Oleh Zulkarnaini Diran

Fenomena menggambarkan. Kurun ini menjadi “zaman fitnah”. Pada dekade ini kebenaran dan kebatilan seringkali terlihat samar. Pada era informasi yang begitu cepat ini, hati kita sangat mudah goyah oleh berita bohong. Berita tren yang melalaikan, hingga dapat menimbulkan konflik antar-sesama. Agar hati tetap kokoh, kita memerlukan “jangkar” yang kuat untuk mnghadapinya.
Secara bahasa, fitnah bermakna ujian atau cobaan yang memurnikan. Layaknya emas yang dibakar untuk memisahkan logam mulia dari kotorannya. Dalam konteks akhir zaman, fitnah merujuk pada kekacauan sistemik. Standar moral dan kebenaran menjadi jungkir balik. Rasulullah SAW menggambarkan masa ini seperti “potongan malam yang gelap gulita —seseorang beriman di pagi hari, namun menjadi ingkar di sore hari.” Kekuatan utama dari fitnah ini bukanlah kekerasan fisik semata, melainkan serangan terhadap persepsi dan keyakinan yang membuat manusia kehilangan kompas batinnya.
Pada era digital, fitnah menemukan medium paling efektif yaitu kecepatan informasi. Dulu kebohongan butuh waktu berhari-hari untuk menyebar. Kini ia bisa menjangkau jutaan orang dalam hitungan detik. Informasi yang melimpah (information overload) justru menciptakan “kabut” yang menghalangi kejernihan berpikir. Kita hidup di era post-truth, emosi dan keyakinan pribadi lebih dianggap sebagai kebenaran daripada fakta objektif. Keterbukaan informasi ini membuat batas antara privasi dan konsumsi publik menjadi kabur, memicu ghibah digital berskala masif yang sering kali dianggap sebagai hal lumrah.
Kegamangan kita muncul karena hilangnya otoritas kebenaran yang tunggal. Di tengah banjir informasi, setiap orang bisa menjadi “pakar” atau “mufti” bagi dirinya sendiri. Hal ini justru dapat berujung pada kebingungan kolektif. Kita merasa cemas jika tertinggal tren, namun merasa hampa saat mengikutinya. Ketidakmampuan kita untuk memfilter mana yang bermanfaat dan mana yang merusak (melalaikan) membuat hati terus-menerus berada dalam kondisi waspada yang melelahkan. Hal ini menciptakan masyarakat yang reaktif, mudah terprovokasi, dan sulit untuk berempati secara tulus.
Salah satu contoh paling nyata adalah fenomena pembunuhan karakter (cancel culture) dan hoaks politik. Seringkali, sebuah potongan video pendek tanpa konteks disebarkan untuk memicu kemarahan publik. Orang-orang dengan cepat menghujat tanpa melakukan tabayyun (verifikasi). Contoh lain adalah standar kebahagiaan semu di media sosial. Kita melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna dan merasa “kurang”. Timbul rasa iri dan tidak bersyukur yang merupakan racun bagi hati. Ini adalah bentuk fitnah yang menyerang rasa kecukupan dan ketenangan batin kita.
Untuk tetap kokoh, kita membutuhkan jangkar berupa ilmu yang bersanad, ketajaman literasi, dan kejernihan spiritual. Kembali ke prinsip dasar agama dan etika kemanusiaan adalah kunci agar tidak terombang-ambing. Kita harus belajar untuk “diam” di tengah kebisingan informasi. Tidak semua berita harus dibagikan, dan tidak semua perdebatan harus diikuti. Menjaga jarak sejenak dari hiruk-pikuk dunia digital (digital detox) seringkali menjadi cara paling efektif untuk memulihkan koneksi kita dengan Sang Pencipta dan menjaga hati agar tetap teguh di atas kebenaran.
Langkah pertama untuk meneguhkan hati adalah berinteraksi intens dengan Al-Qur’an. Al-Qur’an bukan sekadar pajangan di lemari, melainkan manual kehidupan. Saat kita membacanya dengan tenang (tartil) dan mencoba memahami artinya, ayat-ayat tersebut akan masuk ke dalam jiwa dan memberikan ketenangan yang luar biasa.
Allah SWT berfirman, “Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).” (QS Al-Furqan [25]:32). Ayat ini turun ketika Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai tekanan dari kaum kafir. Jika Al-Qur’an bisa menguatkan hati Rasulullah, maka ia pun sanggup menjadi obat bagi kegalauan hati kita saat ini.
Pernahkah KITA merasa ujian hidup begitu berat? Cobalah baca kisah para Nabi (Sirah). Kita akan menemukan bahwa ujian yang mereka hadapi jauh lebih dahsyat, namun mereka tetap teguh. Membaca kisah Nabi Ibrahim yang dingin di tengah api atau Nabi Yunus di perut ikan memberikan perspektif baru bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya. Allah berfirman, “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” (QS Hud [11]:120). Dengan mempelajari sejarah, kita menyadari bahwa fitnah dan ujian adalah sunnatullah (hukum alam). Mengetahui akhir perjalanan mereka yang bahagia (husnul khatimah) membuat kita lebih optimis menghadapi masa depan.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan, bukan sekadar dihafal. Seringkali kita merasa hampa meski sudah banyak ikut kajian. Hal ini bisa jadi karena kita hanya berhenti pada tahap “tahu” tanpa “melakukan”. Padahal, ketaatan dalam melakukan satu kebaikan kecil secara rutin adalah kunci kekuatan iman. Allah memberikan janji, “Dan sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pelajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menguatkan (iman mereka).” (QS An-Nisa [4]:66). Sederhananya, jika kita tahu shalat tahajud itu baik, maka mulailah lakukan. Jika kita tahu jujur itu wajib, maka praktikkanlah. Praktik nyata inilah yang akan membangun “otot” keimanan yang kuat sehingga tidak mudah roboh saat diterjang badai masalah.
Hati manusia itu lemah dan mudah terbolak-balik. Pagi hari mungkin kita merasa sangat beriman, sore harinya bisa jadi berubah karena godaan dunia atau medsos. Oleh karena itu, kita tidak boleh sombong dan merasa kuat sendirian. Kita butuh pertolongan Allah untuk menjaga hati tersebut. Rasulullah SAW sangat sering membaca doa ini, “ Wahai Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas ketaatan kepada-Mu. Beliau juga memerintahkan kita untuk berlindung dari fitnah, sebagaimana dalam HR. Muslim no. 2867: “Berlindunglah kalian kepada Allah dari segala fitnah, baik yang tampak ataupun yang tersembunyi.” Doa adalah pengakuan bahwa kita butuh Allah setiap saat.
Lingkungan sangat memengaruhi pola pikir kita. Jika kita berteman dengan orang-orang yang selalu membicarakan keburukan orang lain atau dunia semata, hati kita akan ikut keras. Sebaliknya, teman yang saleh akan mengingatkan kita saat kita salah dan menguatkan kita saat kita rapuh. Allah berfirman, “Dan bersabarlah bersama orang-orang yang berdoa kepada Tuhan mereka pada pagi dan petang hari dalam keadaan mereka menginginkan keridhoan Allah…” (QS Al-Kahfi [18]:28). Mencari teman baik memang tidak mudah di zaman sekarang, namun bukan berarti tidak mungkin. Berada dalam komunitas yang positif membantu kita tetap di jalur yang benar. Jangan sampai kita meninggalkan mereka hanya demi mengejar gengsi atau gaya hidup duniawi yang semu.
Jadi, dengan menjalankan kelima amal (mengakrabi Al-Quran, membaca kisah para nabi, mengamalkan ilmu, meminta perlindungan dari Allah SWT, dan berteman dengan orang saleh) insyaalah kita akan tetap tegar menghadapi fitnah akhir zaman. Dengan menjalankan kelima amalan ini secara konsisten, insyaallah hati kita akan menjadi lebih tenang, jernih dalam melihat masalah, dan yang terpenting: tetap teguh di atas jalan kebenaran meskipun dunia di sekitar kita sedang gaduh. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terimakasih.
Padang, 08 Mei 2026
Disarikan dari berbagai sumber.