MENGGAPAI KEBAHAGIAN

Oleh Zulkarnaini Diran

Hidup bahagia adalah impian semua orang. Untuk mendapatkannya orang berjuang tanpa henti. Perjuangan itu menguras pikiran, tenaga, dan waktu. Untuk mewujdukannya diperlukan pengorbanan yang luar biasa. Namun hasil perjuangan itu tidak seperti diharapkan. Kadang-kadang yang berjadi sebaliknya. Bukan bahagia yang didapat, tetapi sebaliknya. Pada akhirnya perjuangan itu menuai hasil kekecewaan. Itulah yang jamak dialami oleh anak manusia.

Islam merumuskan konsep Bahagia secara tegas. Dimensi Bahagia ada pada dua dimensi kehidupan yakni dunia dan akhirat. Tentu untuk dapat menggapai itu perlu dipahami konsep Bahagia di dunia, konsep bahagia di akhirat. Untuk mencapainya para ulama menyarankan banyak hal. Di antaranya Ibnu Qusairi menyarankan agar dalam hidup jangan membenci, jangan merasa lebih baik, menyanagi sesama,  ikhlas dalam berbuat, ridha atas ketetapan Allah, hindarilah prasangka, dan senantiasalah berdoa kepada Allah untuk kebahagiaan.

Dalam Islam, bahagia bukan sekadar tawa atau tumpukan harta. Bahagia disebut dengan istilah Sa’adah. Kebahagiaan sejati adalah ketenangan hati (tuma’ninah) yang lahir dari kedekatan kepada Sang Pencipta. Islam memandang bahwa dunia hanyalah ladang, sedangkan akhirat adalah tempat memanen. Oleh karena itu, bahagia yang hakiki harus mencakup keduanya: Fiddunya Hasanah wa fil Akhirati Hasanah.

Kebahagiaan di dunia bagi seorang Muslim adalah ketika ia mampu menyelaraskan langkahnya dengan syariat Allah, sehingga hatinya merasa tenang meski dalam kekurangan. Sedangkan kebahagiaan akhirat adalah puncaknya, yaitu ridha Allah dan surga-Nya. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (hayatan thayyibah)…” (QS. An-Nahl: 97)

Kebencian adalah racun yang mematikan kebahagiaan dari dalam. Saat kita membenci, pikiran kita terpenjara oleh sosok yang kita benci. Islam mengajarkan kasih sayang agar hati kita ringan. Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah kalian saling membenci, saling mendengki, dan saling membelakangi, tetapi jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR. Muslim).

Penyakit hati yang paling merusak adalah kesombongan atau merasa lebih mulia dari orang lain. Merasa lebih baik membuat kita haus akan pujian, dan jika tidak mendapatkannya, kita akan kecewa. Islam mengajarkan rendah hati. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada seberat biji sawi dari kesombongan (HR. Muslim).

Bahagia itu menular. Saat kita memberi kebahagiaan kepada orang lain, Allah SWT akan mengirimkan kebahagiaan itu kembali ke hati kita. Menyayangi sesama adalah kunci turunnya rahmat Allah. Dalam sebuah hadis dikatakan: “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman (Allah). Sayangilah penduduk bumi, maka penduduk langit akan menyayangimu.” (HR. Abu Dawud).

Kekecewaan sering muncul karena kita berharap pada balasan manusia. Jika kita berbuat karena Allah (Ikhlas), maka ucapan terima kasih manusia tidak lagi menjadi penting. Ikhlas adalah mesin kedamaian. Allah berfirman: “Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama…” (QS. Al-Bayyinah: 5).

Inilah kunci utama menghadapi takdir yang tidak sesuai harapan. Ridha berarti menerima bahwa pilihan Allah untuk kita adalah yang terbaik, meski saat ini terasa pahit. Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin… jika ia mendapat kesenangan ia bersyukur, itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesulitan ia bersabar, itu pun baik baginya.” (HR. Muslim).

Banyak energi habis hanya karena kita menduga-duga keburukan orang lain atau bahkan berprasangka buruk pada Allah. Prasangka menciptakan kecemasan yang tidak perlu. Allah mengingatkan dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa…” (QS Al-Hujurat:12)

Doa adalah pengakuan bahwa kita lemah dan butuh sandaran. Dengan berdoa, kita menyerahkan beban pikiran kita kepada Yang Maha Kuasa. Doa bukan hanya tentang meminta dunia, tapi meminta ketetapan hati. Salah satu doa yang diajarkan adalah doa Sapu Jagat: “Wahai Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat…” (QS. Al-Baqarah: 201).

Seringkali kita tidak bahagia bukan karena kekurangan, tapi karena kurang melihat apa yang sudah dimiliki. Syukur mengubah apa yang kita miliki menjadi “cukup”. Allah menjanjikan dalam QS. Ibrahim: 7 bahwa jika kita bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat tersebut, baik secara jumlah maupun secara rasa di hati.

Kesibukan mengejar dunia sering membuat ruh kita haus. Dzikir atau mengingat Allah adalah nutrisi bagi jiwa agar tetap tenang di tengah badai cobaan. Allah menegaskan dalam QS. Ar-Ra’d: 28: “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” Hati yang tenteram adalah definisi bahagia yang paling sederhana.

Perjuangan yang melelahkan seperti yang disebutkan terjadi karena kita merasa “hasil” adalah milik kita. Islam mengajarkan kita berjuang sekuat tenaga (ikhtiar), namun menyerahkan hasilnya kepada Allah (tawakal). Dengan tawakal, jika hasil tidak sesuai harapan, kita tidak akan hancur oleh kekecewaan karena kita tahu Allah punya rencana lain.

Akhirnya, ingatlah bahwa kebahagiaan sempurna tidak ada di dunia yang fana ini. Dunia adalah tempat ujian. Jika kita menanam kebaikan di sini, maka kebahagiaan yang tak terbatas menanti di akhirat nanti. Seperti kata para ulama, jadikanlah dunia di tanganmu, jangan di hatimu, agar saat dunia itu hilang, hatimu tidak ikut hancur.

Padang, 18 April 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *