MENYIKAPI FITNAH AKHIR ZAMAN

Oleh Zulkarnaini Diran

Rasulullah SAW bersabda: “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Pendusta dibenarkan, orang jujur didustakan, pengkhianat diberi amanah, dan orang amanah dikhianati. Serta berbicara di dalamnya Ruwaibidhah.” Para sahabat bertanya, “Apakah Ruwaibidhah itu?” Beliau menjawab: “Orang bodoh yang mengurusi urusan masyarakat umum.” (HR. Ibnu Majah no. 4036, sahih)

Pertanyaan retorik yang sering diajukan oleh pikiran kita adalah, “Apakah ini sudah akhir zaman?” Fenomenanya muncul dalam rentetan panjang. Tiap hari dapat dilihat dan diamati sugguh-sungguh, informasi yang disampaikan oleh hadis di atas nyaris terlihat dan teraktualisasi. Artinya, hal itu sudah muncul di hadapan kita, di dunia kita, di sekitar kita. Nyata, dan sungguh nyata.

Saat ini dapat disaksikan dengan jelas hal yang termakub di dalam hadis di atas. Tipu daya terlihat nyata, pendusta ada memang yang dibenarkan, orang jujur juga terlihat didustakan, banyak pengkhianat yang diberi amanah, dan orang yang amanah dikhianati. Begitu pula banyak terlihat orang bodoh yang mengurusi masyarakat. Fenomena ini memang sudah muncul dengan kentara. Kabar itu telah disampaikan  Rasululluah  empat belas abad yang silam.

Pada saat fenomena itu mengapung dan terlihat nyata dalam keseharian, seorang mukmin tentu perlu mengambil sikap. Sikap pertama menetapkan cara hamba merespon fenomena itu. Cara itu adalah teknis, tindakan, dan perlakuan. Tindakan apa yang harus dilakukan jika fenomena itu muncul amat dekat dan terkait dengan hamba. Respon kedua adalah menimbang atau menganalisis cara yang digunakan untuk meresponnya. Ada dua dimensi analisis yang dapat dilakukan, yakni analisis berdasarkan kajian spiritual dan analisis berlandaskan sosial. Respon ketiga adalah melaksanakan cara yang telah dianalisis melalui kajian itu sesuai dengan keberadaan dan kedudukan hamba.

Fenomena saat ini membuka mata kita pada sebuah kenyataan pahit yang kini hadir di hadapan mata. Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah mengenai datangnya tahun-tahun penuh tipu daya (saniyat khodda’ah) bukan lagi sekadar prediksi tekstual, melainkan sebuah realitas empiris yang saban hari kita saksikan melalui media massa maupun interaksi sosial sehari-hari.

Sifat utama dari fitnah akhir zaman adalah pengaburan batas antara kebenaran dan kebathilan. Ketika kebohongan dikemas dengan narasi yang indah dan didukung oleh media yang masif, masyarakat cenderung membenarkannya. Sebaliknya, kejujuran yang disampaikan tanpa kemasan yang menarik sering kali ditolak dan dianggap sebagai ancaman. Bahkan keujuran seperti itu dianggap kebohongan.

Fenomena hadirnya Ruwaibidhah—yakni orang bodoh atau tidak kompeten yang mengurusi urusan publik—menjadi indikator paling menonjol dari disrupsi tatanan sosial ini. Jabatan dan keputusan penting yang memengaruhi hajat hidup orang banyak tidak lagi diserahkan kepada ahlinya, melainkan kepada mereka yang hanya mengejar popularitas dan kepentingan pribadi atau golongan semata.

Langkah awal bagi seorang mukmin dalam merespons fenomena ini adalah mengambil tindakan teknis yang pragmatis dan preventif. Tindakan nyata yang paling utama adalah menjaga lidah dan jemari dari menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya. Dalam era digital, penyebaran hoaks dan fitnah menjadi sangat cepat dan masif, sehingga menuntut kehati-hatian yang ekstra tinggi.

Prinsip dasar dalam berinteraksi dengan informasi di zaman fitnah adalah menerapkan tabayyun (verifikasi). Allah SWT secara tegas mengingatkan dalam Al-Qur’an, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena bodoh (kurang tahu), yang menyebabkan kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Selain tabayyun, tindakan teknis yang harus dilakukan adalah uzlah secara maknawi, yaitu menarik diri dari kerumunan atau perdebatan yang tidak membawa manfaat. Rasulullah SAW menasihatkan agar umatnya menjaga lisan, menetap di rumah ketika fitnah merajalela, serta menangisi dosa-dosa pribadi daripada sibuk mengurusi aib orang lain. Artinya, hamba harus menajuh dari kondisi dan situasi itu.

Secara spiritual, seorang hamba harus memahami bahwa maraknya fitnah merupakan ujian keimanan untuk menyaring mana hamba yang benar-benar beriman dan mana yang munafik. Fitnah tidak akan membahayakan orang-orang yang memiliki benteng tauhid yang kokoh serta senantiasa memperbarui niat ikhlasnya hanya karena Allah SWT. Imam Al-Ghazali dalam karya agungnya Ihya ‘Ulumuddin menekankan pentingnya menjaga kesucian hati (tazkiyatun nafs) dalam menghadapi kekacauan zaman. Ketika dunia luar dipenuhi dengan tipu daya dan kebohongan, hati yang bersih akan bertindak sebagai furqan—yaitu pembeda intuitif yang diberikan Allah untuk mengenali mana yang haq dan mana yang bathil.

Perspektif spiritual ini juga mengajarkan agar seorang mukmin memperbanyak doa memohon perlindungan dari fitnah. Rasulullah SAW senantiasa mengajarkan doa perlindungan dari empat hal di akhir tasyahud, yang salah satunya adalah perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian, serta fitnah Al-Masih Ad-Dajjal.

Dari sudut pandang analisis sosial, fenomena Ruwaibidhah dan pemutarbalikan nilai. Hal ini  menandakan kelangkaan krisis kepemimpinan dan hilangnya integritas moral masyarakat. Ketika norma-norma kejujuran tergeser oleh pragmatisme dan oportunisme, tatanan hukum dan keadilan sosial secara otomatis akan runtuh.

Fenomena penyerahan urusan kepada yang bukan ahlinya ini telah diperingatkan oleh Rasulullah SAW melalui sabdanya, “Apabila amanah telah disia-siakan, maka tunggulah datangnya hari kiamat.”  (HR Bukhari). Ketika sahabat bertanya bagaimana cara menyia-nyiakannya, Beliau menjawab: “Apabila suatu urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah (kehancurannya) hari kiamat.” (HR Bukhari)

Para teolog dan sosiolog Islam mencermati bahwa keberadaan Ruwaibidhah dalam panggung politik dan sosial menciptakan kemudaratan sistemik. Masyarakat yang tidak kritis akan dengan mudah tergiring oleh opini-opini destruktif yang dibangun oleh pemimpin yang tidak kompeten, sehingga melahirkan lingkaran setan ketidakadilan yang berlanjut. Sementara mereka yang kritis akan dianggap musuh atau penghalang.

Setelah melalui analisis spiritual dan sosial, langkah puncak yang harus diambil oleh setiap individu adalah menjalankan perannya secara optimal sesuai posisi masing-masing dalam masyarakat. Seorang ulama, intelektual, rakyat biasa, maupun pejabat publik memiliki porsi tanggung jawab yang berbeda dalam membendung arus fitnah ini.

Bagi mereka yang berada di posisi pemimpin atau pemegang kebijakan, tanggung jawab terbesarnya adalah menegakkan keadilan. Ia harus mengembalikan amanah kepada orang yang berhak dan kompeten. Mereka tidak boleh membiarkan Ruwaibidhah menguasai ruang publik hanya demi kepentingan politik jangka pendek. Atau mengutamakan kepentingan individu, kelompok, dan golongannya sendiri.

Bagi rakyat biasa teutama generasi muda, perannya adalah terus menuntut ilmu yang bermanfaat dan memperkuat literasi moral serta digital. Dengan menjadi masyarakat yang cerdas dan bertakwa, mereka tidak akan mudah dijebak oleh tipu daya para pendusta maupun propaganda orang-orang bodoh yang memegang panggung.

Menghadapi kenyataan akhir zaman tidak boleh membuat seorang mukmin bersikap apatis, pesimistis, atau menyerah pada keadaan. Sebaliknya, kesadaran akan hadirnya fitnah harus menjadi pemicu untuk meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki akhlak, serta memperkuat solidaritas sesama umat Islam.

Jadi, untuk menghadapi fitnah akhir zaman, hamba perlu memiliki sikap dan Tindakan yang konkret. Aktifitasnya adalah memadukan tindakan praktis yang berhati-hati, pemahaman spiritual yang mendalam, dan analisis sosial yang kritis. Kemudian memberikan kontribusi aktif sesuai peran masing-masing. Dengan demikian seorang hamba mukmin akan mampu melewati gelombang fitnah akhir zaman dengan selamat dan meraih Ridha Allah SWT. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Manna, Bengkulu Selatan, 22 Agustus 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan hasil simakan terhadap informasi yang terpublikasi di berbagai media.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *