KEBAHAGIAAN SEORANG GURU

Oleh Zulkarnaini Diran

Sabtu pagi, 26 September 2026 saya menerima pesan melaui whatsapp. Isinya menyatakan bahwa pengirim pesan akan datang ke rumah. “Assalamulaikum, Pak ijin Si ke rumah Bapak ya Pak”, kata pengirim pesan. “Jadi, Si. Apak masih di luar, insyaallah kalau tibo di rumah apak kabari”, jawab saya sambil mengirimkan alamat rumah lengkap di kawasan Kecamatan Kototangah, Padang. Itulah percakapan singkat melalui whatsapp.

Pengirim pesan adalah Dr. apt. Desi Eka Putri, S.Si., M.Farm. Desi bekerja di Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia (Badan POM RI), Jakarta. Desi (panggilan sehari-hari) adalah siswa saya di SMA Negri Satu Baso, Agam awal tahun 90-an. Selain mengampu mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indoensia di sekolah itu, saya juga membimbing kegiatan ekstrakulrikuler. Bidang yang saya bina adalah Penelitian Ilmiah Remaja (PIR) yang saat itu setiap tahun selalu diselenggarakan lombanya oleh Kemneterian Pendidikan dan Kebudayaan. Desi satu dari sekian siswa yang saya bina dan berhasil sukses mewakili provinsi Sumatra Barat ke tingkat nasional. Itu terjadi 31 tahun yang silam. Sudah lama memang. Namun, di situlah saya sangat mengenal dan memahami kecerdasan siswa ini.

Tanggal 19 Juli 2026 Desi juga mengabari saya lewat WA. “Pak, insyaallah Si mau sidang promosi (doktor) hari Rabu 22 Juli besok pukul 14.00, mohon doa ya, pak. Semoga Bapak berkesempatan hadir, ya Pak”, katanya dalam pesan itu. Saya menjawab, isnyaallah hadir waktu wisuda, karena pada tanggal dan jam yang sama saya ada kegiatan lain. Ketika Desi wisuda saya juga tidak dapat hadir karena sedang ada kegiatan di provinsi lain. Itulah di antaranya komunikasi saya dengan siswa yang “supercerdas” ini sebelum dia bersama suami dan dua orang anaknya berkunjung ke pondok saya di Padang.

Sebelum saya sampai, Desi sekeluarga sudah memarkir mobilnya di depan rumah saya. Saya dan istri turun dari mobil, Desi pun bergegas menemui saya. Doktor lulus terbaik, pasca sarjana Unand 2026, anak Nagari Kototinggi Baso, Agam ini, bergegas menemui saya. Desi langsung merangkul saya dengan penuh haru dan bahagia. Desi berujar, “Setelah 31 tahun Si baru dapat menemui Bapak sekarang”, katanya dengan suara bergetar penuh kebahagiaan. Tanpa saya sadari air mata saya berlinang dan kemudian menetes ketika kami berangkulan. Air mata bahagia seorang guru yang masih diingat oleh siswanya. Kemudian hal yang sama dilakukan oleh Desi kepada istri saya. Desi memang mengenal istri saya karena beberapa kali Desi pernah ke rumah di kawasan Ampek Angkek Agam 31 tahun silam.

Susah diukur, sulit diceritakan, sukar untuk dikatakan, betapa bahagianya seorang guru yang tengah menapaki usia senja, dikunjungi oleh siswanya setelah 31 tahun berpisah. Sungguh, saya merasakan, dan menikmati momen-momen seperti itu. Tidak hanya satu kali, tetapi berkali-kali saya merasakan hal itu ketika siswa (baik yang di SMP maupun SMA) berkunjung ke rumah sambil bercerita tentang masa lalu, tentang kebersamaan, tentang hal-hal yang dilakukan di sekolah pada masa silam. Saya benar-benar menikmati hasil kerja sebagai guru pada momen-momen seperti itu. Hal itu tidak dapat diukur dengan uang dan penghasilan yang diterima sebagai guru, hanya nurani yang paling dalam saja yang mengatakan “inilah kenikmatan dan kebahagiaan” seorang guru pada usia senja.

Ananda Dr. Desi Eka Putri, S.Si., M.Farm sekeluarga, Bapak ucapkan terimakasih atas kunjungannya. Hal ini benar-benar membawa kebahagiaan bagi Bapak dan Istri. Kunjungan ini sangat bermakna bagi bapak dalam menapaki usia senja. Ternyata jika “bertanam baik” hasilnya “panen kebahagiaan”. Selamat jalan, Si, kembali ke tempat tugas di Jakarta, semoga senantiasa dalam Rida Allah SWT. Doa juga untuk cucu bapak yang dokter dan sarjana teknik itu, sukses dalam mengamalkan ilmunya serta berguna bagi kemanusiaan, bangsa, Agama, dan negara. Amin YRA!

Padang, 27 September 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *