Oleh Zulkarnaini Diran

Dr. Caroline Meis (2002) menulis, “Penghargaan terhadap diri sendiri kadangkala menjadi penyebab utama kesengsaraan atau kebahagiaan seseorang.” Penghargaan terhadap diri sendiri berhubungan dengan perasaan. Apakah perasaan ia menerima diri sendiri atau tidak. Jika perasaan menghargai diri, maka harga diri akan muncul, begitu sebaliknya. Dikatakan oleh Dr. Nathan Brandon (2000), “Penghargaan terhadap diri sendiri yang lemah adalah faktor utama di balik masalah kecanduan dan perilaku negatif.” Terus faktor apa saja yang membuat seseorang kurang menghargai diri sendiri?
Banyak faktor yang menyebabkan orang tidak menghargai diri sendiri. Faktor yang paling dominan adalah tidak merasakan cinta dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Dr. Ibrahim Elfiky (2011) mengatakan, “Ketika sudah merasa tidak dicintai, seseorang akan kehilangan kesemibnangan mental. Selanjutnya, ia mencari sesuatu yang lain sebagai pengganti cinta yang hilang itu.” Sesuatu yang lain itu, bisa jadi mencari kompensasi kepada hal-hal negatif. Inil sangat berbahaya, bukan hanya berbahaya untuk dirinya, bisa juga untuk orang lain, dan lingkungan skitarnya.
Penghargaan terhadap diri sendiri memiliki tiga fondasi. Ketiga fondasi itu adalah menerima diri sendiri, harga diri, dan mencintai diri sendiri. Menerima diri sendiri adalah menerima diri apa adanya. Hal itu berlaku untuk kondisi jasmani dan rohani. Bersyukur atas kondisi diri dalam keadaan kini adalah hal penting yang perlu diamalkan. Dengan bersyukur atas kondisi diri, akan muncul harga diri di dalam pikiran. Pikiran akan bekerja, bahwa aku adalah aku yang memiliki martabat seperti aku-aku yang lain. Dari situ pula muncul perasaan mencintai diri sendiri sebagai karunia paling berharga yang diberikan Allah SWT.
Dalam psikologi modern, self-esteem (harga diri) bukan sekadar bentuk narsisme atau kebanggaan kosong. Ia merupakan evaluasi objektif dan subjektif seseorang terhadap nilai dirinya sendiri. Al-Quran jauh sebelumnya telah menegaskan kemuliaan asal-kejadian manusia melalui firman-Nya, “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS Al-Isra [17]: 70) Allah SWT menyatakan bahwa Dia telah memuliakan anak-anak Adam dan mengutamakan mereka atas banyak makhluk yang diciptakan-Nya. Pemahaman teologis ini menjadi fondasi awal bahwa setiap manusia memiliki martabat bawaan yang tidak boleh diinjak-injak, bahkan oleh diri sendiri.
Pikiran dan harga diri terjalin dalam lingkaran sebab-akibat yang sangat erat. Ketika seseorang berpikir negatif tentang fisiknya, kecerdasannya, atau pencapaian hidupnya, emosi penolakan diri akan mendominasi. Pakar psikologi kognitif sering kali menekankan bahwa distorsi kognitif—seperti pikiran bahwa diri ini tidak berguna—adalah racun utama bagi jiwa. Dalam Islam, keputusasaan dan ketidakpuasan ekstrem terhadap takdir diri sendiri dicela, sebagaimana firman Allah, “…. Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS Yusuf [12]: 87). Ayat inimengingatkan agar kita tidak berputus asa dari rahmat Allah, karena sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir (sesat).
Sebagaimana disitir dari pendapat Dr. Ibrahim Elfiky dalam teks asli, ketiadaan cinta dan kasih sayang di lingkungan terdekat (keluarga dan sosial) dapat meruntuhkan keseimbangan mental seseorang. Secara psikologis, manusia adalah makhluk sosial yang membutuhkan validasi afektif untuk merasa aman secara emosional. Ketika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi di masa pertumbuhan, individu sering kali mengalami kekosongan eksistensial. Kekosongan inilah yang kemudian mendorong mereka mencari pelarian destruktif, mulai dari penyalahgunaan obat-obat terlarang, perilaku adiktif, hingga pelampiasan amarah kepada lingkungan sekitar sebagai bentuk kompensasi semu.
Ketika seseorang kehilangan arah akibat rendahnya harga diri dan minimnya cinta, ia rentan terjerumus ke dalam lingkaran setan perilaku negatif. Teolog dan psikolog sepakat bahwa pelarian yang keliru—seperti mencari pengakuan melalui kelompok kriminal, kebiasaan merusak diri, atau kekerasan—merupakan manifestasi dari rasa tidak berharga yang bermanifestasi menjadi kemarahan terhadap dunia. Rasulullah SAW pernah mengingatkan dalam sebuah hadis sahih tentang pentingnya menjaga diri dan lingkungan dari bahaya kemudaratan, di mana beliau bersabda bahwa tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh pula membahayakan orang lain (H.R. Ibnu Majah dan Ahmad).
Fondasi pertama dari harga diri yang sehat adalah kemampuan menerima diri sendiri (self-acceptance). Ini berarti berdamai dengan segala kelebihan dan kekurangan fisik maupun psikis yang dimiliki. Psikolog humanistik seperti Carl Rogers menyatakan bahwa pertumbuhan psikologis yang sehat hanya dapat dimulai ketika seseorang berhenti berpura-pura dan mulai menerima realitas dirinya apa adanya. Dalam perspektif Islam, penerimaan ini diwujudkan melalui ketundukan yang tulus terhadap takdir penciptaan Allah SWT, menyadari bahwa setiap bentuk fisik dan kapasitas akal yang diberikan adalah bentuk rancangan terbaik dari Sang Maha Pencipta.
Harga diri yang kokoh tumbuh ketika seseorang menyadari bahwa dirinya memiliki nilai intrinsik yang setara di hadapan Allah, terlepas dari status sosial atau penciptaan fisiknya. Al-Quran menegaskan, “…. sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS Surah At-Tin[82]: 4) Ayat ini menjadi landasan psikologis yang kuat bahwa tidak ada alasan bagi seseorang untuk merendahkan martabat dirinya sendiri. Kesadaran ini melahirkan sikap tegas, percaya diri yang sehat, serta ketahanan mental dalam menghadapi tekanan hidup tanpa harus merasa inferior di hadapan orang lain.
Mencintai diri sendiri bukanlah bentuk keegoisan, melainkan bentuk syukur atas amanah terbesar yang dititipkan oleh Allah SWT, yaitu jiwa dan raga kita. Psikolog kontemporer sering mendefinisikan self-love sebagai tindakan merawat kesehatan mental, emosional, dan fisik secara seimbang. Dalam ajaran Islam, tubuh dan akal adalah titipan (amanah) yang harus dijaga dengan baik. Merusak diri, baik secara perlahan melalui gaya hidup tidak sehat maupun secara psikologis melalui kebencian pada diri sendiri, bertentangan dengan prinsip penjagaan diri (hifzhun nafs) yang merupakan salah satu tujuan utama syariat Islam (maqashid syariah).
Kunci transisi dari rendah diri menuju harga diri yang matang adalah rasa syukur. Psikologi positif modern kini banyak meneliti bagaimana praktik gratitude (syukur) mampu merealisasikan neuroplastisitas otak untuk berpikir lebih positif, meredakan kecemasan, dan meningkatkan kepuasan hidup. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik… Jika ia mendapat kesusahan ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” (HR Muslim). Sikap sabar dan syukur ini menyelamatkan pikiran dari jerat penyesalan masa lalu dan kecemasan masa depan.
Ketika pikiran, emosi, dan spiritualitas diselaraskan melalui penerimaan, harga diri, dan cinta kasih, individu akan mencapai apa yang disebut oleh para psikolog sebagai aktualisasi diri yang sehat. Teolog Muslim klasik seperti Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin telah mengupas panjang lebar tentang pentingnya menyucikan hati (tazkiyatun nafs) dari penyakit-penyakit batin seperti ujub (sombong) maupun da’il ju’ (rasa rendah diri yang destruktif). Hati yang bersih dari kebencian pada diri sendiri akan memancarkan ketenangan jiwa (muthmainnah) yang mampu membawa pemiliknya pada kedamaian hidup di dunia dan akhirat.
Jadi, penghargaan terhadap diri sendiri (self-esteem) adalah poros sentral yang menentukan arah kebahagiaan atau kesengsaraan hidup seseorang. Dengan membangun tiga fondasi utama—yakni menerima diri apa adanya, menegakkan harga diri yang bermartabat, dan mencintai diri sebagai karunia Ilahi—seseorang dapat terhindar dari lingkaran kecanduan dan perilaku negatif. Didukung oleh bimbingan spiritual Al-Quran dan Hadis serta pendekatan ilmiah psikologi modern, merawat pikiran dan harga diri adalah langkah nyata menuju manusia yang seimbang, tangguh, dan bermartabat di hadapan sesama manusia maupun di hadapan Allah SWT.
Padang, 28 Oktober 2026
Disarikan dari berbagai sumber dan dikaitkan dengan pengalaman sehari-hari dalam kehidupan nyata serta hasil simakan terhadap kondisi-kondisi kehidupan sosial sekitar.