Oleh Zulkarnaini Diran

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ
“Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari No. 13, Muslim No.45)
Hadis ini merupakan satu dari sekian indikator kesempurnaan iman seseorang. Untuk sampai ke tingkat atau memenuhi indikator itu, tentu melalui proses panjang. Seseorang harus berupaya, berjuang sungguh-sungguh untuk mencapainya. Perjuangan itu bisa jadi memerlukan waktu yang lama dan proses yang terus-menerus. Tahap awal menuju itu adalah memahami secara mendalam maksud hadis ini. Ada tiga hal penting yang perlu diejlaskan dalam upaya pemahaman awal. Ketiga hal itu adalah “kesempurnaan iman, wujud mencintai saudara, dan seperti mencintai diri sendiri”.
Dalam hadis tersebut, kalimat “tidak beriman” (la yu’minu) tidak berarti seseorang keluar dari Islam (kafir), melainkan imannya belum mencapai derajat kesempurnaan atau hakikat yang sejati. Iman bukan sekadar pengakuan lisan atau ritual formal, melainkan sebuah pohon yang buahnya adalah akhlak mulia kepada sesama.
Secara teologis, iman memiliki tingkatan. Seseorang bisa saja memiliki iman yang sah secara hukum, namun secara kualitas, ia masih jauh dari rida Allah jika hatinya masih dipenuhi egoisme. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…”. (QS Al-Hujurat:10). Ayat ini menegaskan bahwa iman menciptakan ikatan kekeluargaan yang mengharuskan adanya rasa kasih sayang.
Kata “saudara” dalam konteks hadis ini mencakup saudara seagama (ukhuwah Islamiyah) maupun sesama manusia (ukhuwah insaniyah – bayariyah). Mencintai saudara berarti menginginkan kebaikan bagi mereka, baik dalam urusan dunia maupun akhirat. Ini adalah bentuk peniadaan sifat dengki (hasad) yang seringkali menjadi penghalang kebahagiaan orang lain.
Wujud dari rasa cinta ini dijelaskan dalam hadis lain, “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling menipu, janganlah saling membenci… dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (HR Muslim No.2564). Mencintai saudara berarti kita merasa senang saat mereka mendapat nikmat dan merasa sedih saat mereka tertimpa musibah.
Mencintai diri seniri adalah standar emas (Golden Rule) dalam Islam. Parameternya adalah diri kita sendiri. Jika kita tidak suka disakiti, maka kita tidak akan menyakiti orang lain. Jika kita ingin dihormati, maka kita harus menghormati orang lain terlebih dahulu. Ini adalah latihan empati tingkat tinggi yang menghancurkan narsisme spiritual. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang indah dalam hadis, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasa sakit…” (HR Bukhari dan Muslim). Inilah standar yang dimaksud: merasakan denyut nadi kesulitan orang lain di dalam jantung kita sendiri.
Inilah beberapa contoh konkret dalam kehidupan sehari-hari. Dalam bidang ekonomi, seorang pedagang yang beriman tidak akan menimbun barang atau memanipulasi timbangan. Karena ia sendiri tidak ingin ditipu saat menjadi pembeli. Ia ingin pembelinya mendapatkan manfaat yang sama sebagaimana ia ingin mendapatkan keuntungan yang berkah. Dalam menggunakan media social, sebelum mengetik komentar negatif atau menyebarkan hoaks tentang seseorang, ia akan berpikir: “Apakah saya suka jika aib saya disebar seperti ini?” Jika jawabannya tidak, maka imannya akan menahan tangannya untuk tidak melakukan hal tersebut. Tentu banyak contoh lain yang dapat didaftar sekaitan dengan konteks ini.
Mencapai derajat ini memang memerlukan waktu yang lama karena musuh utamanya adalah hawa nafsu dan ego. Kita seringkali merasa lebih penting dari orang lain. Namun, dengan terus melatih diri melalui sedekah, menjaga lisan, dan mendoakan kebaikan bagi orang lain secara diam-diam, kualitas iman itu akan tumbuh secara bertahap. Seseorang yang sudah sampai pada tahap ini akan merasakan kemanisan iman (halawatul iman). Hidupnya menjadi tenang karena ia tidak lagi disibukkan oleh persaingan yang tidak sehat, melainkan disibukkan oleh upaya untuk menjadi bermanfaat bagi orang di sekitarnya.
Akhirnya penting untuk diingat. Islam tidak memisahkan antara hubungan kepada Allah (Hablum Minallah) dan hubungan kepada manusia (Hablum Minannas). Hadis ini adalah jembatan yang menghubungkan keduanya. Tanpa rasa cinta kepada sesama, klaim keimanan seseorang barulah sebatas teori yang belum teruji kebenarannya, belum terukur kesempurnaannya, dan belum mencapai satu dari sekian indikator yang dirujuk. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 13 April 2026