Oleh Zulkarnaini Diran

Rasulullah SAW bersabda, “Amal perbuatan (seseorang) tidak akan memasukkannya ke dalam surga.” Mereka (para sahabat) bertanya, “Apakah engkau juga begitu Raulullah?” Rasul menjawab, “Juga saya begitu, kecuali kalau Allah memberikan kepada saya Rahmat dan Karunia-Nya.” (HR al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah). Hamba beribadah kepada-Nya bukanlah untuk mendapatkan pahala dan surga. Hamba mengoptimalkan ibadah hanyalah untuk meraih Rahmat dan Karunia Allah SWT. Hadis ini telah meluruskan dan mempertegas niat seorang hamba dalam beribadah. “Janganlah menjadi hamba pahala atau hamba surga!” kata orang bijak.
Pahala dan surga yang digaungkan bukanlah tujuan beribadah. Kedua hal itu hanya merupakan motivasi atau dorongan agar setiap hamba beribadah sungguh-sungguh dan mengikuti petunjuk Al-Quran dan Sunah. Meluruskan tujuan beribadah merupakan awal dari ibadah yang sempurna, ibadah yang paripurna, dan ibadah yang berterima di sisi Allah SWT. Tentu saja penegasan Rasululllah SAW di dalam hadis ini perlu penguraian lebih lanjut dan lebih dalam. Dengan demikian, hamba akan dapat mengikutinya dengan penuh pemahaman.
Hadis yang dirawihkan Al-Bukhari dan Muslim sangat fundamental dalam akidah Islam. Hadis ini mendobrak logika “barter” yang sering kali tertanam dalam benak sebagian besar Muslim. Ada pandangan bahwa surga adalah harga mati yang bisa dibeli dengan lembaran amal saleh. Rasulullah SAW dengan tegas menyatakan bahwa bahkan amal beliau sekalipun tidak cukup untuk menebus tiket masuk surga. Perolehan surga murni karena rahmat dan karunia Allah SWT.
Secara teologis, rahmat adalah kasih sayang Allah yang tak terbatas, yang mendahului murka-Nya. Jika kita menghitung secara matematis, seluruh amal ibadah manusia selama hidup di dunia tidak akan pernah sebanding dengan nikmat bernapas atau berkedip yang Allah berikan cuma-cuma. Oleh karena itu, para ulama teologi (mutakallimin) sepakat bahwa menyandarkan keselamatan pada amal adalah bentuk kesombongan spiritual, karena amallah yang butuh diterima oleh Allah, bukan Allah yang butuh pada amal kita.
Janganlah menjadi hamba pahala atau hamba surga!” Ungkapan ini mengkritik orientasi ibadah yang bersifat transaksional. Ketika seorang hamba beribadah hanya demi menumpuk pahala atau menghindari neraka, dia terjebak dalam mentalitas pekerja yang hanya mengejar upah. Padahal, maqam (tingkatan) tertinggi seorang hamba adalah beribadah karena cinta (mahabbah) dan ketundukan mutlak kepada Sang Pencipta.
Meskipun surga bukan tujuan akhir, keberadaannya dalam al-Qur’an dan Sunah tidak boleh diabaikan. Pahala dan surga berfungsi sebagai stimulan atau motivasi. Allah SWT memahami psikologi manusia yang membutuhkan target konkret. Oleh karena itu, dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran [3]:133). Ayat ini menunjukkan bahwa surga adalah pemantik semangat bagi jiwa yang masih merangkak dalam keimanan.
Dalam kitab Masterpiece-nya, Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali membagi tingkatan orang beribadah menjadi tiga. Pertama, ibadahnya kaum pedagang (mencari untung/surga). Kedua, ibadahnya budak (takut siksa/neraka). Ketiga, ibadahnya orang merdeka, yaitu mereka yang beribadah karena Allah layak disembah dan demi meraih keridaan-Nya. Hal ini mengajak kita untuk naik kelas dari mentalitas pedagang menuju mentalitas orang merdeka.
Senada dengan hadis tersebut, tokoh sufi legendaris Rabi’ah al-Adawiyah pernah berdoa dengan sangat masyhur: “Ya Allah, jika aku menyembah-Mu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharap surga, haramkanlah aku darinya. Namun jika aku menyembah-Mu karena Dikau sendiri, maka janganlah Engkau nafikan aku dari melihat Keindahan-Mu yang Abadi.” Argumen ini memperkuat bahwa puncak kebahagiaan tertinggi bukanlah fasilitas surga, melainkan keridaan Allah (Ridhwanullah) dan kesempatan menatap “wajah” Allah.
Meluruskan tujuan beribadah semata-mata demi rahmat Allah adalah prasyarat utama lahirnya keikhlasan yang murni. Ketika niat telah bergeser dari makhluk (termasuk pamrih surga) menuju Khaliq, maka ibadah tersebut akan bertransformasi menjadi ibadah yang paripurna (kaffah). Ibadah yang dilakukan tanpa beban, penuh kekhusyukan, dan melahirkan kedamaian batin karena tidak lagi dicemari oleh kecemasan “apakah tabungan pahala saya sudah cukup?”.
Salah satu bahaya terbesar dari mentalitas “hamba pahala” adalah munculnya penyakit ujub (bangga diri) dan takabur (sombong). Orang yang merasa amalnya banyak cenderung memandang rendah orang lain yang bermaksiat, seolah-olah ia sudah memegang kunci surga. Sebaliknya, pemahaman bahwa surga adalah hak prerogatif rahmat Allah akan melahirkan sikap tawadu’ (rendah hati). Ia akan selalu merasa butuh pada ampunan Allah, sejalan dengan istigfar yang selalu diucapkan Rasulullah setelah salat.
Untuk mencapai pemahaman yang mendalam seperti yang diharapkan, seorang Muslim harus menyeimbangkan antara iman, ilmu, dan amal. Ilmu syariat memberi tahu kita bagaimana cara beribadah yang benar sesuai Sunah, sedangkan ilmu hakikat (tasawuf) menata mengapa kita beribadah. Tanpa penguraian dan pemahaman yang dalam, teks-teks agama hanya akan dipahami secara tekstual-legalistik, kehilangan ruh spiritualnya.
Jadi, goresan ini bukan melarang kita mengharapkan surga, melainkan mendudukkan posisi surga dan amal secara proporsional dalam akidah Islam. Amal saleh yang kita lakukan adalah sebab atau perantara untuk menjemput rahmat Allah, sedangkan rahmat Allah itulah yang menjadi penentu mutlak masuknya seseorang ke dalam surga. Hubungan ini merupakan satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan, namun harus dipahami hierarkinya agar niat tetap suci.
Meluruskan niat dari “hamba surga” menjadi “hamba Allah” (‘Abdullah) yang memburu rahmat-Nya akan mengubah seluruh orientasi hidup. Ibadah tidak lagi menjadi ritual mekanis demi mengejar angka pahala, melainkan kebutuhan spiritual untuk selalu terhubung dengan Allah, Sang Kekasih. Dengan pemahaman ini, setiap Muslim diharapkan dapat menjalankan ibadah dengan tulus dan ikhlas semata-mata hanya karena Allah SWT. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Baiturrahim, Padang, 8 Muharram 1448 H, 23 Juni 2026
Disarikan dari berbagai sumber bacaan.