DEKAT KEPADA ALLAH, SEMUA AKAN MUDAH

Oleh Zulkarnaini Diran

Dekat kepada Allah, semua akan mudah. Mendekatkan diri dilakukan dengan beribadah sungguh-sungguh. Menurut ulama, ibadah itu ada dua, yakni ibadah mahdah dan ghairu mahdah. Ibadah itu sendiri adalah “proses berlatih” bagi seorang hamba. Pelatihan dimulai dari ibadah wajib hingga ibadah sunnah. Proses pelatihan yang benar akan membuahkan hasil. Hasil yang langsung dirasakan oleh hamba adalah “kenikmatan dalam beribadah”.  Pada saat ibadah sudah menjadi kenikmatan, maka hamba akan membutuhkan ibadah dalam hidupnya. Pada saatnya akan terasa ada yang kurang dalam hidup ini, jika ibadah belum dilaksanakan.

Pada sisi lain, tugas hamba untuk menyempurnakan ibadahnya adalah menciptakan hubungan antar-sesama. Mulai dari saudara terdekat sampai saudara terjauh. Mulai dari saudara seiman sampai saudara sebangsa dan saudara sesama manusia. Hubungan itu hendaklah berdasarkan rambu-rambu yang ditetapkan oleh ajaran Islam. Setiap hubungan didasarkan kepada kasih sayang. Dilakukan semata-mata hanya karena Allah. Kesempurnaan ibadah dalam konteks hubungan dengan Allah SWT dipengaruhi oleh hubungan baik antar-sesama, sesama manusia

Kunci kemudahan hidup terletak pada seberapa dekat kita dengan Sang Pencipta. Mendekat kepada Allah bukan sekadar menggugurkan kewajiban, melainkan membangun komunikasi yang intim. Ketika seseorang sudah merasa butuh dan cinta kepada Allah, maka beban hidup yang berat sekalipun akan terasa ringan karena ia merasa “dibantu” oleh Zat Yang Maha Kuasa. Hal ini akan terwujud melalui pelatihan beribadah terus-menerus, tentunya.

Ibadah dibagi menjadi dua, yaitu mahdah (ibadah ritual seperti shalat, zakat, puasa, dan haji) dan ghairu mahdah (aktivitas duniawi yang mengandung kebaikan untuk diri dan orang lain,  diniatkan karena Allah, dan tidak menyelisihi Al-Quran dan Sunnah) seperti bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup,  menolong sesma, dan sebagainya. Langkah awalnya adalah menyempurnakan yang wajib. Jangan sampai kita mengejar yang sunnah tapi yang wajib terbengkalai. Setelah yang wajib kokoh, barulah kita hiasi dengan amalan sunnah sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Berlatih secara konsistensi atau istiqamah adalah kunci agar ibadah menjadi sebuah kenikmatan. Kenikmatan itu akan dirasakan manakala ibadah melibatkan semua elemen tubuh, lahir dan batin. Kemudian setiap ibadah akan dirasakan dampaknya terhadap ketenangan hidup dan kedamaian batin. Dengan demikian, ibadah tidak terasa sebagai beban, tapi menjadi kebutuhan.  Jika seseorang sudah mencapai derajat cinta dalam ibadah, ia akan merasa tenang. Allah SWT berfirman, ” …(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS Ar-Ra’ad […]:28)

Rasulullah SAW juga menekankan pentingnya amalan rutin meski sedikit. Rasululullah SAW bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus (rutin) meskipun sedikit.” ( HR Bukhari dan Muslim). Dengan kerutinan inilah, dinding penghalang antara hamba dan Pencipta runtuh, sehingga pertolongan Allah datang dalam setiap urusan. Di situlah kehidupan akan menjadi tenang, dan semua terasa akan mudah.

Kesalehan pribadi tidak cukup jika tidak dibarengi kesalehan sosial. Kita diminta meluaskan lingkaran persaudaraan, mulai dari keluarga inti, tetangga, hingga sesama manusia tanpa memandang perbedaan. Islam mengajarkan bahwa manusia adalah makhluk sosial yang kemuliaannya juga diukur dari bagaimana ia memperlakukan orang lain.

Persaudaraan ini harus dibangun di atas pondasi “karena Allah” (Lillahi Ta’ala). Artinya, kita berbuat baik bukan karena ingin dipuji atau dibalas oleh orang tersebut, melainkan karena menaati perintah Allah. Jika hubungan didasari karena Allah, maka ketika orang lain mengecewakan kita, kita tidak akan berhenti berbuat baik karena tujuan utama kita adalah keridaan-Nya. Rasulullah SAW memberikan perumpamaan yang sangat indah mengenai persaudaraan sesama Muslim, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan merasa demam.” (HR Muslim)

Selain itu, Syekh Abdul Qadir Al-Jailani, seorang ulama besar, pernah berpesan bahwa hendaknya kita memandang setiap orang lain memiliki kelebihan di atas kita. Kepada yang lebih tua kita menghormati pengalamannya, dan kepada yang lebih muda kita menyayangi karena dosanya yang mungkin lebih sedikit. Pandangan penuh kasih sayang inilah yang menciptakan keharmonisan hidup. Hal itu pula yang akan bermuara kepada kemudahan dalam menjalani kehidupan. Kemudian akan melapangkan kita dalam banyak hal.

Berdasarkan hal itu akan ditemukan “rumus” sukses kehidupan. Jika hubungan ke atas (kepada Allah) sudah baik dan hubungan ke samping (kepada manusia) sudah benar, maka secara otomatis jalan hidup akan terasa lapang. Allah akan memberikan jalan keluar dari arah yang tidak disangka-sangka bagi hamba-hamba-Nya yang menjaga dua hubungan ini secara seimbang.

Orang yang hanya asyik beribadah mahdah tapi kasar kepada tetangga, maka hidupnya akan mengalami hambatan sosial. Sebaliknya, orang yang sangat baik kepada manusia tapi melupakan Allah, maka ia akan kehilangan pegangan saat ditimpa badai kehidupan. Kesempurnaan iman terletak pada keseimbangan keduanya. Itulah mengapa dalam Al-Quran, perintah shalat (hubungan dengan Allah) seringkali beriringan dengan perintah zakat (hubungan dengan manusia). Allah SWT berfirman, “Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia…” (QS Ali Imran [3]:112)

Jika kedua tali ini kita pegang dengan kuat, maka janji Allah “semua akan mudah” menjadi nyata. Kemudahan di sini bukan berarti hidup tanpa ujian, melainkan Allah memberikan kekuatan mental, kejernihan pikiran, dan bantuan-bantuan tak terduga (ma’unah) untuk menyelesaikan setiap persoalan. Insyaallah, dengan menerapkan hal ini,  kita akan meraih kebahagiaan yang hakiki di dunia dan akhirat. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 09 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *