PERINGATAN DAN KABAR GEMBIRA

Oleh Zulkarnaini Diran

Allah SWT memerintahkan kepada Rasul Muhammad SAW agar memberi peringatan kepada manusia dan kabar gembira kepada orang beriman. Ada duaperintah yakni “peringatan” dan “kabar gembira”. Peringatan ditujukan kepada manusia. Sifatnya umum atau generik, baik perintahnya maupun sasarannya. Sementara kabar gembira ditujukan kepada orang beriman,  sifatnya spesifik atau khusus, baik isi perintahnya maupun sasarannya. Perintah itu termaktub di dalam firman Allah SWT, “…Berilah peringatan kepada manusia dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman” …. (QS Yunus [10]: 2).

Perintah “peringatan” dinyatakan lebih dahulu daripada “kabar gembira”. Kemudian manusia sebagai sasaran perintah, juga didahulukan dari orang-orang beriman. Hal ini menunjukkan bahwaa manusia bersifat umum di dalam koridor perintah ini, sementara orang-orang beriman bersifat spesifik. Ketika Allah SWT menyeru dengan kosakata “orang berima”, itu adalah seruan khusus, panggilan kepada kesayangan-Nya, kekasih-Nya, begitu pendapat para ulama. Dikotomus antara manusia dan orang beriman terletak pada keumuman dan kehususnannya dalam perintah ini.

Diutusnya Nabi Muhammad SAW ke muka bumi membawa misi yang sangat agung dan komprehensif bagi seluruh umat manusia. Salah satu fondasi utama misi kenabian ini adalah menyampaikan dua hal pokok, yaitu peringatan (nandzir) dan kabar gembira (basyir). Allah SWT merumuskan tugas mulia ini secara langsung di dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui Surah Yunus ayat 2, yang menjadi titik pijak dari tulisan ini.

Perintah pertama yang disebutkan dalam ayat tersebut adalah memberikan peringatan yang ditujukan kepada manusia secara universal tanpa memandang status sosial, ras, atau golongan. Sifatnya yang generik mencakup seluruh umat manusia (an-nas), baik yang masih ingkar, ragu-ragu, maupun yang sedang mencari kebenaran. Peringatan ini berfungsi sebagai alarm spiritual agar manusia menyadari hakikat penciptaan mereka, bahaya kelalaian, serta konsekuensi dari perbuatan maksiat dan penolakan terhadap kebenaran ilahi.

Berbeda dengan peringatan yang bersifat umum, perintah untuk menyampaikan kabar gembira (al-bisyarah) dikhususkan hanya bagi orang-orang beriman (al-mu’minin). Kabar gembira ini bukan sekadar informasi biasa, melainkan janji mulia berupa rahmat, ampunan, keberkahan hidup di dunia, serta balasan surga yang penuh kenikmatan di akhirat kelak. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan adalah sebuah keistimewaan yang mengantarkan seseorang pada kedekatan khusus dengan Sang Pencipta.

Terdapat hikmah yang sangat mendalam mengapa Allah SWT mendahulukan kata “peringatan” daripada “kabar gembira” dalam banyak ayat Al-Qur’an. Secara psikologis dan metodologis dakwah, jiwa manusia harus dibersihkan dan disadarkan terlebih dahulu dari kotoran kesesatan, egoisme, dan kelalaian. Peringatan bertindak sebagai pembersih (tazkiyah), sedangkan kabar gembira bertindak sebagai pembangun motivasi setelah hati menjadi bersih dan siap menerima cahaya iman.

Dalam hadis riwayat Imam Muslim, Rasulullah SAW menegaskan bahwa setiap nabi diutus khusus untuk kaumnya masing-masing, namun beliau diutus untuk seluruh umat manusia (kaffatan linnas). Pendekatan dakwah yang bersifat universal ini menuntut umat Islam untuk senantiasa menebar kebaikan, keadilan, dan risalah damai kepada siapa saja. Peringatan yang disampaikan bukanlah bentuk kebencian, melainkan bentuk kasih sayang tertinggi agar manusia tidak terjerumus ke dalam kehancuran moral dan spiritual.

Ketika Allah SWT memanggil hamba-Nya dengan sapaan “Ya ayyuhalladzina amanu” (Wahai orang-orang yang beriman), para ulama tafsir—seperti Ibnu Katsir dan Imam Al-Qurthubi—menjelaskan bahwa itu adalah bentuk panggilan penuh kemuliaan. Panggilan tersebut diibaratkan sebagai sapaan istimewa dari seorang Raja Diraja kepada para kekasih dan orang-orang pilihan-Nya. Sifat khusus ini menegaskan bahwa mereka yang beriman memiliki ikatan batin yang kuat dan eksklusif dengan Sang Khaliq.

Para ulama kontemporer maupun klasik sepakat bahwa seorang da’i atau pendidik harus mampu menyeimbangkan antara tahdzir (peringatan terhadap dosa dan azab) dan tabsyir (pemberian harapan melalui pahala dan rahmat). Jika manusia hanya diberi peringatan terus-menerus, mereka akan berputus asa dari rahmat Allah. Sebaliknya, jika hanya diberi kabar gembira tanpa peringatan, mereka akan merasa aman dari murka Allah (amnun min makrillah). Keseimbangan inilah yang menjaga kestabilan jiwa umat.

Di era modern saat ini, prinsip peringatan dan kabar gembira sangat relevan diterapkan dalam berbagai lini kehidupan, baik dalam keluarga, dunia pendidikan, maupun kepemimpinan sosial. Seorang pemimpin atau pendidik yang bijak harus senantiasa mengingatkan tentang batasan etika dan hukum (peringatan), sekaligus memberikan apresiasi, motivasi, serta harapan masa depan yang cerah bagi mereka yang berbuat kebajikan (kabar gembira).

Kabar gembira yang dijanjikan Allah SWT tidak akan mungkin diraih tanpa adanya manifestasi amal shaleh di dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana ditegaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an, iman selalu digandengkan dengan amal shaleh (wa ‘amilus shalihati). Iman adalah fondasi di dalam hati, sementara amal shaleh adalah bukti nyata dipermukaan, yang keduanya menjadi syarat mutlak untuk menerima curahan kabar gembira dari Allah SWT.

Jadi, dikotomi antara peringatan untuk manusia secara umum dan kabar gembira untuk orang beriman mencerminkan keadilan dan kasih sayang Allah SWT yang sempurna. Peringatan hadir sebagai pelindung universal agar umat manusia terjaga dari kesesatan, sementara kabar gembira hadir sebagai anugerah eksklusif bagi mereka yang memilih jalan iman. Menyeimbangkan kedua prinsip ini akan melahirkan pribadi yang senantiasa waspada terhadap kesalahan namun tetap optimis dalam menggapai ridha Allah SWT.

Padang, 29 September 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman dan hasil simakan dalam fenomena berislam di tengah-tengah masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *