Oleh Zulkarnaini Diran

Islam sangat menekaankan agar penganutnya pandai bersyukur. Bersyukur atas segala yang diterima dan fasilitas yang didapat merupakan adab krusial di dalam agama Allah Islam. Pertama-tama Allah memerintahkan kepada hamba-Nya untuk bersykur kepada Allah SWT, kemudian bersykur kepada kedua orang tua. Dari situ terbaca dengan terang, bahwa dalam hal bersyukur, Allah SWT berada posisi pertama dan kedua orang tua pada posisi kedua. Di situlah terleihat jelas dan gambalang, bahwa Islam menekankan penganutnya untuk memiliki “adab yang tinggi” dalam hidup dan kehdiupan. Bersyukur adalah satu dari sekian ciri orang beradab.
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai adab, etika, dan keluhuran budi pekerti. Salah satu pilar utama pembentukan akhlak mulia tersebut adalah sifat bersyukur (syukur). Di dalam ajaran Islam, bersyukurnya seseorang tidak hanya berhenti pada dimensi spiritual transendental semata, melainkan juga merambah ke ranah sosial, terutama kepada sesama manusia yang menjadi perpanjangan tangan kasih sayang Allah SWT di muka bumi.
Berdasarkan tinjauan teologis Islam, objek rasa syukur memiliki hierarki yang sangat jelas dan tegas. Pertama-tama dan yang paling utama, segala bentuk pujian, sanjungan, dan rasa syukur mutlak dipersembahkan hanya kepada Allah SWT. Dialah Al-Khaliq (Pencipta) sekaligus Al-Mun’im (Zat yang Maha Pemberi Nikmat) yang menghamparkan berbagai fasilitas kehidupan bagi hamba-hamba-Nya.
Setelah menegakkan syukur kepada Sang Pencipta, Islam menempatkan kedua orang tua pada posisi kedua yang sangat istimewa sebagai pihak yang patut dan wajib disyukuri kebaikannya. Konsep ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang sangat rasional sekaligus penuh dengan nilai kemanusiaan. Orang-orang yang tidak bisa berterima kasih kepada manusia, pada hakikatnya belum sempurna dalam bersyukur kepada Allah SWT.
Al-Quran Al-Karim menegaskan secara eksplisit hubungan erat antara perintah bersyukur kepada Allah SWT dan berterima kasih kepada kedua orang tua. Salah satu ayat yang paling agung dalam hal ini adalah, “Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu.” (QS. Luqman[…]: 14)
Ayat tersebut menggandengkan perintah bersyukur kepada Allah dengan perintah berbuat baik serta bersyukur kepada orang tua dalam satu rangkaian ayat yang padu. Ini memberikan pemahaman teologis bahwa bakti kepada orang tua merupakan cerminan nyata dari ketundukan seseorang kepada perintah Allah SWT.
Rasulullah SAW mempertegas prinsip bahwa penghargaan kepada manusia merupakan bagian tak terpisahkan dari rasa syukur kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda, “Tidak dikatakan bersyukur kepada Allah siapa yang tidak tahu bersyukur kepada manusia.” (HR. Tirmidzi dan Abu Dawud). Hadis mulia ini menjadi pedoman moral bahwa seorang Muslim yang baik tidak boleh mengabaikan jasa, pengorbanan, dan kebaikan orang-orang di sekitarnya. Ketika seseorang terbiasa berterima kasih kepada sesama, jiwa dan hatinya akan lebih mudah diliputi oleh rasa syukur yang mendalam kepada Sang Maha Pemberi Nikmat.
Kedudukan kedua orang tua sebagai pihak kedua yang wajib disyukuri bukanlah tanpa alasan mendasar. Ayah dan ibu adalah wasilah utama keberadaan manusia di dunia. Mereka telah mencurahkan segenap tenaga, pikiran, kasih sayang, dan pengorbanan tanpa batas sejak masa kandungan, kelahiran, hingga masa pertumbuhan.
Ibu mengalami masa-masa sulit saat mengandung dan melahirkan dengan taruhan nyawa, sementara ayah banting tulang mencari nafkah untuk menjamin kelangsungan hidup dan pendidikan anak-anaknya. Oleh karena itu, wajar apabila Islam menempatkan rasa terima kasih kepada orang tua sejajar dengan pengakuan atas kebaikan dan nikmat yang Allah limpahkan.
Para ulama tafsir dan teolog Muslim memberikan perhatian besar terhadap kedudukan syukur dalam bangunan akhlak Islam. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menjelaskan bahwa syukur terdiri dari tiga pilar utama: ilmu (ma’rifah), keadaan (hal), dan amal perbuatan (amal). Seseorang baru dikatakan bersyukur secara utuh apabila ia mengetahui bahwa seluruh nikmat berasal dari Allah, merasa bahagia dan ridha atas nikmat tersebut, serta mewujudkannya dalam bentuk ketaatan kepada Allah dan berbuat baik kepada makhluk-Nya.
Sementara itu, Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarij as-Salikin menegaskan bahwa syukur adalah ikatan yang menjaga nikmat agar tetap langgeng dan bertambah. Beliau juga menjelaskan bahwa syukur kepada manusia—khususnya orang tua—merupakan bentuk manifestasi keimanan yang hidup, bukan sekadar basa-basi sosial belaka.
Korelasi antara bersyukur kepada Allah dan bersyukur kepada orang tua mencerminkan keselarasan antara tauhid (keimanan) dan akhlak (moral). Orang yang bertauhid secara benar pasti akan memiliki akhlak yang luhur kepada sesama makhluk, terutama kepada kedua orang tuanya. Sebaliknya, seseorang yang durhaka atau melupakan jasa kedua orang tuanya biasanya mengalami degradasi spiritual dalam memandang nikmat-nikmat Allah SWT. Dengan demikian, menghormati dan berterima kasih kepada orang tua adalah ujian nyata kepekaan spiritual seseorang di hadapan Allah SWT.
Islam sangat menekankan pentingnya adab di atas ilmu. Sikap pandai bersyukur merupakan salah satu indikator utama dari orang yang memiliki adab yang tinggi di dalam kehidupan bermasyarakat dan beragama. Seseorang yang beradab tinggi tidak akan pernah merasa bahwa pencapaian, kesuksesan, dan fasilitas yang ia nikmati adalah hasil kerja kerasnya semata (egoisme spiritual). Ia selalu menyadari ada tangan-tangan tulus yang membantu, serta ada ridha Allah yang membentangkan jalan kemudahan baginya.
Selain Allah SWT dan kedua orang tua, lingkaran rasa syukur dalam Islam juga mencakup pihak-pihak lain yang berjasa dalam kehidupan seorang hamba. Guru yang mengajarkan ilmu, suami atau istri yang menjadi pendamping hidup, tetangga yang saling menolong, hingga pemimpin yang adil, semuanya berhak mendapatkan ucapan terima kasih dan penghargaan yang layak.
Rasulullah SAW mengajarkan agar umat Islam senantiasa membalas kebaikan orang lain, atau setidaknya mendoakan kebaikan bagi mereka jika belum mampu membalasnya secara materi. Hal ini menciptakan ekosistem sosial yang penuh dengan cinta kasih, harmoni, dan kedamaian.
Secara psikologis dan spiritual, membiasakan diri bersyukur kepada Allah dan berterima kasih kepada sesama memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesejahteraan jiwa. Orang yang bersyukur terhindar dari sifat serakah, iri hati (hasad), dan kufur nikmat yang seringkali menjadi sumber penderitaan mental manusia modern. Rasa syukur menumbuhkan ketenangan batin (tuma’ninah), meningkatkan rasa optimisme, serta memperkuat ikatan emosional yang positif dengan lingkungan sekitar. Hati yang senantiasa bersyukur akan selalu merasa cukup dan kaya, terlepas dari berapapun rezeki yang sedang diterimanya.
Sebaliknya, mengabaikan rasa syukur kepada Allah dan bersikap tidak berterima kasih kepada sesama manusia merupakan tanda-tanda rusaknya akhlak seseorang. Al-Quran telah mengingatkan secara tegas, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat’.” (QS. Ibrahim: 7) Kufur nikmat kepada Allah berujung pada hilangnya berkah, sementara sikap tidak tahu berterima kasih kepada orang tua dan sesama manusia akan mengantarkan seseorang pada kehinaan sosial serta kemurkaan Allah SWT.
Agar nilai-nilai syukur ini dapat membumi, seorang Muslim perlu mengintegrasikannya ke dalam rutinitas harian. Dimulai dari ucapan Alhamdulillah atas setiap nikmat sekecil apapun, membiasakan diri mengucapkan terima kasih kepada anggota keluarga, rekan kerja, dan siapa saja yang memberikan bantuan. Selain itu, wujud nyata syukur kepada Allah dan orang tua dapat diimplementasikan melalui doa-doa kebaikan yang dipanjatkan setiap selesai shalat, serta kesungguhan dalam membahagiakan mereka yang telah berjasa dalam hidup kita.
Jadi, kepada siapa hamba bersyukur telah dijawab secara tuntas dan bijaksana oleh ajaran Islam. Posisis teratas dan mutlak adalah Allah SWT sebagai Sang Pencipta dan Pemberi Segala Nikmat. Kemudian disusul pada posisi kedua oleh kedua orang tua sebagai wasilah kasih sayang dan perjuangan di dunia. Menggabungkan kedua bentuk syukur ini melahirkan profil manusia yang bertauhid lurus sekaligus berakhlak mulia. Dengan memahami hierarki syukur ini, hamba diajak untuk senantiasa merendahkan hati, menghargai sesama, dan memelihara adab yang tinggi demi tercapainya kebahagiaan hidup di dunia dan keselamatan di akhirat. Mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!
Padang, 15 Oktober 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan proses berlatih untuk memperkuat dan memperdalam rasa syukur dalam menapaki hari tua.