Oleh Zulkarnaini Diran

“…maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya, Dia Maha Penerima Tobat.” (An-Nashr [110]:3). Ada tiga kata penting yang perlu disiasati dalam memhami ayat ini. Ketiga hal penting itu adalah bertasbih dengan memuji Tuhan, memohon ampunan, dan Allah Maha Penerima Tobat. Ketiga hal itu merupakan dasar untuk memhamai ayat ini ke arah penerapan atau implementatif.
Bertasbih atau tasbih berarti mensucikan Allah dari segala kekurangan. Dalam konteks ayat ini, ketika seseorang meraih kemenangan atau kesuksesan, ia diperintahkan untuk sadar bahwa keberhasilan tersebut bukanlah semata-mata karena kecerdasan atau kekuatannya sendiri. Mengucapkan Subhanallah adalah pengakuan bahwa Allah Maha Suci dari sifat lemah, dan segala kesempurnaan hanya milik-Nya. Hal ini mencegah timbulnya penyakit hati seperti sombong (ujub) yang seringkali muncul saat manusia berada di puncak pencapaian.
Memuji Tuhan atau tahmid (Alhamdulillah) merupakan kelanjutan logis dari tasbih. Jika tasbih mensucikan Allah, maka tahmid menetapkan segala sifat kesempurnaan bagi-Nya. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Muslim menyebutkan bahwa “Tahmid memenuhi timbangan (amal).” Dengan menggabungkan keduanya, seorang hamba menyadari bahwa kesuksesan adalah karunia yang harus disyukuri, bukan piala untuk dipamerkan. Secara implementatif, ini mengajarkan kita untuk selalu rendah hati dan mengembalikan semua pujian kepada pemilik aslinya, yaitu Allah SWT.
Mungkin muncul pertanyaan, mengapa di saat menang atau sukses kita justru diperintah untuk memohon ampunan (Istighfar)? Dalam kacamata spiritual, istighfar adalah penambal atas kekurangan yang terjadi selama proses perjuangan. Boleh jadi dalam bekerja atau berdakwah, terselip niat yang kurang ikhlas, ada waktu yang terbuang sia-sia, atau ada hak orang lain yang terabaikan. Istighfar adalah cara untuk membersihkan residu-residu negatif tersebut agar keberhasilan yang diraih menjadi berkah dan suci.
Selain itu, istighfar merupakan bentuk pengakuan akan keterbatasan manusia. Rasulullah SAW, manusia yang maksum (terjaga dari dosa), tetap beristighfar lebih dari tujuh puluh kali dalam sehari. Hal ini menunjukkan bahwa memohon ampunan adalah kebutuhan abadi seorang hamba, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Secara praktis, istighfar setelah meraih sukses menjaga hati agar tetap lembut dan tidak “mabuk” oleh sanjungan duniawi, sehingga fokus tetap tertuju pada bekal kehidupan akhirat.
Penutup ayat ini memberikan jaminan psikologis dan spiritual yang luar biasa dengan menyebutkan sifat Allah sebagai Maha Penerima Tobat. Kata At-Tawwab dalam bahasa Arab menunjukkan bentuk yang berulang-ulang (mubalaghah), artinya Allah selalu kembali memberi rahmat kepada hamba-Nya sebanyak apa pun hamba itu kembali kepada-Nya. Jaminan ini menanamkan rasa optimisme bahwa pintu kembali selalu terbuka, sehingga tidak ada alasan bagi manusia untuk berputus asa dari rahmat Allah.
Memahami sifat Allah sebagai Maha Penerima Tobat secara implementatif menuntut kita untuk memiliki sifat pemaaf terhadap sesama. Jika Tuhan yang Maha Perkasa saja berkenan memaafkan hamba-Nya yang penuh noda, maka manusia sudah sepatutnya melapangkan dada bagi kesalahan orang lain. Keyakinan pada sifat At-Tawwab ini menjadi fondasi kedamaian batin, karena kita tahu bahwa setiap usaha perbaikan diri akan disambut dengan kasih sayang oleh Sang Pencipta.
Ketiga elemen dalam ayat ini membentuk satu kesatuan karakter manusia yang paripurna. Tasbih dan Tahmid membangun hubungan vertikal yang kokoh dengan mengakui keagungan Allah. Istighfar membangun kesadaran internal akan kelemahan diri, sementara keyakinan pada Allah Maha Penerima Tobat memberikan ketenangan dalam melangkah menuju masa depan.
Dalam kehidupan sehari-hari, ayat ini dapat diterapkan dengan membiasakan lisan dan hati untuk tidak membesarkan peran diri sendiri. Saat tugas selesai dengan baik, saat anak-anak sukses, atau saat organisasi mencapai target, maka respon pertama bukanlah memuji strategi, melainkan melafalkan Subhanallahi wa bihamdihi, astaghfirullah wa atuubu ilaih. Ini adalah doa yang sering dibaca Rasulullah SAW setelah turunnya surah ini.
Dengan menjalankan tiga pilar ini secara tuntas, seseorang akan mencapai derajat mutmainnah (jiwa yang tenang). Ia tidak akan hancur karena kegagalan dan tidak akan lupa diri karena kemenangan. Segalanya dikembalikan kepada Allah, dari Allah, dan untuk Allah, sebagaimana hakikat dari penciptaan manusia itu sendiri. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terimakasih!
Padang, 12 April 2026