(iman, ilmu, amal, ikhlas, dan akhlak)
Oleh Zulkarnaini Diran

Allah menciptakan manusia hanya untuk satu alasan. Alasannya adalah untuk “beribadah” kepada-Nya. “Tidak Aku jadikan jin dan manusia, melainkan untuk berbiadah kepada-Ku” (QS Az-Zariyat [51]: 56) Ibadah itu ada dua macam yakni mahdah dan ghairu mahdah. Usul fiqih menegaskan, ibadah mahdah adalah ibadah yang “jangan dilakukan, kecuali ada perintah”. Ibadah ghairu mahdah adalah ibadah “lakukan, kecuali ada larangan”. Untuk melaksanakan kedua ibadah itu perlu modal. Modal dasarnya adalah iman, ilmu, amal, ikhlas, dan akhlak.
Iman adalah membenarkan hal yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Kristalisasinya ada di dalam rukun iman. Ilmu adalah seperangkat pengetahuan yang bersumber dari dalil sahiah yakni Al-Quran, Sunnah, Ijmak, dan Qias. Amal adalah semua perbuatan yang yang bermanfaat untuk diri dan orang lain, diniatkan karena Allah, dilaksanakan berdasarkan ilmu, tidak menyelsihi Quran dan Sunnah. Ikhlas adalah ketulusan melakukan amal yang semata-mata hanya karena Allah, bukan karena yang lain. Sementara akhlak adalah tatanan, aturan, kaidah yang meekat pada perilaku dalam melaksanakan ibadah.
Aktualisasi dari ibadah adalah amal saleh. Amal saleh merupakan perbuatan baik dan benar, dilakukan berlandaskan iman, berpedoman kepada ilmu, didorong oleh ikhas karena Allah SWT, dan dipraktikkan dengan akhlak yang mulia. Banayak ayat di dalam Al-Quran dan didukung oleh hadis Rasululullah SAW yang menekankan amal salah dan segala keutamaannya. Selain itu, amal saleh merupakan wujud pengabdian kepada Allah yang balasannya dijanjikan oleh Allah di dunia dan akhirat. Selain itu, kata amal saleh selalu disederetkan dengan iman. Hal itu mendandakan iman adalah landasan utamanya. Tidak ada amal saleh kalau bukan berangkat dari iman.
Allah SWT berfirman:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةً ۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ٩٧
Artinya: “Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS An-Nahl [16]: 97)
Ayat ini menegaskan, amal saleh yang dilakukan oleh orang beriman laki-laki atau perempuan akan dibalasi oleh Allah dengan dua balasan. Kedua balasan itu adalah kehidupan yang baik atau menyenangkan dan pahala yang lebih baik dari amal saleh yang dikerjakan. Kehidupan yang baik, insyaallah diperlihatkan Allah di dunia. Pahala yang lebih baik akan diberikan oleh Allah di akhirat kelak sesuai dengan janji-Nya. Itu artinya, setiap amal saleh, perbuatan baik, hasilnya akan kembali kepada kita. Bukan kepada orang lain.
Allah SWT berfirman, “
اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا ۗ
Artinya: “Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. …” (QS Al-Isra’ [17]: 7)
Allah memfasilitasi hamba-Nya untuk bermala saleh. Fasilitas pertama dan utama yang disediakan Allah SWT adalah ruang (tempat), waktu, dan kesempatan. Semua mahkluknya, khususnya manusia, disediakan fasilitas utama itu. Banyak ayat Al-Quran yang berbicara tentang tempat yang tersedia di muka bumi ini. Kemudian tidak sedikit pula kalam Allah membahas waktu yang tersedia serta kesempatan yang terbuka. Sebagai hamba Allah yang menyadari bahwa kita hadir di bumi ini hanyalah untuk “beribadah” kepadanya, tentu tinggal mengugnakan atau memanfaatkan fasilitas itu. Tentu pula, jika fasilitas tidak digunakan, hamba akan menyesal di kemudian hari.
Jadi, sebagai wujud ibadah kita kepada Allah SWT adalah melakukan amal saleh. Ibadah itu sendiri memiliki lima pilar utama yakni iman, ilmu, amal, Ikhlas, dan akhlak. Belumlah sempurna pengabdian atau wujud ibadah kepada Allah, manakala leima hal itu itu belum berjalan selaras, seirama, dan senada. Insyaallah, sampai hayat kita, sampai Allah memanggil, kita berupaya menerapkan ibadah yang berlandaskan lima hal itu dalam kehidupan kita sehari-hari. Semoga bermanfaat.
Padang, 29 Oktober 2026
*) intisari ceramah Subuh Mubarakah, 30 Oktober 2026 di Masjid Al-Ukhuwah, Zainal Bakar, Padang