MENELADANI KESABARAN NABI YUSUF

Oleh Zulkarnaini Diran

Kesabaran Nabi Yusuf Alaihissalam adalah kesabaran multidemensi. Dia bersabar dari berbagai sisi kehidupan. Yusuf bersabar terhadap orang-orang yang menzoliminya. Dia bersabar menghadapi tuduhan atas perbuatan yang tidak dilakukannya. Sabar menghadapi godaan yang beragam seperti godaan lawan jenis, godaan jabatan, godaan untuk berbuat semena-mena, dan godaan untuk membalas dendam kepada orang-orang yang menzoliminya. Nabi Allah Yusuf bersikap sabar dan ihsan. Kesebaran dalam berbagai sisi kehidupan Yusuf ini pantaslah dijadikan teladan atau dijadikan wasilah untuk melatih diri hamba dalam bersabar dan bebuat ihsan.

Kesabaran Nabi Yusuf Alaihissalam merupakan salah satu teladan agung yang diabadikan dalam Al-Qur’an, khususnya melalui Surah Yusuf yang disebut oleh para ulama sebagai Ahsanul Qashash (Kisah Terbaik). Kesabaran beliau bukanlah kesabaran yang pasif atau sekadar menyerah pada keadaan, melainkan kesabaran multidimensi yang aktif, dinamis, dan penuh dengan strategi spiritual serta keteguhan moral. Hal itu membuka kesadaran hamba bahwa Nabi Yusuf menghadapi berbagai macam ujian berat dari berbagai sisi kehidupan.

Kesabaran Nabi Yusuf Alaihissalam mencakup spektrum yang sangat luas dalam pengalaman hidup manusia, mulai dari pengkhianatan keluarga, fitnah sosial, godaan hawa nafsu, hingga ujian kekuasaan. Dalam pandangan teologi Islam, kesabaran (sabr) dibagi menjadi tiga pilar utama: sabar dalam ketaatan kepada Allah, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi takdir yang menyakitkan. Nabi Yusuf berhasil melakoni ketiga pilar ini dengan sempurna, menjadikannya model ideal bagi hamba-hamba Allah yang ingin melatih ketahanan jiwa (nafs) di tengah gelombang fitnah dunia yang kompleks.

Ujian pertama dan paling mendasar yang dihadapi Nabi Yusuf datang dari orang-orang terdekatnya sendiri, yaitu saudara-saudaranya. Didorong oleh rasa dengki karena kasih sayang ayah mereka, Nabi Yakub Alaihissalam, lebih condong kepada Yusuf dan adiknya Benyamin, saudara-saudara Yusuf sepakat untuk menyingkirkannya dengan cara membuangnya ke dalam sumur yang gelap. Hal itu termaktub di dalam Al-Qur’an, “Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkannya ke dalam sumur (Yusuf dibuang), dan (Kami wahyukan kepada Yusuf), ‘Engkau kelak akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari’.” (QS Yusuf [12]: 15)

Secara rasional, dibuang ke dalam sumur oleh saudara sendiri dan kemudian dijual sebagai budak kepada kafilah musafir di Mesir adalah sebuah kehancuran total bagi seorang anak muda. Namun, secara spiritual, sumur tersebut adalah sekolah pertama pembentukan karakter kenabian Yusuf. Syekh Muhammad Abduh dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ujian di usia muda mengajarkan kemandirian mutlak dan ketergantungan hati hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Yusuf muda tidak meratap dalam keputusasaan yang merusak iman, melainkan menerima takdir tersebut dengan kepasrahan penuh kepada Sang Pencipta.

Setelah diangkat sebagai pelayan di rumah seorang pembesar Mesir (Al-Aziz), ujian Nabi Yusuf bergeser ke ranah biologis dan psikologis, yakni godaan dari istri Al-Aziz (Zulaikha). Dengan kecantikan, kekuasaan, dan posisi yang mendukung, Zulaikha merayu Yusuf di tempat tertutup yang aman dari pengawasan manusia. Al-Qur’an mengabadikan keteguhan ini,  “Dan perempuan yang dia (Yusuf) tinggal di rumahnya menggoda dirinya. Dan perempuan itu menutup pintu-pintu, lalu berkata, ‘Marilah mendekat kepadaku.’ Yusuf berkata, ‘Aku berlindung kepada Allah, sesungguhnya tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya orang-orang yang zalim tidak akan beruntung.” (QS Yusuf [12]: 23)

Keputusan Nabi Yusuf untuk menolak ajakan tersebut adalah manifestasi nyata dari kesabaran dalam menjauhi kemaksiatan. Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam kitab Madarijus Salikin menjelaskan bahwa godaan yang dihadapi Yusuf sangat berat karena dorongan syahwat usia muda berpadu dengan kesempatan emas dan rasa aman dari hukuman publik. Namun, iman yang kuat mengalahkan segalanya. Rasulullah SAW bersabda dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim bahwa salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan Allah pada hari kiamat adalah “seorang pemuda yang diajak berzina oleh wanita bangsawan yang cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah’.”

Sebagai konsekuensi dari penolakannya terhadap fitnah Zulaikha, Nabi Yusuf justru difitnah balik dan dijebloskan ke dalam penjara selama bertahun-tahun meskipun ia tidak bersalah. Di sinilah kesabaran sosial dan mental diuji secara maksimal. Beliau tidak melakukan perlawanan fisik atau pemberontakan, melainkan memilih mendekam di penjara demi menjaga integritas moral dan kehormatannya. Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mencatat bahwa masa-masa di dalam penjara digunakan oleh Nabi Yusuf sebagai sarana dakwah tauhid kepada para tahanan lain, mengubah tempat penyiksaan menjadi majelis ilmu dan tazkiyatun nafs.

Di dalam penjara, Nabi Yusuf menunjukkan akhlak yang mulia dan sifat ihsan (berbuat kebaikan secara maksimal) kepada sesama narapidana. Ketika dua orang narapidana bermimpi dan meminta takwilnya kepada beliau, Yusuf tidak langsung menjawab sebelum terlebih dahulu mendakwahi tentang tauhid sepeti yang termaktub dalam Al-Quran (QS Yusuf [12]: 37-38). Para ulama menegaskan bahwa keberhasilan dakwah Nabi Yusuf di penjara lahir dari kesabaran yang dibarengi dengan keluhuran budi pekerti, sehingga beliau dikenal oleh para narapidana sebagai sosok yang sangat jujur dan amanah (shiddiq dan amin).

Ketika kebenaran akhirnya terungkap melalui mimpi Raja Mesir yang ditakwilkan dengan brilian oleh Nabi Yusuf, sang raja langsung menawarkan posisi terhormat dan kekuasaan mutlak kepadanya. Secara rasional, orang yang telah dizalimi dan dipenjara bertahun-tahun biasanya akan menduduki jabatan untuk melampiaskan dendam atau memperkaya diri. Namun, Nabi Yusuf justru meminta jabatan bendahara negara (Khasazinul Ardhi) bukan karena ambisi duniawi, melainkan karena kesadaran profesionalisme dan integritas moral untuk menyelamatkan negeri dari ancaman krisis kelaparan selama tujuh tahun paceklik.

Puncak dari ujian kesabaran Nabi Yusuf adalah ketika saudara-saudara yang dulu menzaliminya datang ke Mesir untuk meminta bantuan makanan tanpa mengenali bahwa pemimpin agung di hadapan mereka adalah Yusuf yang dulu mereka buang. Pada posisi ini, Nabi Yusuf memiliki kekuasaan penuh untuk menghukum, memenjarakan, atau membalas perbuatan keji mereka. Namun, apa sikap beliau? Beliau justru menunjukkan pemaafan yang agung. Al-Qur’an merekam perkataan mulia beliau, “Dia (Yusuf) berkata, ‘Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni kamu. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang’.” (QS Yusuf [12]: 92)

Para ulama tasawuf dan akidah sepakat bahwa kisah Nabi Yusuf adalah cerminan sempurna dari perpaduan antara sabr (kesabaran) dan ihsan (kebajikan). Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin menyatakan bahwa kesabaran tanpa diiringi dengan sifat pemaaf dan ihsan akan melahirkan kepahitan jiwa. Sebaliknya, Nabi Yusuf mengajarkan bahwa kesabaran yang dilandasi keimanan kepada qada dan qadar Allah akan menghasilkan kelapangan dada, kemampuan memaafkan, dan keinginan untuk terus berbuat baik bahkan kepada orang yang pernah menyakiti kita.

Dalam konteks kehidupan modern saat ini, nilai-nilai keteladanan Nabi Yusuf sangat relevan untuk diaplikasikan dalam berbagai lini kehidupan. Ujian berupa fitnah media sosial, godaan jabatan yang koruptif, tekanan ekonomi, dan konflik dalam lingkungan keluarga atau pekerjaan memerlukan ketahanan mental ala Nabi Yusuf. Melalui pendekatan rasional, kita menyadari bahwa reaktif dan emosional hanya akan memperburuk keadaan; sedangkan pendekatan spiritual mengajarkan bahwa setiap kesulitan pasti mengandung hikmah ketuhanan yang mendalam.

Menjadikan kisah Nabi Yusuf sebagai wasilah atau sarana latihan diri menuntut kesadaran hamba untuk senantiasa mengevaluasi niat dan respons setiap kali menghadapi musibah. Ketika ujian datang—baik berupa kehilangan harta, fitnah nama baik, maupun godaan maksiat—seorang mukmin yang meneladani Yusuf akan langsung mengembalikan urusannya kepada Allah, menjaga lisannya dari keluh kesah yang berlebihan, dan tetap fokus menjalankan amanah dengan standar moral tertinggi.

Jadi, kesabaran Nabi Yusuf Alaihissalam adalah bentuk kesabaran multidimensi yang mencakup keteguhan menghadapi kezaliman keluarga. Dia mengaktualisasikan penjagaan kesucian dari godaan lawan jenis, ketabahan di dalam penjara, hingga kemampuan mengendalikan diri dari nafsu balas dendam saat memegang kekuasaan tertinggi. Didukung oleh ayat-ayat suci Al-Qur’an, hadis Nabi SAW, serta pandangan para ulama besar, kisah ini membuktikan bahwa kesabaran yang berpadu dengan sifat ihsan selalu berbuah manis berupa kemuliaan dunia dan akhirat. Dengan meneladani akhlak mulia Nabi Yusuf, hamba dapat melatih diri menjadi pribadi yang tangguh, pemaaf, dan senantiasa berada dalam ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala. Semoga tulisan sederhana ini bermanfaat. Terimakasih!

Padang, 13 Oktober 2026

Disarikan dari berbagai sumber dan diformulasikan dengan pengalaman pribadi yang tengah belajar dan berlatih untuk sabar dan bebuat ihsan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *