Oleh Zulkarnaini Diran

Islam sangat menekankan hubungan antarsesama di samping hubungan dengan Allah SWT. Hubungan sesama itu di antaranya antara sesama muslim. Hubungan ini adalah hubungan persaudaraan. Hubungan persaudaraan itu diikat secara sakral oleh kesamaan iman. Perasudaraan ini merupakan ikatan yang berkualitas karena diikat oleh iman dan keyakinan yang disandarkan kepadah akidah yang kental. Persaudaraan antarmuslim itu jika direnungkan secara mendalam, inilah persaudaraan “yang tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan.
Persaudaraan antarmuslim itu memiliki banyak indikator atau ukuran. Di antara indikator itu adalah tidak saling menzalimi dan tidak memecah-belah persatuan. Kedua indikator ini mutlak, pasti, dan absolut. Ukuran sesorang muslim bersaudara itu tidak saling menzolimi berarti hubungan itu diikat oleh kasih sayang. Mustahil orang yang saling mengasihi dan saling menyayangi akan menzolimi saudaranya. Hal yang sama berlaku untuk indikator kedua yakni tidak memecah-belah persatuan juga karena ikatan kasih-sayang. Orang yang berkasih sayang tidak mungkin memecah-belah saudaranya.
Muslim yang bersaudara akan membantu atau berupaya memenuhi kebutuhan saudaranya yang kekurangan. Bisa jadi kekurangan itu dalam bentuk materi dan dapat pula dalam bentuk non-materi. Saat melihat hal itu saudara yang berkecukupan mengulurkan tangan kepada saudaranya yang kekurangan. Selain itu, persaudaraan muslim juga membantu menyelamatkan dari kesengsaraan. Mungkin ada saudara yang mengalami kesengsaraan secara lahiriah dan mungkin secara batiniyah. Saudara seiman mengulurkan tangan untuk membantunya. Hal penting lain adalah persaudaraan yang berkasih sayang itu juga akan menutupi aib saudaranya. Tidak mengembar-gemborkan kesalahan atau aib saudaranya, bahkan ia berupaya menutupinya.
Rasulullah SAW bersabda, “Seorang muslim itu adalah saudara muslim lainnya, ia tidak menzaliminya dan tidak pula memecah belah persatuannya, barangsiapa memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya, dan barangsiapa mengeluarkan (menyelamatkan) seorang muslim dari kesengsaraan dunia maka Allah akan menyelamatkannya dari kesengasaraan hari kiamat, dan barang siapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” ( HR Imam Al-Bukhari (dalam Shahih Al-Bukhari no. 2442), Imam Muslim (dalam Shahih Muslim no. 2580), Imam Abu Dawud (dalam Sunan Abu Dawud no. 4893), Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad)
Seperti disabdakan oleh Rasululullah SAW, ada tiga hal yang dilakukan seorang muslim terhadap saudaranya. Ketiga hal itu adalah memenuhi kebutuhan saudaranya, menyelamatkannya dari kesengsaraan, dan menutupi aibnya. Tindakan ini merupakan realisasi dari pesaudaraan yang diikat oleh kasih sayang dalam koridor seiman. Ternyata, Tindakan itu tidak hanya berdampak kepada saudara yang ditolong dan dilindungi, tetapi juga berpengaruh kepada muslim yang mengulurkan tangan. Pengaruhnya adalah mendapat balasan dari Allah SWT pada hari akhir kelak.
Tindakan memenuhi kebutuhan saudara seiman, dibalas oleh Allah dengan memenuhi kebutuhannya pula. Ini bukan sesuatu yang mustahil. Hal ini memiliki kepastian dan kemutlakan. Tindakan menyelamatkan suadara seiman dari kesengsaraan, dibalasi oleh Allah SWT pada hari kiamat kelak. Begitu pula halnya dengan menutupi aib saudara seiman, akan ditutupi Allah SWT aibnya padahari kiamat. Intinya adalah bahwa persaudaraan muslim bukan sekedar ucapan atau ujaran, melainkan diiringi dengan tindakan nyata atau amal perbuatan. Justru, amal perbuatan itu kemudian dijanjikan Allah SWT balasan yang luar bisa pada masa di dunia atau di akhirat kelak.
Persaudaraan dalam Islam bukanlah sekadar hubungan sosial yang terjalin karena faktor geografis, keturunan, atau kepentingan duniawi semata. Lebih dari itu, ukhuwah Islamiyah merupakan ikatan sakral yang disimpul langsung oleh kesamaan akidah dan keimanan kepada Allah SWT. Hubungan ini melampaui batas-batas suku, bangsa, dan status sosial, menjadikannya sebuah entitas spiritual yang kokoh dan abadi.
Ikatan iman menempatkan persaudaraan kaum Muslimin sebagai sebuah hubungan yang tidak mudah goyah oleh dinamika zaman. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hujurat ayat 10 bahwa orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Ayat ini menegaskan bahwa persaudaraan iman adalah sebuah keniscayaan teologis yang menuntut kesadaran kolektif untuk senantiasa menjaga keharmonisan dan perdamaian di antara sesama anggota masyarakat Islam.
Indikator utama dari hidupnya nilai ukhuwah adalah komitmen kuat untuk tidak saling menzalimi dan tidak mencederai persatuan. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya; ia tidak boleh mendzaliminya, membiarkannya dalam kehinaan, ataupun memecah belah barisan. Sikap zalim dan perpecahan adalah musuh utama persaudaraan, karena keduanya lahir dari sifat egoisme dan hilangnya rasa kasih sayang di dalam hati seseorang.
Wujud nyata dari persaudaraan yang dilandasi cinta kasih adalah kepedulian terhadap sesama yang sedang berada dalam kekurangan, baik dalam bentuk materi maupun non-materi. Para ulama teologi Islam selalu menekankan bahwa keimanan seseorang belum sempurna hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Ketika seorang Muslim melihat saudaranya kesulitan, dorongan iman akan menggerakkan tangannya untuk mengulurkan bantuan meringankan beban tersebut.
Selain aspek material, ukhuwah Islamiyah juga menuntut peran aktif dalam menyelamatkan sesama dari berbagai bentuk kesengsaraan, baik kesengsaraan duniawi yang bersifat lahiriah maupun kegundahan batiniah. Ulama besar Imam Al-Ghazali dalam risalah tentang Ihya ‘Ulumuddin menjelaskan bahwa tolong-menolong dalam kebaikan adalah pilar tegaknya masyarakat Islam. Pertolongan ini bernilai ibadah yang sangat tinggi di sisi Allah SWT.
Akhlak mulia yang menjadi buah dari persaudaraan sejati adalah sikap menutupi aib saudara seiman dan tidak menyebarluaskan kesalahannya di ruang publik. Menjaga kehormatan seorang Muslim merupakan amanah moral yang besar dalam Islam. Nabi SAW menjanjikan balasan yang agung bagi siapa saja yang menutupi aib saudaranya di dunia, yakni bahwa Allah SWT akan menutupi aibnya kelak pada hari kiamat.
Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim menegaskan seluruh esensi di atas secara komprehensif. Mulai dari larangan berbuat zalim, kewajiban memenuhi hajat sesama, pertolongan di kala kesusahan, hingga anjuran menutupi keburukan orang lain. Seluruh poin tersebut merupakan cetak biru atau panduan operasional bagaimana sebuah masyarakat Muslim yang harmonis, welas asih, dan bermartabat harus dibangun.
Dalam konteks kehidupan modern saat ini, nilai-nilai persaudaraan Islam sangat dibutuhkan untuk meredam berbagai krisis sosial, individualisme, dan merenggangnya solidaritas antarmanusia. Mengaplikasikan ukhuwah Islamiyah berarti menghadirkan solusi nyata atas masalah ketimpangan sosial dan degradasi moral. Ketika umat Islam kembali pada esensi persaudaraan ini, maka kekuatan kolektif yang produktif akan terbentuk secara alami.
Persaudaraan Islam adalah anugerah agung yang mengikat jiwa-jiwa beriman dalam jalinan kasih sayang, kepedulian, dan perlindungan timbal balik. Dengan menjauhi kezaliman, senantiasa tolong-menolong dalam kebajikan, serta menjaga kehormatan sesama, umat Islam tidak hanya akan meraih keharmonisan di dunia, tetapi juga menggapai rida dan keselamatan dari Allah SWT di hari akhir kelak. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.
Padang, 07 September 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman bermasyarakat dalam menapaki kehidupan pada usia senja.