Oleh Zulkarnaini Diran

Hal yang paling ditakutkan pada usia tua adalah kespian dan ketidak-berdayaan. Ketakutan itu beralasan. Ketika tua kita perlu teman berbicara, teman berbagi, dan teman bercengkrama. Ketika tua pula, kita ingin tetap berdaya. Dengan itu kita mampu mengurus diri sendiri tanpa membebani siapapun. Begitu pula halnya dalam bidang ekonomi, tidak meminta-minta, kepada orang terdekat sekali pun. Janganlah aku berhadapan dengan sepi pada hari tuaku dan jangan pula hidup dalam ketergantungan dengan orang lain. Itulah doa, harapan, impian, dan cita-cita hampir semua orang yang dipanjangkan umurnya oleh Allah SWT.
Sepi pada hari tua pastilah datang. Atau mungkin lebih rendah kadarnya dari itu, yakni lengang. Rumah yang dulu ramai oleh cenkrama, teriak, dan tawa anak-anak, kini lengang. Mereka telah pula menjalani kehidupan masing-masing dan di rumah masing-masing. Ketidakberdayaan pun datang menyerang. Dulu mampu mengurus diri sendiri, kini energi habis, tenaga berkurang, penyakit tua pun merambah ke seluruh tubuh. Tubuh digerogoti oleh ketidakberdayaan. Itulah dilema yang sulit dihindari.
Pasangan (suami atau istri) adalah orang yang dapat menjadi permai dalam sepi. Kepadanya keluahan disampaikan, kepadanya pula cerita kebahagiaan dibagikan. Dia akan menjadi pendengar yang baik yang dapat mengobati rasa sepi. Ketidakberdayaan juga dapat ditupang oleh pasangan. Hal yang tidak mungkin dikerjakan sendiri, dapat dikerjakan dengan sisa tenaga bersama pasangan. Jangan harap siapapun yang menjadi sahabat dalam sepi, mensupor saat tidak berdaya, kecuali berharaplah dari pasangan. Sahabat, orang dekat, orang paling mengerti kita pada saat meniti hari tua, adalah pasangan.
Menikmati masa tua dengan tenang, bermakna, dan penuh kedamaian adalah impian setiap insan. Namun, bayang-bayang kesepian dan ketidakberdayaan sering kali menjadi ketakutan terbesar ketika melangkah memasuki usia senja. Ketakutan ini wajar, sebab seiring bertambahnya usia, secara fisik manusia mengalami penurunan fungsi tubuh, dan secara sosial, lingkaran pertemanan serta keberadaan anak-anak mulai berkurang karena fokus pada kehidupan mereka masing-masing.
Kesepian di usia tua bukan sekadar rasa sepi biasa, melainkan kondisi emosional yang mendalam ketika seseorang merasa kehilangan figur pendengar dan teman berbagi. Rumah yang dahulu bising oleh gelak tawa dan teriakan anak-anak, kini bertransformasi menjadi hunian yang hening dan lengang. Kondisi ini makin diperberat ketika daya tahan tubuh melemah, energi menyusut, dan penyakit degeneratif mulai berdatangan. Di sinilah dilema terbesar usia tua muncul yaitu keinginan untuk tetap mandiri berbenturan dengan keterbatasan fisik yang tak terelakkan.
Meskipun demikian, kesepian dan ketidakberdayaan tersebut bukanlah fenomena yang tanpa penawar. Penawar terbaik yang dihadiahkan oleh Sang Maha Pencipta untuk mengarungi masa-masa sulit ini adalah pasangan hidup (suami atau istri). Dalam perspektif Islam, pernikahan ditujukan untuk membangun kesadaran sakinah (ketenangan), mawaddah (cinta kasih), dan rahmah (kasih sayang). Sebagaimana firman Allah SWT, “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang…” (QS. Ar-Rum [30]: 21).
Potongan ayat tersebut menegaskan bahwa fungsi utama pasangan adalah menjadi tempat pulang yang menenteramkan. Di saat dunia luar perlahan menjauh, pasangan hidup tetap setia hadir di sisi. Kehadiran pasangan menjadi pengobat kesepian yang paling mujarab, tempat mencurahkan segala keluh kesah, serta pendengar setia yang tulus tanpa menghakimi. Rasa sepi dan lengang yang mengintai di hari tua dapat dihalau dengan obrolan-obrolan sederhana namun hangat bersama pasangan.
Selain memberikan rasa tenteram secara psikologis, pasangan hidup juga menjadi pilar penopang di saat ketidakberdayaan fisik melanda. Saling melengkapi kelemahan fisik dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki bersama adalah manifestasi dari kasih sayang sejati. Rasulullah SAW menggambarkan ikatan emosional dan saling menopang antar sesama muslim, penerapan paling utamanya adalah dalam rumah tangga—seperti satu tubuh yang utuh, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut merasa sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Muslim).
Dari sudut pandang keilmuan modern, pakar psikologi hubungan seperti Dr. John Gottman menekankan pentingnya emotional tutelage atau pendampingan emosional sepanjang hayat. Penelitian dalam bidang psikologi perkembangan dan gerontologi menunjukkan bahwa lansia yang hidup bersama pasangannya cenderung memiliki tingkat depresi yang lebih rendah, kesehatan mental yang lebih stabil, serta angka harapan hidup yang lebih tinggi dibandingkan dengan lansia yang tinggal sendiri atau terisolasi secara emosional. Kehadiran pasangan terbukti secara ilmiah mampu menurunkan hormon stres (kortisol) dan meningkatkan produksi hormon oksitosin yang menghadirkan rasa aman.
Tokoh psikologi perkembangan terkemuka, Erik Erikson, menyatakan bahwa tahap akhir perkembangan manusia adalah fase integrity vs. despair (integritas vs. keputusasaan). Lansia yang mampu melewati fase ini dengan baik adalah mereka yang menemukan makna hidup dan merasa dicintai. Pendampingan pasangan di hari tua mencegah lansia jatuh ke dalam keputusasaan (despair) akibat kehilangan fungsi sosial dan fisik. Pasangan menjadi saksi sejarah perjalanan hidup yang saling menguatkan bahwa hidup yang telah dijalani adalah hidup yang berharga.
Harapan untuk tidak meminta-minta atau menjadi beban bagi orang lain di hari tua—bahkan kepada anak sendiri—merupakan prinsip kemandirian dan martabat diri yang sangat mulia. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan doa agar terhindar dari ketidakberdayaan dan kepikunan di usia tua, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sifat kikir, penakut, ketidakberdayaan di masa tua (kepikunan), dan fitnah dunia…” (HR. Bukhari). Upaya menjaga kemandirian ini akan terasa jauh lebih ringan bila dipikul bersama pasangan secara bergotong-royong.
Oleh karena itu, merawat hubungan dengan pasangan sejak usia muda adalah investasi terbesar untuk masa depan. Sahabat sejati yang akan paling mengerti, paling bersabar, dan paling setia mendampingi di saat kondisi fisik mulai mengering dan kerutan menghiasi wajah tidak lain adalah pasangan hidup kita sendiri. Teman seperjuangan inilah yang dipersiapkan oleh Allah SWT untuk saling menggandeng tangan, melengkapi kekurangan, dan membagi beban saat meniti tangga-tangga akhir kehidupan.
Jadi, meniti hari tua adalah kepastian yang akan dihadapi oleh setiap manusia yang dikaruniai umur panjang. Bayang-bayang kesepian dan ketidakberdayaan memang nyata, namun hal tersebut dapat diringankan dan diatasi apabila seseorang tetap mendampingi serta didampingi oleh pasangan hidupnya. Melalui ikatan pernikahan yang dilandasi nilai-nilai spiritual, dukungan psikologis, serta gotong-royong fisik, masa tua tidak lagi menjadi fase yang menakutkan, melainkan sebuah babak kehidupan yang dipenuhi kedamaian, kehangatan, dan rasa syukur bersama pendamping sejati.
Manna, Bengkulu Selatan, 10 Agustus 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman menapaki hari tua Bersama istri.