Oleh Zulkarnaini Diran

Pertemuan kami pertama tahun 2023. Saat itu saya bersepada sendirian dari Pantai Pasar Bawah, Kota Manna, Bengkulu Selatan. Saat mendayung sepeda di pendakian dari pantai, ada dua orang di depan saya juga bersepeda. Saya menduga, keduanya adalah pasangan suami istri. Kebiasaan saya mendayung sepeda (mangayuah, istilah yang saya pakai), kalau mendaki sedikit kencang. Gunanya supaya kayuhan tidak terasa berat. Otomatis di pendakian yang tidak terlalu terjal itu saya mendahului kedua orang ini sambil mungucapkan assalamualaikum.
Salam saya mereka jawab serentak. Kami hanya saling memandang, belum sempat saling menyapa selain ucapan salam. Usai pendakian, kami berbarengan bersepeda. Saat itulah kami saling berkenalan. Nama beliau Yulizar. Di Kawasan itu dia dipanggil dengan Dang Yul. Beliau saat itu sedang mengambil Masa Persiapan Pensiun (MPP) dari tugasnya sebagai karyawan Bank Bengukulu. Sementara istrinya masih berugas di Kantor Cabang Dinas Pendidikan Bengukulu di Kota Manna. Perkenalah sesaat itu membuat kami akrab. Tali silaturrahim pun tersambung bagaikan sahabat lama.
Hari kedua sejak perkenalan itu kami bersepeda bersama. Oleh karena hari kerja bagi ASN sudah masuk, istri Pak Yul tidak ikut. Kami berdualah hari itu mangayuah di kota Manna, kota kecil di pinggir pantai yang menjadi ibukota Kabupaten Bengkulu Selatan itu. Kebersamaan hari itu benar-benar menyenangkan bagi saya. Pasalnya, sudah hampir satu bulan saya di kota ini, belum saya temukan warung yang menyajikan minuman khas dan makanan khas yang saya sukai. Belum saya jumpai tempat meneguk teh telur dan menyantap lontong/ katupek gulai tunjang. Baru hari itulah Pak Yul mengajak saya ke sebuah warung di Jalan Sudirman kota itu. Itulah warung Asean Pop milik orang Minangkabau asal Pariaman.
Sejak hari itu kami selalu bersama-sama. Kadang-kadang kami bersepeda satu hari 60 dan 70 km. Berbagai tempat kami kunjungi. Paling jauh adalah perbatasan Bengkulu Selatan dan Kabupaten Kaur yang terletak paling Selatan di Provinsi Bengkulu. Yang tidak kalah jauhnya juga adalah perbatasan Bengkulu Selatan dengan Kabupaten Seluma. Pak Yul berujar, “Saya tidak bisa bersepeda jauh-jauh kalau sendiri, kalau tidak ada Pak Zul”, katanya sambil berbicang dalam perjalanan. Selain itu Pak Yul juga mengajak saya menikmati masakan khas Bengkulu, khususnya Bengkulu Selatan. Begitulah kebersamaan saya dengan Pak Yul yang kemudian sudah merasa seperti suadara.
Tahun 2025 lalu saya meninggalkan Kota Manna dan Kota Bengkulu. Saya pulang ke Padang. Tugas saya di kota Bengkulu tuntas, anak, menantu, dan cucu juga telah mengizinkan untuk Kembali ke Padang. Setahun kemudian, tahu 2026 saya kembali ke Manna. Bulan yang lalu, Juli sampai di kota kecil ini. Ternyata Pak Yul berada di Kota Bengkulu. Barulah Rabu yang lalu kami dapat bersepeda. Kemudian dilanjutkan Sabtu, 29 Agustus 2025. Makanan khas kesukaan kami berdua menjadi santapan kami pada hari-hari itu, yaitu “Sate Padang Mansar”. Di situ kami menikmati makanan kesukaan bersama. Itu terjadi “Setelah Satu Tahun” kami tidak pernah berjumpa. Mudah-mudahan persahabatan ini terus berlanjut.
Manna, Bengkulu Selatan, 29 Agustus 2026

