JANGAN TAKUT KEHILANGAN

Oleh Zulkarnaini Diran

Rasa “takut” adalah manusiawi. Itu sifat manusia, milik semua orang. Memang bekal rasa takut itu merupakan naluri manusia, naluri bawaan. Termasuk di dalamnya “takut kehilangan”. Sesuatu yang “merasa” milik kita, kemudian kita ingin menguasainya secara absolut. Kita berupaya memeliharanya agar jangan hilang. “Rasa memiliki” yang terlalu besar itulah pada hakikatnya yang membuat seorang hamba takut kehilangan.

Sayyidina Ali berkata, “Jangan terlalu takut kehilangan sesuatu yang memang bukan milikmu. Apa yang Allah takkdirkan untukmu, tidak akan pernah tertukar dengan milik orang lain. Terkadang kita menangis  karena sesuatu pergi, pada hal kepergiannya adalah cara Allah menyelamatkan kita.” Nasihat ini sangat luas dan dalam maknanya. Bahkan menghunjam ke lubuk hati kita yang paling dalam. Bahkan akan sangat berpengaruh kepada diri hamba, jika direnungkan secara mendalam pula.

Dari perspketif akidah Islam, yang ada pada kita adalah titipan, amanah dari Allah SWT. Tidak satupun yang mutlak atau absolut menjadi milik kita. Jika ia ada di tangan dan di hati kita, itu karena Allah mempercayai kita untuk menjadi pemegang amanahnya. Harta, jabatan, kekuasaan, dan sejenisnya hanyalah titipan sementara. Tentu saja Allah menitipkannya kepada yang Dia percaya. Di balik kepercayaan itu tentu ada pesan. “Gunakanlah ini sesuai dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh yang menitipkan.” Akan bersiko dunia dan akhirat jika titipan itu tidak dimanfaatkan sesuai kaidah Yang Mengamanahkan.

Selanjunta, Sayyidina Ali berkata, “Tenangkan hati, perbaiki diri, dan percayalah kepada ketetapan-Nya. Sebab hati yang berserah kepada Allah akan menemukan ketenangan, bahkan setelah kehilangan.” Ketika hamba kehilangan yang dicintai, disayangi, dibanggakan, didambakan, dan sejenisnya, tentu hamba harus kembali kepada ketetapan-Nya. Jangan bantah, jangan jengkel, apalagi berprasangka buruk kepada-Nya. Harta, keluarga, pangkat, jabatan, kekuasaan bukan milik kita. Itu semua titipan kepada kita karena “Yang Menitip” mempercayai kita.

Perasaan takut merupakan naluri alamiah yang melekat pada setiap diri manusia. Allah SWT menciptakan rasa takut sebagai mekanisme pertahanan diri serta sarana untuk menguji sejauh mana kadar keimanan seorang hamba. Di antara sekian banyak bentuk ketakutan, rasa “takut kehilangan” sering kali menjadi beban terberat dalam jiwa. Keinginan mendasar untuk memiliki secara mutlak dan menguasai sesuatu secara abadi menyelimuti pikiran manusia, sehingga ketika apa yang dicintai itu goyah atau pergi, timbullah penderitaan batin yang mendalam. Hakikat penderitaan tersebut sebetulnya timbul bukan karena peristiwanya semata, melainkan dari rasa kepemilikan (rasa memiliki) yang terlalu kuat dan melampaui batas kewajaran.

Secara fundamental dalam akidah Islam, tidak ada satu pun objek di dunia ini—baik harta benda, jabatan, popularitas, bahkan anggota keluarga dan jiwa kita sendiri—yang berstatus sebagai milik mutlak manusia. Segala sesuatu yang ada di genggaman kita pada hakikatnya adalah amanah dan titipan sementara dari Sang Pencipta, Allah SWT. Menerima kenyataan bahwa kita hanyalah seorang pemegang amanah (mustaud’a) akan mengubah perspektif kita dalam memandang kehidupan. Ketika Sang Pemilik Sejati mengambil kembali apa yang dititipkan-Nya, seorang hamba yang sadar akan statusnya tidak akan merasa dirampas, melainkan bersyukur atas kesempatan yang pernah diberikan untuk menjaga titipan tersebut.

Kedalaman makna ini selaras dengan firman Allah SWT dalam Al-Qur’an yang mengajarkan prinsip dasar menyikapi takdir dan kehilangan, “(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid [57]: 23).

Ayat ini menegaskan kestabilan jiwa yang ingin dibentuk oleh Islam: tidak runtuh saat kehilangan dan tidak lupa diri saat mendapatkan. Kehilangan hanyalah proses perputaran takdir yang telah digariskan-Nya dengan penuh hikmah.

Nasihat bijak dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA yang dikutip menguraikan hakikat rezeki dan takdir secara sangat indah. Beliau mengingatkan bahwa apa yang telah ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah tertukar atau diambil oleh orang lain. Sering kali air mata yang menetes akibat hilangnya sesuatu. Padahal sebenarnya hal itu merupakan tabir perlindungan dari Allah SWT untuk menyelamatkan kita dari keburukan yang lebih besar di masa depan. Kita kerap melihat sesuatu hanya dari sudut pandang keterbatasan penglihatan manusia, padahal Allah melihatnya dari kesempurnaan ilmu-Nya. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik di mata Allah, dan apa yang kita benci bisa jadi menyimpan kebaikan yang melimpah.

Pendapat ini sejalan dengan pandangan teolog dan ulama besar Islam, Imam Al-Ghazali, dalam karya fenomenalnya Ihya ‘Ulumuddin. Beliau menjelaskan bahwa ridha terhadap takdir dan penyerahan diri (tawakal) adalah puncak dari kedamaian jiwa. Menurut Al-Ghazali, kecemasan dan rasa takut kehilangan timbul karena keterikatan hati (ta’alluq) yang berlebihan kepada dunia (hubbud dunya). Ketika hati digantungkan pada makhluk atau benda mati yang bersifat fana, hati tersebut akan ikut goyah saat objeknya lenyap. Namun, jika hati digantungkan kepada Yang Mahakekal (Al-Baqi), maka jiwa akan tetap kokoh dan tenang meskipun gelombang perubahan dunia menerjang.

Sebagai bentuk penerapan nyata dari kesadaran akidah ini, Rasulullah SAW mengajarkan doa dan sikap mental yang luar biasa ketika musibah kehilangan menerpa. Dalam sebuah hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu ia mengucapkan: ‘Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, allahumma’-jurni fi mushibati wa akhlif li khairan minha’ (Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Ya Allah, berilah pahala dalam musibahku ini dan gantikanlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya), melainkan Allah akan memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantikannya dengan yang lebih baik.” (HR. Muslim).

Pesan Sayyidina Ali selanjutnya mengenai “menenangkan hati, memperbaiki diri, dan percaya kepada ketetapan-Nya” memberikan petunjuk teknis spiritual pasca-kehilangan. Kehilangan hendaknya dijadikan momen evaluasi diri (muhasabah), bukan sarana untuk menyalahkan takdir atau berprasangka buruk (su’udzon) kepada Allah SWT. Ketika sebuah pintu tertutup, iman mengajarkan kita untuk percaya bahwa Allah sedang bersiap membuka pintu-pintu kebaikan lain yang jauh lebih luas. Sikap berserah diri (taslim) inilah yang melahirkan ketenangan sejati (thuma’ninah), sebuah rasa damai yang tidak dapat dibeli dengan harta atau jabatan apa pun.

Teolog dan tokoh tasawuf terkemuka, Ibnu Ataillah as-Sakandari, dalam kitab Al-Hikam, memperjelas konsep ini dengan ungkapan yang sangat mendalam, “Janganlah keterlambatan terkabulnya harapan—padahal engkau telah bersungguh-sungguh berdoa—membuatmu putus asa. Sebab, Allah menjamin terkabulnya doa dalam apa yang Dia pilihkan untukmu, bukan dalam apa yang engkau pilih untuk dirimu sendiri; dan pada waktu yang Dia kehendaki, bukan pada waktu yang engkau kehendaki.” Kehilangan sering kali merupakan cara halus Allah untuk menarik kembali perhatian hamba-Nya yang mulai berpaling dan terlalu sibuk menikmati titipan hingga melupakan Sang Penitip.

Bila kita merenungkan aspek tanggung jawab (muta’alliqat), setiap titipan Allah senantiasa berdampingan dengan konsekuensi dan pertanggungjawaban. Harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, dan kekuasaan yang luas membawa beban amanah yang sangat berat di akhirat kelak. Jika titipan tersebut tidak dikelola sesuai aturan Sang Pemilik, ia justru akan menjadi sumber penyesalan yang panjang. Oleh karena itu, menyadari bahwa segalanya adalah titipan akan melahirkan sikap hati-hati, rendah hati, dan kedermawanan dalam menggunakannya di jalan yang diridhai-Nya.

Jadi, rasa takut kehilangan adalah naluri manusiawi yang harus dikendalikan dengan penataan akidah yang lurus. Kehilangan bukanlah akhir dari segalanya.Hal itu merupakan bentuk pergantian takdir dan proses penyucian jiwa agar seorang hamba tidak terikat secara buta pada dunia yang fana. Meyakini bahwa segala sesuatu adalah titipan Allah, melapangkan dada atas setiap keputusan-Nya, serta berpegang teguh pada nasihat Sayyidina Ali dan ajaran Rasulullah SAW, kita akan mampu meraih kedamaian batin yang sejati. Hati yang senantiasa berserah diri kepada Allah tidak akan pernah merasa kehilangan secara hakiki, karena ia tahu bahwa Sang Pemilik Sejati tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Manna, Bengkulu Selatan, 4 September 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan dikorelasikan dengan pengalaman batin dalam menjalani liku-liku kehdiupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *