Oleh Zulkarnaini Diran

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al-Munafiqun [63]:9)
Allah SWT menyeru orang yang beriman. Seruan itu khusus, hanya untuk orang beriman, bukan hamba yang lain, bukan hamba yang kafir, tetapi hamba yang membenarkan “rukun iman”. Seruan itu diiringi dengan peringatan yang tegas, lugas, dan mudah dipahami. Seruan itu adalah agar harta dan anak jangan sampai membuat hamba lalai dari mengingat Allah SWT. Peringatan itu kemudian diiringi dengan “berita” atau kabar, bahwa jika itu terjadi, hamba akan rugi. Tiga hal penting yang perlu dicerna dari ayat ini.
Allah SWT memulai ayat ini dengan sapaan “Ya ayyuhalladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman). Ini adalah seruan cinta sekaligus peringatan bagi mereka yang telah menyatakan komitmen spiritualnya. Iman bukan sekadar ucapan, melainkan keyakinan yang harus dibuktikan dengan prioritas hidup. Dengan memanggil “orang beriman”, Allah menegaskan bahwa hanya mereka yang memiliki cahaya imanlah yang mampu menangkap sinyal peringatan ini dan mengubah perilaku mereka sebelum terlambat.
Menjadi orang beriman berarti menempatkan Allah SWT di puncak segala urusan. Ketika Allah menyeru orang beriman dalam konteks harta dan anak, Dia sedang mengingatkan bahwa identitas keimanan seseorang sedang diuji dengan yang paling dicintainya di dunia. Tanpa iman yang kokoh, manusia akan mudah terseret arus materialisme. Oleh karena itu, seruan ini berfungsi sebagai “alarm” agar seorang mukmin tidak kehilangan arah di tengah gemerlapnya fasilitas hidup.
Harta dan anak adalah dua hal yang paling dominan menyita perhatian manusia. Dalam Islam, keduanya disebut sebagai zinatul hayatud dunya (perhiasan kehidupan dunia). Allah berfirman, “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia…” (QS Al-Kahfi:46) Namun, di balik keindahannya, terdapat potensi fitnah (ujian). Keduanya bisa menjadi sarana ibadah jika dikelola dengan benar, namun bisa menjadi “berhala” jika dicintai melebihi cinta kepada Sang Pencipta.
Lalai atau lahwun dalam ayat ini berarti kondisi pikiran dan hati terserap sepenuhnya oleh urusan duniawi sehingga kewajiban kepada Allah terabaikan. Mengingat Allah (dzikrullah) bukan hanya aktivitas lisan, melainkan kesadaran hati yang membimbing perbuatan. Kelalaian terjadi ketika mencari harta membuat kita meninggalkan salat, atau ketika mendidik anak membuat kita melupakan syariat-Nya. Inilah titik krusial yang diperingatkan oleh Allah SWT.
Harta sering kali menipu pemiliknya dengan rasa aman yang semu. Seseorang bisa sangat sibuk mengumpulkan dan menghitung hartanya hingga merasa seolah-olah ia akan hidup selamanya. Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah…” (HR Bukhari dan Muslim). Ketidakpuasan inilah yang menyebabkan kelalaian, waktu habis hanya untuk mengejar angka-angka tanpa sempat bersujud dengan tenang.
Anak adalah amanah yang sangat besar, namun kasih sayang yang berlebihan atau cara pandang yang salah terhadap anak bisa membuat orang tua berpaling dari Allah. Seringkali, demi ambisi duniawi anak, orang tua menghalalkan segala cara atau mengabaikan pendidikan tauhid. Allah mengingatkan, “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (fitnah), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (QS At-Taghabun:15). Ayat ini menekankan bahwa fokus utama harus tetap pada keridaan Allah SWT.
Mengingat Allah adalah tameng utama dari kelalaian. Ia mencakup salat lima waktu, zakat, membaca Al-Quran, dan selalu merasa diawasi oleh-Nya (muraqabah). Jika harta digunakan untuk sedekah dan anak dididik menjadi generasi saleh, maka keduanya justru menjadi sarana untuk mengingat Allah. Namun, jika keberadaan mereka justru memutus hubungan spiritual kita dengan Allah, maka itulah awal dari kehancuran yang diperingatkan dalam ayat tersebut.
Allah menutup ayat ini dengan kalimat yang sangat tegas: “Mereka itulah orang-orang yang merugi.” Kata “rugi” di sini bukan sekadar kerugian finansial, melainkan kerugian eksistensial. Kerugian ini bersifat abadi karena menyangkut nasib di akhirat. Orang yang menukar hubungan baiknya dengan Allah demi kesenangan sesaat bersama harta dan anak akan mendapati dirinya hampa saat menghadapi kematian, saat itu harta dan anak tidak lagi bisa menolong.
Dalam perspektif Al-Quran, hidup adalah sebuah perniagaan. Orang yang melalaikan Allah demi harta diibaratkan seperti pedagang yang menjual permata surga untuk mendapatkan segenggam pasir gurun. Ia merasa untung karena tumpukan pasirnya banyak, namun ia kehilangan nilai yang sesungguhnya. Rasulullah SAW bersabda: “Celakalah penyembah dinar, celakalah penyembah dirham…” (HR. Bukhari). Inilah gambaran kerugian bagi mereka yang menuhankan materi.
Kerugian tidak hanya terjadi di akhirat, tetapi juga terasa di dunia. Orang yang lalai dari mengingat Allah akan mengalami kesempitan jiwa meskipun hartanya melimpah. Allah berfirman, “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit…” (QS Thaha:124) Tanpa zikir, hati akan selalu merasa kurang, cemas, dan tidak pernah menemukan ketenangan yang hakiki. Kegelisahan selalu menghantui yang pada akhirnya bermuara kepada ketersiksaan dalam kehidupan.
Untuk menghindari kerugian ini, seorang mukmin harus memiliki manajemen skala prioritas. Jadikan harta di tangan, bukan di hati. Jadikan anak sebagai investasi akhirat dengan memberikan pendidikan agama yang mumpuni. Setiap kali urusan dunia datang, timbanglah apakah urusan tersebut mendekatkan atau menjauhkan kita dari Allah. Disiplin dalam menjaga ibadah wajib adalah kunci utama agar dunia tidak melalaikan kita.
Ayat ini tidak melarang kita memiliki harta atau mencintai anak, karena itu adalah fitrah manusia. Yang dilarang adalah menjadikannya alasan untuk lalai. Mukmin yang cerdas adalah mereka yang mampu menggunakan harta sebagai kendaraan menuju surga dan menjadikan anak sebagai saksi kebaikannya di hadapan Allah. Dengan demikian, kita tidak akan termasuk golongan orang-orang yang merugi, melainkan golongan yang beruntung di dunia dan mulia di akhirat. Insyaallah. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat.
Padang, 13 April 2026