MENUNTUT ILMU ADALAH IBADAH

Oleh Zulkarnaini Diran

“… Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Mujadillah, [58]: 11)

Rasulullah, Muhammad SAW bersabda, “Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah). “Barang siapa menelusuri jalan untuk mencari ilmu padanya, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim).

Menuntut ilmu itu perlu proses. Prosesnya panjang, lama, dan kadang-kadang rumit. Para pakar mengungkapkan tahapan sistematis yang dapat dipedomani bagi penuntut ilmu. Tahapan itu di antaranya adalah: (1) Bertahap dan Konsisten: Ilmu tidak bisa diraih secara instan, melainkan dipelajari dari tingkat dasar hingga mahir secara bertahap; (2) Kesungguhan dan Kesabaran: Proses ini melibatkan pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran. Kesungguhan dan kesabaran mencari ilmu setara dengan berjihad di jalan Allah. Hal itu didukung oleh firman Allah SWT, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Ankabut [29]: 69)

Menuntut ilmu ada adabnya. Para ulama salaf selalu menekankan bahwa adab harus didahulukan sebelum mempelajari suatu ilmu (“Adabu qabla ilmi”). Berikut adalah adab utamanya. Pertama, Ikhlas karena Allah SWT. Menuntut ilmu harus diniatkan semata-mata mencari keridaan Allah, bukan untuk mencari pujian, kedudukan, atau materi duniawi semata. Rasululullah SAW bersabda, “Barang siapa menuntut ilmu yang seharusnya untuk mencari wajah Allah, tetapi ia tidak mempelajarinya melainkan untuk mendapatkan harta benda dunia, maka ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Dawud)

Kedua, Merendahkan Diri (Tawaduk) kepada Guru. Seorang penuntut ilmu harus menghormati, memuliakan, dan berendah hati kepada guru yang mengajarkannya.  Nabi Musa berkata kepada Khidir, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS. Al-Kahfi: 66) — Ayat ini mencerminkan adab seorang murid yang ingin belajar kepada gurunya.

Ketiga, Sabar dan Fokus di Majelis Ilmu. Menyimak penjelasan guru dengan baik, tidak memotong pembicaraan, dan bersabar menghadapi kesulitan selama proses belajar. Keempat, Mengamalkan dan Menyebarkan Ilmu. Tujuan akhir dari ilmu adalah diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan diajarkan kepada orang lain. Allah SWT berfirman dalam hadis qudsi, “Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat.” (HR. Bukhari)

Pada saat proses diikuti dengan benar dan adab diterapkan ketika melaksanakan proses, maka menuntut ilmu akan menjadi ibadah. Bukan hanya ibadah ritual yang diperoleh, tetapi juga ibadah sosial. Ilmu akan membantu seorang hamba menguhubungkan diri dengan Allah SWT dan membina hubungan antar-sesama makhluk. Artinya, menutut ilmu merupakan jalan raya terbentang luas untuk membentuk kesalehan spiritual dan kesalehan sosial.

Selain membutuhkan proses dan adab, menuntut ilmu juga dilandasi oleh keutamaan yang sangat besar di sisi Allah SWT. Para teolog dan ulama sepakat bahwa ilmu adalah cahaya yang membimbing manusia keluar dari kegelapan kebodohan menuju pencerahan iman. Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental beliau, Ihya’ Ulumuddin, menegaskan bahwa kedudukan orang berilmu berada tepat di bawah para nabi karena mereka adalah pewaris para nabi (waratsatul anbiya).

Rasulullah SAW juga mempertegas hal ini melalui sabdanya, “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka sesungguhnya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil bagian darinya, maka ia telah mengambil bagian yang sangat besar.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi). Hadis ini menunjukkan bahwa kemuliaan seseorang diukur bukan dari kekayaan materinya, melainkan dari luas dan bermanfaatnya ilmu yang ia miliki.

Lebih dari itu, Islam memandang bahwa amal ibadah seseorang tidak akan diterima atau tidak akan bernilai sempurna tanpa didasari oleh ilmu. Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah yang adil dan ulama salaf terkemuka, pernah berkata, “Barang siapa beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka ia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” Pernyataan ini diperkuat oleh pandangan para ulama fikih yang menyatakan bahwa ilmu adalah syarat sahnya suatu amal (al-ilmu qabla al-qauli wal-amal—ilmu itu sebelum berkata dan berbuat). Seseorang yang ingin mendirikan shalat, membayar zakat, atau berdagang, mutlak memerlukan ilmu agar ibadah dan muamalahnya sesuai dengan ketentuan syariat. Dengan ilmu, seorang mukmin tahu mana yang hak dan yang batil, mana yang halal dan yang haram.

Ketinggian derajat orang berilmu juga tercermin dari bagaimana malaikat dan seluruh makhluk di alam semesta turut mendoakan mereka. Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, serta penduduk langit dan bumi, hingga semut di dalam lubangnya dan ikan di lautan, benar-benar mendoakan kebaikan bagi orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia.” (HR Tirmizi). Bayangkan betapa istimewanya posisi seorang penuntut ilmu; ia tidak hanya ditenagai oleh semangat duniawi, melainkan didukung oleh doa dari makhluk-makhluk langit dan bumi. Hal ini terjadi karena ilmu yang benar akan mendatangkan rasa takut yang tulus kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Dan di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Demikianlah yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui).” (QS Fatir [35]:28)

Manfaat menuntut ilmu tidak berhenti pada tataran individu semata, melainkan memiliki multiplier effect bagi peradaban umat manusia. Ilmu yang diamalkan akan menjadi investasi akhirat yang pahalanya tidak pernah terputus, kendati seseorang telah meninggal dunia. Sabda Nabi SAW, “Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menjelaskan bahwa menyebarkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain adalah bentuk sedekah yang paling utama karena manfaatnya bersifat abadi dan mengalirkan kebaikan lintas generasi. Tatkala seseorang menulis buku, mengajar di kelas, atau sekadar menasihati dalam kebaikan, setiap orang yang mengamalkan ilmu tersebut akan turut mengalirkan pahala kepada sang pengajarnya.

Oleh karena itu, sudah sepatutnya setiap Muslim menepis rasa malas dan lelah dalam menimba ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun ilmu umum yang mendatangkan kemaslahatan. Imam Syafii rahimahullah pernah merumuskan betapa berat namun mulianya perjuangan ini dalam gubahan syairnya yang mashyur: “Bersabarlah terhadap pahitnya keaiban/kegagalan belajar di permulaan, karena kepahitan ilmu itu buahnya akan manis di kemudian hari. Barang siapa tidak pernah merasakan pahitnya menuntut ilmu barang sesaat, maka ia akan menelan hinanya kebodohan sepanjang hidupnya.” Syair ini menyadarkan kita bahwa rintangan, ujian kepahaman, dan rasa penat dalam belajar adalah harga yang sangat murah untuk menebus kemuliaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat.

Jadi, menuntut ilmu hakikatnya adalah jembatan emas yang menghubungkan seorang hamba kepada Sang Pencipta sekaligus menjadi fondasi kokoh dalam membangun peradaban sosial yang harmonis. Dengan memadukan proses yang konsisten, kesungguhan yang membaja, serta adab yang luhur di atas fondasi keikhlasan, aktivitas belajar-mengajar berubah wujud menjadi ibadah agung yang bernilai jihad di jalan Allah. Ilmu menyelamatkan manusia dari kesesatan berpikir, menuntun amal perbuatan agar senantiasa berada di atas rel yang benar, serta melahirkan pribadi-pribadi saleh secara spiritual dan bermanfaat secara sosial bagi semesta alam. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

Padang, 24 Septemeber 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman mempelajari ilmu sampaisaat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *