Oleh Zulkarnaini Diran

“Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri….” (QS Al-Isra’ [17]: 7)
Islam memerintahkan penganutnya untuk senantiasa berbuat baik. Berbuat itu namnya beramal, baik itu artinya saleh. Berbuat baik berarti beramal saleh. Amal saleh itu selalu didahului dengan kata iman. Banyak ayat di dalam Al-Quran yang menyetarakan atau menyelaraskan iman dan amal saleh. Terus kenapa begitu hebatnya perintah “berbuat baik” itu di dalam Islam? Jawabannya ada pada ayat Al-Quran yang dikutip pada bagian awal tulisan ini.
Berbuat baik berarti untuk diri sendiri, berbuat jahat juga untuk diri sendiri. Sulitkah berbuat baik itu? Tentu tidak, selama hal itu dilakukan dengan hati. Berbuat baik pertama-tama dimulai dari hati. Ketika hati bergerak untuk berbuat baik, mulut akan mengalimatkannya, anggota tubuh akan melakukannya. Jadi komponen utama untuk berbuat baik itu adalah hati, mulut, dan anggota tubuh. Jika ketiga komponen itu bekerja secara komprehensif untuk berbuat baik, akan muncul di dalam diri suatu kenikmatan. Itulah kenikmatan berbuat baik yang hasilnya untuk kenyamanan diri sendiri.
Kenikmatan berbuat baik membuka ruang refleksi yang sangat mendalam tentang esensi ajaran Islam. Berbuat baik atau amal saleh bukanlah sekadar rutinitas atau kewajiban formal yang kaku, melainkan sebuah kebutuhan eksistensial manusia. Namun, merasakan kenikmatan sejati dari kebaikan tidak hadir secara instan atau tiba-tiba. Ia memerlukan proses pembiasaan dan latihan yang konsisten. Bisa jadi memerlukan waktu yang cukup lama dan perjuangan yang dahsyat.
Untuk memahami bagaimana sebuah kebaikan dapat bertransformasi menjadi sumber kenikmatan hidup, hamba perlu menelusuri tahapan prosesnya. Penjelajahan ini juga akan membongkar bagaimana dampak positif dari amal saleh tidak hanya dirasakan oleh jiwa, tetapi juga oleh raga, yang diperkuat oleh dalil Al-Quran, hadis, serta pandangan para ulama.
Di dalam Al-Quran, kata iman dan amal saleh hampir selalu disandingkan secara beriringan. Para ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir, menjelaskan bahwa iman di dalam hati harus dibuktikan melalui amal perbuatan fisik. Iman adalah benihnya, sementara amal saleh adalah pohon yang tumbuh subur dan menghasilkan buah yang manis. Tanpa amal, iman diibaratkan seperti pohon tanpa buah yang kehilangan fungsi utamanya. Oleh karena itu, Islam menempatkan amal saleh sebagai poros utama kehidupan seorang Muslim. Setiap detak kebaikan yang dilakukan sejatinya adalah investasi untuk keselamatan dan kebahagiaan diri sendiri di dunia maupun di akhirat.
Titik tolak dari segala bentuk kebaikan bermula dari dalam dada, yaitu hati. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dan Muslim bahwa di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging; jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuh, yang tidak lain adalah hati. Pada fase awal latihan berbuat baik, hati sering kali harus melawan ego, hawa nafsu, dan rasa malas. Di sinilah mujahadah (kesungguhan dalam berjuang melawan hawa nafsu) diperlukan. Seorang hamba memaksa dirinya untuk berniat tulus ikhlas semata-mata karena Allah SWT sebelum melangkah lebih jauh.
Setelah hati tergerak dan berniat kuat, proses berbuat baik berlanjut ke tahap sinkronisasi dengan lisan dan anggota tubuh. Lisan mulai dilatih untuk mengucapkan perkataan yang baik, menyejukkan, dan menghindari gibah, sementara tangan dan kaki digerakkan untuk membantu sesama. Imam Al-Ghazali dalam kitab monumental Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa anggota badan adalah pelayan bagi hati. Ketika lisan dan perbuatan selaras dengan niat hati yang bersih, maka gesekan batin antara keinginan buruk dan kebaikan mulai mereda, membentuk sebuah pola perilaku yang harmonis.
Berbuat baik tidak cukup dilakukan sekali atau dua kali, melainkan memerlukan proses latihan berkelanjutan yang disebut dengan riyadah. Pada tahap ini, seorang hamba membiasakan diri melakukan amal-amal kebaikan, baik yang berskala kecil seperti senyum dan menyapa, hingga amal besar seperti bersedekah. Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan bahwa kebiasaan adalah tabiat kedua bagi manusia. Ketika seseorang terus menerus memaksa dirinya melakukan kebaikan meskipun awalnya terasa berat, maka lambat laun aktivitas tersebut akan berubah menjadi sebuah karakter yang melekat secara alami.
Puncak dari proses panjang latihan berbuat baik adalah tercapainya titik kenikmatan atau yang dalam istilah sufistik disebut sebagai halawah (kemanisan) iman. Rasulullah SAW bersabda bahwa akan merasakan manisnya iman orang yang ridha kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai Nabi. Pada titik ini, seseorang tidak lagi merasa terbebani atau terpaksa saat berderma, menolong orang lain, atau beribadah. Sebaliknya, ia akan merasa gelisah dan kehilangan jika suatu hari terlewat dari berbuat baik, karena kebaikan telah menjelma menjadi makanan rohani yang sangat lezat bagi jiwanya.
Secara psikologis, kenikmatan berbuat baik memberikan dampak luar biasa berupa ketenangan jiwa (tuma’ninah) dan hilangnya kecemasan berlebihan. Al-Quran menegaskan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 bahwa hanya dengan mengingat Allah (termasuk mengamalkan ajaran-Nya), hati akan menjadi tenteram. Para psikolog modern kerap menyebut fenomena ini sebagai helper’s high, yaitu kondisi seseorang yang merasakan euforia dan kebahagiaan mendalam setelah membantu orang lain. Jiwa yang terbiasa berbagi akan terbebas dari penyakit hati seperti iri, dengki, dan egoisme destruktif.
Tidak hanya menyembuhkan jiwa, kebaikan yang bersumber dari hati yang tulus ternyata memiliki manifestasi positif secara fisik. Berbagai riset neurosains menunjukkan bahwa sikap dermawan dan welas asih dapat menurunkan hormon stres seperti kortisol, serta memicu pelepasan hormon endorfin dan oksitosin yang memperkuat sistem kekebalan tubuh. Para teolog Islam kerap mengaitkan hal ini dengan konsep berkah umur dan kesehatan jasmani, yakni ketenangan batin yang diperoleh dari amal saleh turut menjaga stabilitas tekanan darah, kesehatan jantung, dan vitalitas tubuh secara keseluruhan.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam berbagai karyanya sering menegaskan bahwa balasan dari sebuah kebaikan adalah kebaikan itu sendiri yang kembali kepada pelakunya, sejalan dengan makna Surah Al-Isra ayat 7. Ketika seseorang berbuat baik kepada orang lain, hakikatnya ia sedang menanam investasi kebahagiaan untuk masa depan raganya sendiri. Ulama salaf juga sering mengingatkan bahwa amal saleh adalah perisai pelindung dari berbagai musibah duniawi. Kebaikan yang dilakukan dengan ikhlas akan membuka pintu-pintu pertolongan Allah di saat-saat paling tak terduga dalam kehidupan seorang hamba.
Ketika proses latihan berbuat baik telah mencapai tingkat kematangannya, terjadi integrasi total antara dimensi spiritual, mental, dan fisik seseorang. Hati menjadi tenang, pikiran menjadi jernih, lisan terjaga, dan fisik bergerak dengan penuh semangat melayani sesama makhluk ciptaan Tuhan. Manusia pada fase ini berada dalam kondisi keseimbangan paripurna. Ia tidak lagi merasa terasing di tengah keramaian dunia karena hatinya senantiasa terhubung dengan sumber segala kebaikan, yaitu Allah SWT.
Jadi, kenikmatan berbuat baik bukanlah sebuah anugerah instan yang turun begitu saja. Ia merupakan buah manis dari sebuah proses panjang yang melibatkan kesadaran hati, kedisiplinan lisan, serta keaktifan anggota tubuh. Dengan memahami bahwa segala amal saleh pada akhirnya akan kembali untuk menyelamatkan dan membahagiakan diri sendiri, hamba termotivasi untuk terus melatih diri dalam kebaikan. Melalui sinergi antara petunjuk Al-Quran, sunnah Nabi, dan kebijaksanaan para ulama, terbukti bahwa kebaikan adalah kunci utama kesejahteraan holistik—baik secara psikologis maupun fisik—bagi siapa saja yang tekun menjalaninya. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 12 Oktober 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman berlatih untuk mendapatkan nikmat dalam berbuat kebaikan.