh, yaitu kembali ke hadirat-Nya. Usia di atas enam puluh tahun adalah masa “senja yang indah” jika diisi dengan kesadaran penuh akan visi ibadah dan misi kekhalifahan. Kita tidak lagi bertanya “Apa yang akan saya dapatkan?“, melainkan “Apa yang akan saya bawa pulang?”.

Dengan menyandarkan setiap rencana pada keyakinan yang kokoh dan dilandasi oleh tuntunan Al-Qur’an serta Sunnah, masa pensiun tidak akan menjadi masa yang hampa. Ia justru menjadi masa keemasan untuk meraih kedekatan tertinggi kepada Sang Pencipta. Mari kita jadikan setiap detik yang tersisa sebagai investasi abadi, agar ketika saatnya tiba, kita dipanggil dalam keadaan jiwa yang tenang (Nafsul Mutmainnah).

Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat!

Demak,  Jawa Tengah, 24 Desember 2025

2 comments

  1. Sangat bagus tulisannya Pak Datuk. Bermanfaat buat umat, khususnya kita-kita yg sudah berada pada daftar tunggu ini. Amazing, tidak berkurang produktivitas menulisnya ya ? Mudah2an Pak Datuk tetap sehat & berkarya terus, dan Allah SWT memberi umur yg berkah buat Pak Datuk & keluarga ……. Aamiin.

    1. Alhamdulillah, makasi Kak haji Prof. Amin yarobbal alamin. Senang saya, Kak Haji mampir di blog saya. Insyaallah terus menulis. Kata orang, menulis dan membaca dapat memperlambat proses kepikunan, insyaallah. Libur di ma, Kk Haji Prof., lai di Padang?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *