BELAJAR DARI MEREKA YANG TULUS (cuplikan biorgafi)

Oleh Zulkarnaini Diran

remaja

Limbanang adalah sebuah kenagarian. Berjarak lebih kurang 18 km dari kampung kelahiran. Di nagari inilah  SMA 2 Payakumbuh itu didirikan. Di sinilah, di nagari inilah saya bersekolah. Oleh karena jarak dari kampung kelahiran cukup jauh, saya harus mondok di nagari Limbanang. Saya dan teman-teman dari daerah lain harus bermukim di nagari ini. Hal yang pernah saya alami ketika belajri di SMP dulu, kini harus kembali saya jalani. Hidup mandiri, mengurus diri sendiri, dan pandai-pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan setempat.

Mengurus diri dan hidup mandiri bagi saya tidak asing lagi. Selama di SMP tiga setengah tahun saya sudah berlatih dan terlatih untuk itu. Menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat kita tinggal, saya perlu berlatih lagi. Saat ini saya harus belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial budaya yang lebih besar. Semasa di SMP lingkungannya hanya beberapa nagari dalam satu kecamatan. Kini saya berada dalam kehidupan sosial budaya dari sejumlah nagari dan sejumlah kecamatan. Intinya, saya harus belajar menyesuaikan diri dengan sosial budaya asli Limbanang dan sosial budaya pendatang atau pemukim baru.

Saya dan seorang teman, Amrin tinggal di dekat pasar Limbanang. Tempat tinggal kami lebih kurang dua ratus meter dari pasar. Rumah yang kami tempati rumah kayu. Kami tinggal di kamar depan, sementara pemilik ramah, Uni Ida dengan tiga orang anaknya tinggal di kamar belakang. Sementara suaminya Uda Ubai tinggal di Duri, Riau. Hanya pulang sesekali. Uni Ida menganggap kami berdua sebagai adiknya, dan kami pun menempatkan diri seperti anggapannya. Sehingga penyesuaian diri pertama saya dan Amrin adalah dengan keluarga itu.

Tinggal serumah dengan keluarga lain ada dinamikanya. Kami berdua banyak belajar dari uni Ida bagaimana mengurus keluarga. Mengurus tiga anak yang masih kecil-kecil sementara suami jauh, adalah perjuangan mahaberat dari seorang ibu. Akan tetapi, terlihat Uni Ida selalu bersemangat dan tidak pernah mengeluh mengurus anak-anaknya. Kadang-kadang saat tertentu kami bedua membantu urusan rumah seperti memandikan anak, memasak, mencuci alat-alat dapur, membersihkan rumah dan sebagainya. Kami berdua bekerja tanpa pamrih karena terus berusaha menyesuaikan diri dengan keluarga ini.

Di rumah ini saya tinggal hanya satu tahun. Tahun kedua di Limbanang saya pindah. Dua hal yang membuat saya harus meninggalkan rumah ini. Pertama, teman saya Amrin tidak  naik ke kelas dua. Oleh karena itu dia memutuskan untuk berhenti bersekolah di SMA ini. Kedua, Uni Ida dan anak-anaknya pindah ke tempat kerja suaminya di Duri, Riau. Kedua hal itulah yang menyebabkan saya harus mencari pemondokan baru. Sementara pemondokan itu didapat, saya ditampung oleh Mak Buyuang Talen, pegawai lapangan SMA yang kabarnya juga pernah hidup di kampung kelahiran saya. Kebaikan hati Mak Buyuang inilah yang membuat saya selamat sementara. Saya diterima untuk menempati rumahnya yang tidak jauh dari sekolah.

Pemondokan saya berikutnya adalah rumah keluarga Pak Hasan Basri dan Mak Saniah. Sampai menamatkan SMA saya tinggal di sini.  Pak Hasan Basri dikenal orang Limbanang sebagai Mak Asam, sedang Mak Sania dipanggil Mak Nia. Keluarga ini adalah keluarga islami. Hal itu terlihat dalam kenyataan sehari-hari. Waktu salat selalu dipeliharanya. Salat berjemaah di masjid adalah keseharian Mak Asam. Oleh keislamannya itulah saya merasa nyaman dan kerasan tinggal di rumah ini.

Ada beberapa orang siswa SMA yang mondok di rumah Mak Asam ini. Kami yang tinggal di sini dari latarbelakang nagari yang berbeda. Ada namanya Akhiruddin, orang Ateh Koto Suliki, tetapi lahir, menamatkan SD, dan SMP di Jakarta. Dia susah berbahasa Minang. Saya sangat akrab dengan Akhiruddin. Ada Harmon dari Nagari Pandam Godang, cucu Pahlawan Nasional Tan Malaka. Orangnya kurus, tetapi sangat baik dalam pergaulan. Kalau saya kehabisan sambal, dia selalu menawarkan sambalnya untuk disantap. Ada juga Rinaldi Syamsiram, anak Pak Syamsiram, ketua pembangunan SMA Limbanang. Orangnya sangat cerdas, hebat dalam ilmu pasti. Bergaul sangat santun. Nah itulah dia antaranya teman saya di rumah Mak Asam.

Banyak kenangan yang tercatat di rumah Mak Asam. Kenangan itu akhirnya menjadi kristal pengalaman yang sulit dilupakan. Bahkan kenangan itu menjadi dasar, landasan, dan infratruktur untuk menapaki kehidupan  selanjutnya. Di antara kenangan itu adalah kebiasaan  Mak Asam membangunkan kami  setiap pagi. Bliau yang sangat islami itu selalu menyarankan untuk salat subuh ke masjid. Meskipun tidak semua kami yang mengindahkannya, tetapi bagi saya ini kenangan yang sangat bermakna.

Tiap pagi, Mak Asam berjalan kaki hampir 1 km dari kedai tempat tinggalnya ke rumah  tempat kami mondok. Beliau datang ke rumah, untuk membangunkan kami dan beruduk. Setelah itu terus ke masjid. Bagi saya, dibangunkan pagi hari sebelum subuh adalah sesuatu yang bermakna. Meskipun kadang-kadang bangun pagi itu sangat berat karena terlambat tidur, tetapi saya selalu berjuang untuk dapat salat Subuh di masjid. Akhirnya, hal ini menjadi kebiasaan saya sampai kini. Itulah sebabnya, yang dilakukan Mak Asam itu menjadi infrastruktur kepribadian saya.

Ada sesuatu yang saya rasakan dari perlakuan keluarga Mak Asam kepada saya. Saya merasa diperhatikan dari pemondok yang lain. Saya merasa diistimewakan. Misalnya dalam sewa rumah. Tiap akhir bulan atau awal bulan berikutnya, kami menyerahkan uang sewa kepada Mak Nia, istri Mak Asam. Uang sewa rumah saya sering tidak diambil. Ketika saya menyerahkan, Mak Nia selalu berkata, jadikan saja untuk belanja, tidak usah dibayarkan. Ini perlakuan khusus kepada saya.

Hal lain yang saya rasakan ialah, hampir tiap akhir pekan saya menerima pemberian sambal atau gulai dari Mak Nia. Teman-teman lain yang sama-sama mondok, biasa pulang ke kampung pada Sabtu sore dan kembali Minggu sore atau Senin pagi. Sementara, saya jarang sekali pulang ke kampung. Nah, pada saat teman-teman itu tidak ada di rumah, Mak Nia selalu membawakan gulai atau sambal untuk saya. Oleh karena itu, saya merasakan sebagai penyewa yang diiisitimewakan oleh pemilik rumah.

Perlakuan-perlakuan seperti itu, membuat saya merasa mendapat orang tua angkat. Mak Asam dan Mak Nia terasa sebagai orang tua saya. Lagi pula saya memang berteman dengan anaknya yang seusia dengan saya. Kami sama-sama belajar di SMA 2 Payakumbuh di Limbanang. Syamsurizal atau Ican, begitu kami memanggil anak Mak Asam ini. Kami memang bersahabat. Bahkan sampai kini, sampai catatan ini dibuat, kami masih tetap berkomunikasi.

Banyak peristiwa selanjutnya yang saya alami terkait keluarga Mak Asam. Misalnya, ketika sahabat saya Ican atau Syamsurizal ini menikah, saya sengaja dijeput oleh adiknya ke Ampek Angkek, Agam tempat saya bertugas. Saya diminta hadir dalam acara pernikahan Ican mulai sejak awal sampai akhir. Bahkan mengantarkan mempelai laki-laki ke rumah perempuan, sayalah yang ditugaskan. Sayalah yang dipercaya mengemban tugas itu oleh keluarga besar Mak Asam.

Ketika adik perempuan Ican menikah pun saya dilibatkan dalam pembicaraan awal sampai kendurinya selesai. Artinya, saya dianggap bagian dari keluarga itu. Hal itu saya rasakan karena diminta pendapat dan persetujuan saya tentang jodoh atau calon suami adik perempaun ini. Hubungan yang seperti inilah di Minangkabau dengan ikatan budi. Ada tali budi yang mengikat saya dengan keluarga Mak Asam.

Ikatan budi antara seseorang dengan orang lain, antara seeorang dengan keluarga lain, dan antara keluarga dengan seseorang dapat terjadi karena hubungan baik. Hubungan baik itu secara otomatis mengikat hubungan silaturrahim atau persaudaraan. Ini tidak terjadi secara serta merta, tetapi melalui proses yang panjang. Saling menghormati, menghargai, asah, asih, dan asuh atau ikatan-ikatan taktampak yang sangat erat. Itulah ikatan budi menurt budaya Minangkabau.

Pantun nasihat yang sering dilantunkan kepada anak yang ingin merantau di anataranya adalah

Jika anak pergi ke lepau

Iyu beli, belanak beli

Ikan panjang beli dahulu

Jika anak pergi merantau

Ibu cari saudara cari

Induk semang cari dahulu

Di dalam cerita-cerita kaba di Minagkabau nasihat-nasihat seperti itu sering disampaikan kepada anak yang merantau. Meskipun ibu dan bapak saya tidak menasihatkan dalam bentuk pantun seperti itu, tetapi saya merasakan nuansanya ketika akan bersekolah di Limbanang. Ibu dan bapak memang manasihatkan agar berbaik-baik dengan orang. Bila kita berbaik-baik dengan orang, orang akan berbuat lebih baik kepada kita. Mungkin dari sekian banyak yang tinggal di rumah mak Asam, saya satu-satunya yang terikat tali budi dengan keluarga itu.

Itulah sekelumit kenangan tinggal di rumah Mak Asam dan Mak Nia, keluarga Islmi dari Nagari Limbanang, Suliki, 50 Kota. Kini kedua orang yang mulia itu telah tiada, semoga amal salehnya menjadi teman abadi baginya di alam berzah sana. (Cuplikan dari Otobiografi Zulkarnaini Diran)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *