SANG ANAK DI BAWA KE MANA?

Oleh Zulkarnaini Diran

“Bergegaslah mendidik anak-anak sebelum kesibukan kalian bertumpuk-tumpuk. Sebab, jika dia telah dewasa namun tidak terdidik, dia akan lebih memusingkan pikiran kalian,” begitu ungkapan hikmah di dunia pendidikan yang sering terlontar dari lisan orang bijak. Mendidik anak memang bukan pekerjaan mudah, apatah lagi mendidik anak menjadi saleh dan salehah. Akan tetapi hal itu bukan sesuatu yang mustahil, bukan utopia, dan bukan mimpi kosong. Hal itu dapat dilakukan oleh kedua orang tua di dalam rumah tangga dan dibantu oleh lembaga pendidikan yang didirikan pemerintah dan masyarakat. Intinya adalah “ayah – bunda” harus bergegas dan berbuat sedini mungkin.

Pendidikan anak merupakan amanah terbesar yang diletakkan di pundak kedua orang tua. Seperti kutipan hikmah di atas, kelalaian dalam mendidik buah hati sejak dini akan berbuah pada penyesalan dan kepenatan pikiran di masa depan. Oleh karena itu, membangun fondasi keimanan dan keluhuran akhlak bukanlah sebuah kemustahilan, melainkan sebuah keniscayaan yang harus dijemput dengan kesadaran penuh melalui kerja sama harmonis antara rumah tangga, sekolah, dan masyarakat.

Rumah adalah madrasah pertama dan utama bagi seorang anak. Peran ayah dan bunda tidak bisa digantikan sepenuhnya oleh lembaga apa pun. Sejak anak dalam kandungan bahkan semenjak mereka lahir ke dunia, orang tua memegang kendali penuh dalam membentuk karakter dasar sang anak. Peran ini menuntut keteladanan nyata, bukan sekadar kata-kata nasihat harian.

Dalam Islam, Al-Qur’an telah mengabadikan teladan agung pendidikan keluarga, salah satunya melalui nasihat Luqmanul Hakim kepada anaknya yang direkam dalam Surah Luqman ayat 13 hingga 19. Luqman memulai pendidikannya dengan menanamkan tauhid dan melarang perbuatan syirik, menegakkan salat, berbuat baik kepada sesama, serta mengajarkan kesabaran dan kesederhanaan dalam bersikap.

Kedudukan orang tua sebagai pendidik utama dipertegas oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya bahwa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, dan kedua orang tua merekalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Hadis ini menegaskan betapa besar pengaruh lingkungan keluarga terhadap arah keyakinan dan kepribadian anak di kemudian hari.

Para ulama dan teolog Islam, seperti Imam Al-Ghazali dalam risalah agungnya Ihya Ulumuddin, menegaskan bahwa anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya, dan hatinya yang suci adalah mutiara berharga yang bersih dari segala pahatan. Jika anak dibiasakan pada kebaikan, ia akan tumbuh dalam kebaikan dan berbahagia di dunia akhirat. Sebaliknya, jika dibiarkan dalam kebiasaan buruk tanpa arahan, ia akan celaka dan menanggung dosa yang juga mengalir kepada orang tuanya.

Ketika anak menginjak usia sekolah, peran rumah tangga tidak lantas berhenti, melainkan diperluas dengan kehadiran lembaga pendidikan formal. Sekolah hadir sebagai mitra strategis yang membantu orang tua dalam membekali anak dengan ilmu pengetahuan umum serta memperdalam wawasan keagamaan secara terstruktur.

Peran sekolah berfungsi sebagai penguat nilai-nilai moral yang telah ditanamkan di rumah. Guru-guru di sekolah bertindak sebagai orang tua kedua yang membimbing kedisiplinan, kecerdasan intelektual, serta keterampilan sosial anak. Sinergi yang baik antara komunikasi guru dan orang tua akan memastikan bahwa apa yang dipelajari anak di sekolah selaras dengan prinsip akhlak yang dijunjung tinggi di dalam keluarga.

Selain rumah dan sekolah, lingkungan masyarakat memegang peranan penting sebagai penyeimbang dalam proses tumbuh kembang anak. Anak-anak masa kini hidup di tengah arus informasi dan pergaulan sosial yang sangat dinamis, baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Masyarakat yang peduli terhadap moral generasi muda akan menciptakan ekosistem yang kondusif. Kehadiran ruang publik yang positif, kegiatan keagamaan di lingkungan sekitar, serta kontrol sosial yang sehat dari tetangga dan tokoh masyarakat berfungsi sebagai pagar pelindung agar anak tidak terjerumus ke dalam pergaulan bebas atau perilaku menyimpang.

Apabila ayah dan bunda mengabaikan peran utamanya dan menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah atau lingkungan luar tanpa pengawasan, akibatnya bisa sangat fatal. Kegagalan membina anak sejak dini tidak hanya merugikan masa depan sang anak itu sendiri, tetapi juga mendatangkan petaka bagi orang tua di masa tua maupun di akhirat kelak.

Dalam teologi Islam, anak yang tidak terdidik dengan baik berpotensi menjadi sumber fitnah dan beban moral bagi keluarganya. Bahkan, dalam sebuah riwayat hadis, orang tua yang lalai memberikan pendidikan agama dan akhlak yang benar kepada anak-anak mereka kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, di mana anak-anak yang terabaikan tersebut dapat menuntut pertanggungjawaban orang tuanya di akhirat.

Pendidikan anak muslim yang ideal harus berorientasi pada pencapaian pribadi yang utuh: cerdas secara akal, matang secara emosional, dan kukuh secara spiritual. Keseimbangan ini hanya dapat tercapai jika ketiga pilar utama—yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat—berjalan seirama tanpa ada salah satu pihak yang melepaskan tanggung jawabnya.

Ayah dan bunda harus senantiasa memohon doa kepada Allah SWT agar dikaruniai keturunan yang menyejukkan pandangan, sebagaimana doa para ibadurrahman yang diabadikan dalam Al-Quran,  “Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (penyejuk mata), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS Al-Furqan […]: 74)

Pendidikan anak menjadi saleh dan salehah adalah sebuah perjalanan panjang yang menuntut keseriusan, kesabaran, dan kebersamaan. Pertanyaan “Sang anak dibawa ke mana?” terjawab melalui arah yang kita tuju bersama: dibawa menuju keselamatan dunia dan akhirat melalui rumah tangga yang penuh teladan, sekolah yang mencerahkan, dan masyarakat yang melindungi. Dengan bersegera mendidik anak sejak dini dan melibatkan diri secara optimal, para orang tua tidak hanya menyelamatkan masa depan anak-anak mereka, tetapi juga menjemput ketenangan dan keberkahan hidup yang hakiki. Seemoga tulisan sederhana ini bermanfaat, terimakasih!

Padang, 16 Oktober 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman sebagai orang tua dan hasil simakan dewasa ini  terhadap gejala pendidikan dalam kelaurga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *