BERBUAT KEBAIKAN DI SISA USIA

Oleh Zulkarnaini Diran

Jika ada kesempatan berbuat baik, langsung lakukan. Jangan ditunda-tunda, jangan ditangguhkan. Kebaikan pada sisa usia atau usia senja menghapus dosa masa lalu. Pintu kebaikan merupakan jalan hidayah dari Allah yang tidak selalu terbuka, pada saatnya pintu itu tertutup. Lakukan kebaikan pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan jangan ditunda-tunda. Sekecil apapun kesempatan untuk berbuat baik, lakukanlah.

Kehidupan manusia di dunia ini berjalan begitu cepat, tanpa terasa waktu terus bergulir membawa setiap hamba menuju penghujung usianya. Memasuki usia senja atau masa tua, kesadaran spiritual seseorang biasanya semakin meningkat, di mana masa-masa tersebut merupakan momentum yang sangat berharga untuk melakukan introspeksi diri. Tulisan ini pengingat  bagi hamba agar tidak menunda-nunda amal kebajikan. Pesan ini mengajak setiap insan untuk memanfaatkan sisa umur yang ada sebagai ladang untuk menanam kebaikan sebanyak-banyaknya sebelum kesempatan itu benar-benar tertutup rapat.

Pesan utamanya adalah agar hamba tidak menunda kebaikan ketika kesempatan itu telah ada di depan mata. Dalam pandangan Islam, waktu adalah salah satu nikmat terbesar yang sering kali dilalaikan oleh manusia, sebagaimana diingatkan dalam Surah Al-Asr [103] ayat 1 – 3,  bahwa manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Menunda-nunda kebaikan di masa senja adalah sebuah kerugian besar karena ajal dapat menjemput kapan saja tanpa menunggu seseorang merasa siap. Oleh karena itu, menyegerakan amal saleh pada sisa usia merupakan bentuk kecerdasan spiritual dalam mengelola waktu yang tersisa.

Lebih lanjut, berbuat kebaikan di masa tua memiliki keutamaan yang luar biasa, salah satunya adalah sebagai sarana untuk menghapus dosa-dosa di masa lalu. Seiring bertambahnya usia, catatan amal manusia tentu dipenuhi dengan berbagai khilaf, baik yang disengaja maupun tidak. Allah SWT dengan sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayangnya selalu membuka pintu ampunan seluas-luasnya bagi hamba yang mau kembali kepada-Nya di penghujung umurnya. Kebaikan yang dilakukan dengan tulus di sisa usia dapat menjadi penebus kesalahan masa lampau, membersihkan hati, dan menyucikan jiwa sebelum menghadap Sang Khaliq.

Pintu kebaikan merupakan wujud hidayah dari Allah SWT yang sifatnya tidak abadi dan tidak selalu terbuka. Hidayah taufik—yakni dorongan untuk melakukan ketaatan—adalah anugerah eksklusif yang Allah berikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya. Ketika Allah membukakan hati seseorang untuk beramal saleh di masa senjanya, itu adalah tanda bahwa ia sedang dipilih untuk menerima rahmat-Nya. Jika kesempatan emas tersebut disia-pasiakan atau diabaikan, dikhawatirkan pintu hidayah itu akan perlahan-lahan tertutup dan mengeraslah hati seseorang terhadap nilai-nilai kebaikan.

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan kita agar senantiasa memanfaatkan umur yang diberikan sebelum penyesalan melanda di akhirat kelak. Allah SWT berfirman, “Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami, niscaya kami akan mengerjakan amal yang saleh bukan yang telah kami kerjakan.’ Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak datang kepada kamu) pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolong pun.”  (QS Fathir [35]: 37) Ayat ini memberikan peringatan keras agar kita tidak menjadi golongan yang baru ingin berbuat baik setelah nyawa sampai di tenggorokan atau setelah kehidupan dunia berakhir.

Hadis Nabi Muhammad SAW juga banyak menekankan pentingnya memanfaatkan kesempatan hidup dan kesehatan sebelum datangnya masa-masa uzur atau kematian.  Rasulullah SAW bersabda, “Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sibukmu, dan masa hidupmu sebelum matimu.” (HR Bukhari). Hadis ini sejalan dengan pesan bahwa usia senja atau sisa usia adalah momen krusial yang menuntut tindakan nyata, bukan sekadar angan-angan kosong untuk berbuat kebaikan di kemudian hari.

Para ulama dan teolog Islam turut memberikan pandangan mendalam mengenai urgensi memperbanyak amal di ujung usia. Imam Al-Ghazali dalam berbagai karya tasawwufnya sering mengingatkan bahwa amal di akhir hayat sangat menentukan husnul khatimah (akhir yang baik). Beliau mengibaratkan kehidupan dunia seperti perlombaan lari, di mana garis akhir adalah penentu kemenangan sesungguhnya. Seorang pelari yang hampir mencapai garis finis harus mengerahkan seluruh sisa tenaganya agar tidak terjatuh di saat-saat terakhir. Demikian pula seorang Muslim di usia senja, ia harus memaksimalkan sisa napasnya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pendapat senada juga disampaikan oleh ulama kontemporer Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, yang menjelaskan bahwa amal yang dikerjakan di masa tua memiliki nilai kekhususan tersendiri di sisi Allah. Ketika seseorang tetap istiqamah dalam ketaatan meskipun fisik dan tenaganya telah melemah, hal itu menunjukkan ketulusan iman yang mendalam. Tenaga yang rapuh dan rambut yang memutih menjadi saksi bisu atas kesungguhan seorang hamba dalam mencari ridha Allah, sehingga setiap amal kecil yang dilakukannya akan mendatangkan pahala yang berlipat ganda.

Pesan ini menekankan agar kita tidak meremehkan sekecil apapun bentuk kebaikan yang bisa kita lakukan. Dalam ajaran Islam, tidak ada amal kebaikan yang sia-sia, sekecil biji zarrah sekalipun pasti akan diperhitungkan oleh Allah SWT. Hal itu ditegaskan dalam firman-Nya, “Siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya. Siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah, dia akan melihat (balasan)-nya.”  (QS Az-Zalzalah [99]: 7 -8). Membantu tetangga, memberikan senyuman, menyingkirkan duri di jalan, berdzikir, hingga memberikan nasihat yang baik kepada generasi muda, semuanya memiliki bobot yang besar jika dilandasi dengan niat ikhlas karena Allah semata.

Sikap tidak menunda-nunda kebaikan juga merupakan cerminan dari sifat bersegera dalam kebaikan (al-musari’ah ila al-khairat) yang sangat dianjurkan dalam agama. Allah SWT memuji hamba-hamba-Nya yang berlomba-lomba dalam kebaikan melalui firman-Nya dalam Surah Al-Mu’minun ayat 61: “Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.”  (QS Al-Mu’minun [23]: 61) Dengan menyegerakan amal, kita menutup celah bagi setan untuk membisikkan keraguan, kemalasan, atau penundaan yang berujung pada kelalaian total.

Pentingnya kesadaran ini juga berkaitan erat dengan dinamika psikologis manusia di usia senja. Pada masa-masa ini, seseorang sering kali dihadapkan pada perasaan sepi, kekhawatiran akan masa depan, atau penyesalan atas masa lalu. Dengan disibukkan oleh berbagai amal kebaikan, hati manusia akan menjadi tenang, tenteram, dan dipenuhi oleh energi positif. Mengisi sisa usia dengan aktivitas sosial yang bermanfaat, ibadah yang khusyuk, serta berbagi ilmu akan memberikan kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi apapun.

Jadi, “Berbuat Kebaikan di Sisa Usia” adalah sebuah pengingat rohani yang sangat berharga bagi setiap individu. Sisa usia bukanlah masa untuk berpasrah diri dalam kepasifan, melainkan momentum keemasan untuk merajut kembali sisa-sisa amal yang barangkali sempat terabaikan di masa muda. Dengan berpegang teguh pada tuntunan Al-Qur’an, hadis Nabi SAW, serta kebijaksanaan para ulama, marilah kita senantiasa menyegerakan setiap kesempatan berbuat baik sekecil apa pun, demi meraih ampunan Allah SWT dan mengakhiri perjalanan hidup ini dengan husnul khatimah. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat.

Padang, 10 Oktober 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan upaya dan perjuangan untuk berbuat baik pada usia senja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *